Home Kolom Politik belah bambu nodai keberagaman

Politik belah bambu nodai keberagaman

13 min read
4
0
784

 

0wrs6u7qyD“Setelah terbit Undang-undang Adminduk, kami sadar bahwa negara telah mengadu-domba warganya melalui politik belah bambu: (kelompok) yang satu diangkat, sementara yang lain diinjak.”

Demikian Dewi Kanti dari Sunda Wiwitan dalam perhelatan Dengar Kesaksian: “Bicara Kebenaran, Memutus Rantai Kekerasan” yang digelar oleh Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran (KKPK) di Perpustakaan Nasional, Jakarta (27/11). Kegiatan yang memperdengarkan kesaksian korban-korban kekerasan dalam lima cakupan isu tersebut, berlangsung mulai 25 – 29 November 2013. Kesaksian Dewi Kanti adalah salah satu dari rangkaian dengar kesaksian dalam lingkup tema: Kekerasan Berbasis Ideologi dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan.

Dewi Kanti mengungkapkan bahwa Undang-undang Administrasi Kependudukan (Adminduk) bukanlah awal dari laku diskriminatif oleh pemerintah terhadap masyarakat Sunda Wiwitan. Sejak tahun 60-an, rezim Orde Baru menolak mengakui kepercayaan yang oleh Belanda dikenai nama Agama Djawa Sunda (ADS) ini. Perlakuan diskriminatif rezim tersebut lantas mendorong masyarakat Sunda Wiwitan untuk: “berteduh di bawah naungan cemara putih,” menjadi bagian dari agama Kristen atau Katolik.

“Jika tidak mengambil langkah tersebut, mungkin nasib kami akan sama dengan ibu-ibu (korban kejahatan ’65, red) yang ditangkap dan disiksa secara kejam,” ungkap Dewi.

Sungguh ironis, masyarakat Sunda Wiwitan yang merupakan warisan asli bangsa Indonesia, harus menyamarkan identitasnya dan lantas mengikatkan diri pada agama import (enam agama “resmi”) demi mendapat pengakuan negara. Dan ketika berupaya melepaskan diri untuk kembali pada identitas sejatinya, berbagai perlakuan diskriminatif dan stigma yang demikian jahat harus mereka terima.

Bergulirnya SK No. 44 Tahun 1982 tentang Larangan Perayaan Seren Taun yang dikeluarkan Kejaksaan Tinggi Provinsi Jawa Barat, memberi dampak yang sangat merugikan bagi masyarakat Sunda Wiwitan. Kekerasan psikologis kerap dialami oleh anak-anak mereka setelah peraturan diskriminatif tersebut. Dewi mengingat bagaimana anak-anak didera pilu saat kepala sekolah mereka pada setiap upacara mengumumkan larangan bagi anak-anak lain untuk mendekati Paseban yang menjadi tempat tinggal warga Sunda Wiwitan. Dengan demikian, nampak jelas bagaimana upaya pemisahan anak-anak Sunda Wiwitan dari teman-teman di sekolahnya. Dampak yang tak kalah merugikan adalah bagaimana peraturan tersebut mempengaruhi mata pencaharian masyarakat Sunda Wiwitan yang lantas menyerah dalam bidang pertanian: “Untuk apa kami menjadi petani jika tradisi kami dibungkam?,” Dewi mengungkapkan keluhan masyarakatnya.

Pasca Reformasi diskriminasi terhadap masyarakat Sunda Wiwitan tak lekas berhenti, malah berlangsung tiada ampun. Pelaksanaan UU No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan menjadi hambatan yang sangat besar. Karena undang-undang tersebut warga Sunda Wiwitan tak bisa memiliki e-KTP (lihat Pernyataan Sikap Komnas Perempuan di http://sejuk.org/2013/11/27/komnas-perempuan-uu-adminduk-tahun-2006-diskriminatif/). Akibatnya, tentu saja, mereka tak bisa mengakses berbagai sarana publik yang menjadi hak mereka sebagai warga negara Indonesia. Mereka juga kesulitan mendaftarkan pernikahannya. Yang paling ironis adalah ketika seorang anak lahir, di dalam akte kelahirannya hanya tercantum nama ibu, tanpa ayah. Menurut pengakuan Dewi, bahkan seorang ayah diharuskan menulis surat pernyataan bahwa anak yang lahir tersebut adalah anak angkat, bukan anak kandungnya. Juga karena soal catatan pernikahan yang demikian dipersulit itu, semua laki-laki dewasa yang sudah menikah dianggap belum menikah, dan karenanya ketika bekerja mereka tak mendapatkan tunjangan keluarga.

