Home Berita Karena Mengemudi, Aktivis Perempuan Ini Ditangkap

Karena Mengemudi, Aktivis Perempuan Ini Ditangkap

2 min read
0
0
246

 

Pemerintah Arab Saudi telah menahan seorang aktivis terkemuka hak-hak perempuan setelah melanggar larangan mengemudi di negara tersebut.

Aparat keaman Saudi pada Jumat (29/11) menangkap Aziza al-Yousef ketika ia mengemudi di Riyadh bersama rekannya, Eman al-Nafjan.

Al-Nafjan dalam Twitternya mengatakan bahwa mereka ditahan polisi kemudian diminta untuk menandatangani perjanjian untuk tidak mengemudi lagi, namun mereka menolaknya.

Ia menambahkan, jika pihak berwenang meminta wali laki-lakinya, ia akan mengatakan bahwa ia adalah wali bagi dirinya sendiri.
Sebelumnya, al-Nafjan memposting foto yang menunjukkan bahwa ia dan al-Yousef sedang membeli bensin di sebuah pom bensin, dan mengungkapkan kepuasannya atas apa yang mereka lakukan.

Kementerian Dalam Negeri Saudi dalam sebuah pernyataan pada Rabu menganggap ilegal terhadap setiap pawai dan pertemuan untuk mendorong perempuan mengemudi.

“Kementerian Dalam Negeri menegaskan ke semuabahwa pihak berwenang akan menegakkan hukum dengan tegas terhadap semua pelanggar,” kata pernyataan Kemendagri Saudi.

 

Arab Saudi adalah satu-satunya negara di dunia yang melarang perempuan mengemudi. Larangan tersebut adalah fatwa agama yang diberlakukan oleh ulama-ulama Wahhabi di negara itu.

 

Jika ada yang melanggar larangan tersebut, maka ia akan ditangkap, diproses hukum di pengadilan, dan bahkan dicambuk. (IRIB Indonesia/RA)

 

Sumber: http://indonesian.irib.ir/hidden-1/-/asset_publisher/m7UK/content/karena-mengemudi-aktivis-perempuan-ini-ditangkap?redirect=http%3A%2F%2Findonesian.irib.ir%2Fhidden-1%3Fp_p_id%3D101_INSTANCE_m7UK%26p_p_lifecycle%3D0%26p_p_state%3Dnormal%26p_p_mode%3Dview%26p_p_col_id%3Dcolumn-1%26p_p_col_count%3D3

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Tahun Politik Ancaman Serius Toleransi?

  Oleh: Fanny S Alam Belum hilang ingatan publik yang dikejutkan penyerangan terhadap…