Home Pemantauan Media Online Media Online: Kekerasan terhadap Ahmadiyah dan Klub Taat Istri

Media Online: Kekerasan terhadap Ahmadiyah dan Klub Taat Istri

4 min read
0
0
397

Oleh: Tim Sejuk

Kekerasan terehadap anggota Jemaat Ahmadiyah dan pendirian Klub Taat Istri menjadi tema yang menjadi perhatian media-media online bulan Juni. Keberpihakan pada korban dan keberagaman belum tergambar kuat.

Kekerasan pada anggota JAI terjadi di Sulawesi Selatan dan Jawa Barat. Di Makassar, kekerasan dilakukan oleh anggota Front Pembela Islam (FPI) (Detik.com 18/6). Dalam penyerangan terhadap anggota JAI ini, terjadi bentrok antara anggota FPI and anggota Pemuda Pancasila (PP).

Tidak terima anggotanya dianiaya FPI, anggota PP menyerbu markas FPi (Detik.com, 19/6). Hari yang sama Tribunnews.com melaporkan “Massa Pemuda Pancasila (PP) Makassar nyaris bentrok dengan massa Front Pembela Islam (FPI) Sulsel di Jalan Sungai Limboto”. Bentrokan kedua organisasi ini akhirnya berakhir dengan damai. Namun, desakan terhadap Jemaat Ahmadiyah semakin membesar.

Tribunnews (16/7) menulis “FPI Tahu Tempat Sembunyi Jamaat Ahmadiyah”. Dalam berita ini, media seakan memberi label negatif terhadap JAI, dengan menggunakan kata “sembunyi”. Dalam lead beritanya, media ini menulis “Front Pembela Islam (FPI) Sulsel mengetahui tempat penyembunyian Jamaat Ahmadiyah Sulsel. Sejumlah anggota FPI kemudian siaga di tempat yang masih dirahasiakan untuk wartawan itu. “Kami sudah dapat tempat persembunyian..”.

Desakan pembubaran JAI membesar. Tribunnews (16/6) menulis “Syahrul Segera Keluarkan Pergub Larang Ahmadiyah”. Media ini menulis: “Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan (Sulsel) segera mengeluarkan peraturan gubernur (pergub) mengenai larangan aktivitas Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI). Dengan keluarnya pergub tersebut dipastikan Ahmadiyah”

Namun desakan pembubaran JAI di Makassar ini tidak ditanggapi pemprov Sulsel. Vivanews (17/6) menulis berita dengan judul “Gubernur Sulsel Tolak Perda untuk Ahmadiyah”. Media ini mengutip Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo “Kita kumpul dulu untuk bicara baiknya.”

Bulan Juni ini juga ditandai dengan sidang pertama anggota JAI, Deden Sujana. Detik.com (8/6) menulis “Deden Sujana, Terdakwa Kasus Cikeusik Diancam 6 Tahun Penjara.” Media ini menulis:Tim pengacara yang mendampingi Deden mengungkapkan kliennya hanya menjadi korban kriminalisasi. Pengacara menilai Deden tidak melakukan pidana.

“Kami memandang tidak ada peristiwa pidana yang dilakukan oleh Deden. Menahan, mendakwa, menghadapkan yang bersangkutan ke pengadilan jelas-jelas kriminalisasi dan viktimisasi,” kata pengacara Deden, Nurkholis Hidayat, dalam selebaran yang dibagikan di pengadilan.
Dari Jawa Barat Tribunnews melaporkan “Gubernur Jabar: 1.000 Pemeluk Ahmadiyah Kembali ke Islam”. Media ini menulis: Ceramahnya pada acara peringatan Isra Mi’raj, Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, mengatakan, hingga sekarang, lebih dari 1.000 pemeluk Ahmadiyah di Jawa Barat telah kembali pada ajaran Islam”.

Bulan ini juga media-media memberitakan pembentukan organisasi Klub Taat Istri. Detik.com (18/6) menulis berita dengan judul “10 Warga Bandung Hadiri Peluncuran Klub Istri Taat Suami”. Media ini menulis “Sedikitnya 10 warga Kota Bandung yang merupakan perwakilan Global Ikhwan Jawa 2 bakal menghadiri acara deklarasi Klub Istri Taat Suami. Sebagian dari mereka sudah berada di Jakarta sejak kemarin.

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Online

Leave a Reply

Check Also

Seksualitas, Politik dan Gerakan Perempuan Islam Indonesia

Dokomentasi: Thowik SEJUK (17/1/2018) Buku berjudul “Potret Gerakan Perempuan Muslim Progr…