Begitu banyak diskriminasi yang dilekatkan pada masyarakat Sunda Wiwitan, yang juga menimpa masyarakat penganut kepercayaan lainnya di Indonesia. Nia Sjarifudin dari Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) menyesalkan diskriminasi yang begitu jelas dilakukan pemerintah, terutama terhadap masyarakat penghayat. Menurut Nia, sungguh ironis fakta yang terlihat di negara ini, di mana agama-agama pendatang (enam agama yang dianggap resmi oleh negara) ditempatkan di ruang terang benderang, di bawah naungan Kementerian Agama dengan berbagai keistimewaan dan kemudahan untuk para pemeluknya. Sementara aliran-aliran kepercayaan atau penghayat kebathinan, yang merupakan tuan rumah di negara ini, justru ditempatkan di kamar paling gelap, di bawah naungan kementerian yang berbeda-beda.

Nia juga memberi kritik keras terhadap tokoh-tokoh negara yang begitu mudah mengeluarkan pernyataan-pernyataan diskriminatif, bahkan sampai menjatuhkan klaim sesat terhadap kelompok tertentu di masyarakat. Meski demikian, ada sedikit optimisme yang bisa dibangun melalui langkah yang pernah diambil oleh almarhum gubernur Bangka Belitung yang dengan tegas menolak pengharaman dan pelarangan atas Jemaat Ahmadiyah. Langkah tersebut semestinya bisa menjadi inspirasi bagi para pemimpin baik di pusat maupun daerah.

Nia kemudian menutup pembicaraannya dengan mengajukan lima hal yang harus segera diupayakan oleh pemerintah mulai saat ini, yakni:

  1. Tak ada pemisahan antara kelompok penghayat dengan enam agama yang diakui negara, dalam hal pengelolaan oleh negara. Ini bisa dilakukan dengan menghapus keberadaan kementerian agama, atau paling tidak menggantinya menjadi kementerian agama dan kepercayaan.
  2. Negara benar-benar menjamin dan melindungi kebebasan masyarakat dalam memilih agama dan kepercayaannya.
  3. Hapus kolom agama dalam KTP
  4. Memaksimalkan upaya pemulihan korban kekerasan atas nama agama, di antaranya adalah pemulihan Jemaat Ahmadiyah di Transito dan Syiah di Sampang.
  5. Menata kembali kurikulum pendidikan di Indonesia. Nia mengoreksi kurikulum 2013 yang cenderung ingin memperbanyak pelajaran agama di sekolah. Menurut Nia, bukan pelajaran agama yang perlu diperbanyak, melainkan pelajaran budi pekerti, bagaimana ana-anak dididik untuk memiliki karakter yang kuat, toleran dan menghormati segala bentuk perbedaan.

 

Dengar kesaksian insiatif KKPK ini merupakan sebuah upaya untuk menolak lupa serta menggaungkan suara-suara korban pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Pada hari ketiga tersebut, ada empat kesaksian yang masing-masing diberikan oleh perwakilan dari Sunda Wiwitan, korban peristiwa ’65, korban peristiwa Tanjung Priok, korban peristiwa Talangsari dan terakhir perwakilan dari korban kekerasan terhadap jemaat Ahmadiyah di Transito.

Mujayin, korban peristiwa ’65 yang diasingkan ke Pulau Buru dan dikenai kerja paksa selama bertahun-tahun, berharap agar kesaksiannya melalui forum ini bisa mendesak pemerintah untuk meminta maaf dan mengakui terjadinya pembunuhan masal dalam lingkup peristiwa ’65. Ia juga menuntut pemerintah melakukan investigasi serius serta menangkap para pelaku yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Di samping itu, perlu ada upaya serius dari pemerintah dalam melakukan rehabilitasi, jaminan dan kompensasi serta penghapusan aturan-aturan yang diskriminatif bagi para korban. Mujayin menegaskan bahwa masalah utama dari peliknya kasus ini adalah ketegasan seorang presiden. Terutama menyangkut peraturan diskriminatif, tegas Mujayin, sudah menjadi tugas presiden untuk bersikap tegas melalui hak preogratifnya untuk menghapus berbagai aturan diskriminatif terhadap para korban kasus ’65.

