Home Berita Mahasiswa Tolak Pengekangan Pers Kampus

Mahasiswa Tolak Pengekangan Pers Kampus

4 min read
0
0
371

Mahasiswa Tolak Pengekangan Pers Kampus
Sejumlah mahahsiswa dari berbagai organisasi kampus dan lembaga pers kampus menggelar aksi unjuk rasa di jalur tol Reformasi Makassar, Rabu (26/6). TEMPO/Iqbal Lubis

TEMPO.CO Semarang:Kebebasan pers ternyata tidak terjadi di kalangan kampus. Beberapa lembaga pers mahasiswa dikabarkan mendapat kekangan dari pihak rektorat masing-masing.

Devy Firman Al Hakim, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI), menyatakan banyak sekali kasus pembungkaman yang dialami pers mahasiswa dibawah tekanan rektorat.

“Padahal, pers mahasiswa ini berpotensi menjadi pers alternatif di tengah banyaknya media-media umum yang banyak memiliki kepentingan politik dan ekonomi,” katanya di sela-sela unjuk rasa menuntut jaminan kebebasan pers mahasiswa di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu 25 September 2013.

Devy menyatakan ada beberapa kasus yang dialami pers kampus. Di Aceh, kampus Unigha melakukan pencekalan terhadap  Lembaga Penerbitan Mahasiswa (LPM) Pijar karena memberitakan kasus korupsi. Di Sulawesi Selatan ada LPM Estetika Universitas Negeri Makasar yang dicekal rektornya. LPM Watak dicekal rektorat STIM Bongaya karena dituduh mempropaganda mahasiswa saat pelatihan.

 

Di Malang, LPM SIAR dilarang mendirikan unit kegiatan pers kampus di Universitas Negeri Malang. LPM Kertha Aksara Fakultas Hukum Udayana Bali dihambat pendanaannya karena dianggap memprovokasi mahasiswa Bali untuk menolak reklamasi pantai di Bali. Kasus terbaru, Wahyu Dwi Pranata,seorang mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro Semarang dipaksa keluar karena menulis di blog berisi kritikan terhadap kampusnya.

Devy mendesak kepada Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai badan tertinggi yang menaungi universitas di Indonesia menegur secara langsung rektorat yang mengekang kebebasan pers kampus. Selain itu, PPMI mengajak pimpinan kampus untuk bijak jika ada sengketa pemberitaan dengan cara hak tanya, hak jawab dan klarifikasi terlebih dulu sebelum menentukan tindakan atau hukuman.

Dalam unjuk rasa untuk mengecam kasus yang dialami Wahyu, para aktivis LPM kampus di Semarang membawa berbagai poster. Sebagai simbol adanya pengekangan, mereka menutup mulutnya dengan lakban.

Para aktivis pers kampus ingin bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Tapi keinginan itu gagal karena sang gubernur tengah menemui banyak tamu di kantornya. Para aktivis ditemui Supriyono, pejabat biro Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah. “Aspirasi Anda akan kami sampaikan ke pimpinan,” kata Supriyono.

Para aktivis pers kampus memberikan tenggat waktu dua hari kepada Ganjar untuk mengeluarkan sikap.

 

ROFIUDDIN

Sumber:

http://www.tempo.co/read/news/2013/09/26/079516703/Mahasiswa-Tolak-Pengekangan-Pers-Kampus

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Seksualitas, Politik dan Gerakan Perempuan Islam Indonesia

Dokomentasi: Thowik SEJUK (17/1/2018) Buku berjudul “Potret Gerakan Perempuan Muslim Progr…