Adapun kesaksian yang diutarakan korban peristiwa Tanjung Priok, memperlihatkan kepada forum betapa kentalnya manipulasi yang terjadi selama proses pengadilan kasus tersebut. Karenanya, ia berharap ada pengadilan-ulang yang benar-benar adil, tanpa kerjasama pihak-pihak yang ingin menghilangkan jejak dosanya di masa silam. Pemerintah juga tentu harus memberikan kompensasi terhadap para korban yang selama 20 tahun ini telah kehilangan mata pencahariannya akibat stigma negatif yang membuat mereka sukar mendapatkan pekerjaan.

Sementara Azwar, korban kekerasan Talangsari yang kehilangan anaknya dalam peristiwa tersebut, juga menyayangkan sikap lamban pemerintah dalam menyelidiki kasus ini. Ia bahkan pernah bertemu Presiden SBY yang lantas menjanjikan untuk mengirim tim khusus ke kampungnya guna melakukan investigasi dan perbaikan kampung, tetapi sudah lewat empat tahun janji tersebut tak pernah dipenuhi. Karenanya, ”mudah-mudahan dengan gerakan kita bersama ini, hati pemerintah bisa terbuka,” demikian harapan Azwar saat menutup kesaksiannya.

Kesaksian terakhir dari Nasrudin yang menjadi korban kekerasan atas nama agama terhadap jemaat Ahmadiyah di Lombok. Hingga kini jemaat Ahmadiyah masih mengungsi di Transito dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Sebagaimana masyarakat Sunda Wiwitan, jemaat Ahmadiyah di Tansito juga mengalami banyak diskriminasi: tidak memperoleh e-KTP, nihilnya akses terhadap jaminan kesehatan dan jaminan-jaminan lainnya, mendapat stigma negatif, trauma sebab berbagai penyerangan yang pernah terjadi, dan aset-aset kepemilikan mereka yang lenyap atau dirampas.

Maka dari itu, Nasrudin berharap agar forum ini bisa mendesak pemerintah untuk melakukan tugasnya dalam mengembalikan hak-hak jemaat Ahmadiyah yang telah direnggut hingga kini. Dan tentu saja, penghapusan SKB Tiga Menteri merupakan langkah yang mesti segera diputuskan oleh pemerintah. [Evi/Sejuk]

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Kolom

4 Comments

  1. Sandi Kaladia

    14/12/2013 at 16:02

    JAMAN BARU DATANG UNTUK MEMBUKA TABIR
    KONSEPSI WIWITAN YANG TAK LAIN ADALAH
    KONSEPSI SANGKAN PARANING DUMADI.

    Apa kata Mandalajati Niskala?

    Mandalajati Niskala menuturkan:
    Berbicara KONSEPSI WIWITAN tak lain
    adalah berbicara KONSEPSI PRIMA CAUSA atau
    KONSEPSI JAWAHAR AWAL & JAWAHAR AKHIR.

    JAWAHAR AWAL disebut “TATANAN WIWITAN”, yaitu
    SUNA + DA = SUNDA atau Tatanan Bumian.
    JAWAHAR AKHIR disebut “TATANAN TAMATAN”, yaitu
    SUNA + H = SUNAH atau Tatanan Langitan.

    Catatan :
    Suna = Tatanan
    Da/D = Bumian
    Ha/H = Langitan

    Sunda adalah SISTEM FITRAH BUMIAN
    disebut “FEMINIM SYSTEM”.
    Sunah adalah SISTEM FITRAH LANGITAN
    DISEBUT “MASKULIN SYSTEM”.
    Keduanya merupakan SISTEM FITRAH IBU & BAPA,
    atau WIWITAN & TAMATAN yang satu sama lain
    harus mengikat & “TIDAK BOLEH BERCERAI”
    Ikatannya sendiri adalah IKATAN
    SISTEM KESELAMATAN, yang secara bahasa
    disebut “SISTEM ISLAM”.
    Sunda adalah SISTEM ISLAM BUMIAN.
    Sunah adalah SISTEM ISLAM LANGITAN.
    Sunda adalah SISTEM KEIBUAN.
    Sunah adalah SISTEM KEBAPAAN.
    Hindarkan EGO SUNDA & hindarkan EGO SUNAH, sbb
    keduanya merupakan FITRAH YG HARUS BERSATU.
    Demikian kata Mandalajati Niskala.

    Jika demikian menurut saya (Sandi Kaladia)
    untuk kata SUNDA, kata SUNAH, kata ISLAM,
    maupun kata WIWITAN jangan memakai LEBEL
    AGAMA atau LEBEL KEPERCAYAAN, sbb ITU
    SEMUA ADALAH HAL-HAL YANG FITRAH.

    Selanjutnya MANDALAJATI NISKALA dlm penggalian
    memasuki Ruang Insun, telah Melahirkan
    Konsepsi SANGKAN PARANING DUMADI
    yg Fitrah, Original & ditemukan Sangat Anyar.
    KONSEPSI TERSEBUT BETUL BETUL BEGITU
    SEDERHANA, NAMUN SANGAT MENYERUAK
    DI KEDALAMAN YANG TANPA BATAS, sbb:

    1♥Barang siapa yang memahami NAFAS~nya,
    akan memahami rahasia HU~DA~RA~nya.
    (HU~DA~RA adalah Whitehole berupa potensi
    JAWAHAR AWAL, yang menjadi sistem
    TRI TANGTU DI BUWANA, dan jadilah ketentuan
    Tuhan SEGALA MACAM KEJADIAN
    SECARA SISTEMIK TERMASUK MANUSIA)

    2♥Barang siapa yang memahami HU~DA~RA~nya,
    akan memahami potensi HI~DI~RI~nya.
    (Potensi HI~DI~RI meliputi:
    HI adalah alam Subconcious
    DI adalam alam Concious
    RI adalah alam HIperconcious)

    3♥Barang siapa yang memahami HI~DI~RI~nya,
    akan memahami satuan terkecil DI~RI~nya.
    (Tribaka, Panca Azasi Wujud &
    Panca Maha Buta)

    4♥Barang siapa yang memahami DIRI~nya,
    akan memahami HI~DIR~nya.
    (Kesadaran Semesta = Kesadaran Manunggal)

    5♥Barang siapa yang memahami HI~DIR~nya,
    akan memahami satuan terkecil ATMA~nya.
    (Kehidupan JAWAHAR AKHIR yang mengendap
    pada Tribaka)

    6♥Barang siapa yang memahami ATMA~nya,
    akan memahami TAMAT~nya.
    (Reaktor Nuklir dari akumulasi satu
    Oktiliun Tribaka pada tubuh manusia,
    yang segera memasuki Blackhole
    untuk keluar dari Jagat Raya
    dan meledak menjadi Bigbang,
    di ruang hampa, gelap gulita,
    bertekanan minus)

    7♥Barang siapa yang memahami TAMAT~nya,
    akan memahami WIWIT~nya.
    (Ledakan Bigbang membentuk Whitehole
    yaitu berupa potensi Jawahar Awal
    di Jagat Raya Baru)

    (Peringatan dari Mandalajati Niskala:
    “JIKA ANDA SULIT UNTUK MEMAHAMI,
    LEBIH BAIK ABAIKAN SAJA. TERIMA KASIH)
    ════════════════════════════
    Mandalajati NIskala membuka sebuah tabir
    PINTU JAWAHAR AWAL
    KE PINTU JAWAHAR AKHIR

    Manusia pada hakekatnya bagian dari Tuhannya.
    Seluruh isi semesta “BERENANG-RENANG” TENGGELAM
    di dalam TUBUH TUHAN SANG MAHA BESAR.
    (Zibghotulloh).

    Sagala sesuatu termasuk Manusa MANUNGGAL
    di dalam TUBUH TUHAN SANG MAHA BESAR.
    (Sapanunggalan).

    TUHAN SANG MAHA BESAR, sekaligus juga
    Sang MAHA KECIL memiliki
    TIGA ENERGI PRIMER (Tri Tangtu Di Buwana),
    yang “gumulung” jadi tunggal, dari lingkup
    SANG MAHA BESAR sampai pada lingkup SANG MAHA KECIL
    disebut; JAWAHARA HAWAL WAL HAKHIR (JHWH), berupa:
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA BENING♥
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA BENING♥
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA BENING♥

    SANG MAHA BESAR / AGUNG
    adalah “JHWH” dalam CAKUPAN ALAM MAKRO,
    yaitu ZAT ABADI SANG MAHA BESAR berupa HU~DA~RA
    YANG BERADA DALAM KEMANUNGGALAN KHALIQ,
    mimiliki:

    Energi “HU” Acining Air, berupa:
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA BIRU♥
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA BIRU♥
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA BIRU♥

    Energi “DA” Acining Tanah, berupa:
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA KUNING♥
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA KUNING♥
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA KUNING♥

    Energi “RA” Acining Api, berupa:
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA MERAH♥
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA MERAH♥
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA MERAH♥

    Ketiganya Gumulung di dalam SAJATINING HUDARA, berupa:
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA ULTRA VIOLET MENUJU PUTIH♥
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA ULTRA VIOLET MENUJU PUTIH♥
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA ULTRA VIOLET MENUJU PUTIH♥

    SEBAGAI PINTU HAWAL Zat Abadi Makro,
    yang disebut JAWAHAR HAWAL, yaitu:
    BIGBANG (Ledakan Nuklir) yang keluar dari WHITEHOLE.
    Inilah yang disebut proses DIA MENJADIKAN INSUN.

    SANG MAHA KECIL / LEMBUT
    adalah “JHWH” dalam CAKUPAN ALAM MIKRO,
    yaitu ZAT ABADI SANG MAHA KECIL berupa ATOM
    YANG BERADA DALAM KEMANUNGGALAN MAKHLUK,
    memiliki:

    Energi “HU” Proton, berupa:
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA BIRU♥
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA BIRU♥
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA BIRU♥

    Energi “DA” Netron, berupa:
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA KUNING♥
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA KUNING♥
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA KUNING♥

    Energi “RA” Elektron. berupa:
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA MERAH♥
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA MERAH♥
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA MERAH♥

    Ketiganya “Gumulung” dlm SAJATINING HATOM (Atom), berupa:
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA IMPRA MERAH MENUJU HITAM♥
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA IMPRA MERAH MENUJU HITAM♥
    ♥POTENSI GELOMBANG CAHAYA IMPRA MERAH MENUJU HITAM♥

    sebagai PINTU HAKHIR Zat Abadi Mikro,
    yang disebut JAWAHAR HAKHIR, yaitu:
    INDUKSI INTI (Reaktor Nuklir) yg masuk ke dlm BLACKHOLE.
    Inilah yang disebut proses INSUN JADI DIA.

    (Peringatan dari Mandalajati Niskala:
    “JIKA ANDA SULIT UNTUK MEMAHAMI,
    LEBIH BAIK ABAIKAN SAJA. TERIMA KASIH)
    ════════════════════════════
    Syair Sunda:
    JAWAHAR AKHIR NGARAGA~DIA
    ditulis ku Mandalajati NIskala

    Atma na sakujur raga.
    Hanargi museur na tazi.
    Bobot Bentang JAGAT RAYA panimbangan.
    Paeunteung eujeung.

    Ziro sazironing titik Nu Maha Leutik.
    Madet dina JAGAT LEUTIK.
    Gumulung sakuliahing cahya.
    Ngahideung Nu Maha Meles.
    Ngan beuratna Maha Beurat.

    Insun gumulung nu Tilu NGAMANUNGGAL;
    PARA~TRI~NA, NI~TRI~NA jeung
    HOLIK~TRI~NA dina Jawahar Akhir.

    Tandaning Insun lulus nurubus.
    Lolos norobos, Robbah lalakon.
    Kaluar tina Sapanunggalan Gusti Nu Maha Suci.
    Bitu ngajelegur.
    Manggulung-gulung kabutna.
    Huwung nungtung ngahujung.

    Jadi jumadi ngajadi.
    INSUN ROBBAH NGARAGADIA.
    Gelar Ngajawahar Awal.
    Gusti papanggih jeung Gusti.
    Dina babak carita SAWA~RAGA~ANYAR.

    Ahuuung Ahuuung Ahuuung Aheeeng.
    ════════════════════════════
    Filsuf Sunda MANDALAJATI NISKALA, sbg:
    Zaro Bandung Zaro Agung
    Majelis Agung Parahyangan Anyar.

    Klik di google Mandalajati Niskala
    BACALAH SELURUH SULUR BUAH PIKIRANNYA.

    Pengirim Komentar:
    @Sandi Kaladia

  2. kepercayaan

    07/08/2015 at 08:17

    Lanjutkan… maju terus dalam kebebasan percaya pada agamamu

  3. Ngurah suardika

    11/08/2015 at 09:23

    Astungkara. Semoga pemikiran suci datang dari segala arah. Sangkan paraning dumadi. Bhina ika tunggal ika tan hana dharma mangrwa.
    Semoga damai dihati, semoga damai didunia, semoga damai selalu.

  4. […] 3 […]

Leave a Reply

Check Also

Diversity Award & Fellowship Liputan Keberagaman 2018

Mejalani musim politik bernuansa SARA di era digital bukan perkara mudah bagi media. Tanta…