Home Berita Perayaan Hari Kerukunan Nasional, GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia Tetap Diabaikan

Perayaan Hari Kerukunan Nasional, GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia Tetap Diabaikan

5 min read
0
0
159

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Sekitar 100 jemaat GKI Yasmin Bogor dan HKBP Filadelfia Bekasi pada Minggu (5/1) kembali beribadah di seberang Istana Merdeka. Mereka terus meminta kepedulian pemerintah pusat atas penutupan gereja-gerejanya oleh pemda setempat akibat tekanan kelompok Muslim garis keras.

Ibadah kali ini bertepatan dengan perayaan Hari Kerukunan Nasional (HKN) pada 3 Januari 2014 yang telah dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Juru bicara GKI Yasmin mengatakan bahwa pencanangan HKN oleh Presiden SBY tidak memiliki arti apa-apa dan hanya upacara kosong.

“Entah apa makna (peringatan) Hari Kerukunan Nasional, bagi kami jemaat GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia, dan bagi teman-teman muslim Ahmadiyah, Syiah, dan para Penghayat,” Kata Bona Sigalingging juru bicara GKI Yasmin.

“Bagi kami yang masih terus didiskriminasi dan Presiden RI diam saja, maka peringatan Hari Kerukunan ini tidak lebih dari sebuah upacara kosong para pejabat, saat yang sama mereka membiarkan kelompok intoleran berkeliaran, menyebar teror atas nama agama pada kami yg dianggap minoritas,” demikian kata Bona pada satuharapan.com.

Jemaat GKI Yasmin di Bogor dan jemaat HKBP Filedelfia Bekasi, sejak tahun 2012, melaksanakan ibadah di seberang Istana Merdeka, setiap dua minggu, seolah tanpa kenal lelah. Ibadah ini dimaksudkan untuk menggugah perhatian Presiden SBY, setelah kedua jemaat mendapatkan putusan hukum atas Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) gedung gerejanya, namun tetap saja tidak dapat membangun dan beribadah. Putusan hukum telah didapatkan dari Mahkamah Agung dan bagi jemaat GKI Yasmin Bogor, diperkuat dengan rekomendasi Ombudsman RI. Namun, baik Walikota Bogor dan Bupati Bekasi tak juga membuka segel gedung gereja mereka.

Bona Sigalingging menegaskan bahwa bagi para korban pelanggaran kebebasan beragama dan beribadah, Hari Kerukunan Nasional tidak ubahnya seperti peringatan hari kompromi antara Negara dengan kelompok intoleran. Buktinya, kelompok intoleran bebas menebar teror dan tidak pernah ada proses hukum yang tegas pada mereka.

“Bahkan, Wali Kota Bogor tunduk, Bupati Bekasi tunduk, dan Presiden RI tunduk (kepada kelompok intoleran)”, kata Bona Sigalingging.

Campur Tangan Tuhan

Kebaktian di seberang Istana pada Minggu pertama di tahun 2014, dipimpin oleh Pendeta Margie Ririhena De Wana dari Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB). Pendeta Margie mengambil tema khotbah sebagaimana yang dipakai oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), yakni, “Campur Tangan Tuhan dalam Kehidupan”, mengambil ayat Alkitab dari Yeremia 31.

Dalam kotbahnya, Pendeta Margie mengingatkan jemaat bahwa, misi Allah akan terus berlangsung, indah atau tidak, bahkan dalam tekanan, misi Allah akan tetap bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi semua tanpa kecuali, termasuk melalui pembuangan yang dialami GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia.

“Ibadah yang dilakukan kedua jemaat gereja ini adalah sebuah perjuangan menyuarakan keadilan dan kebenaran dengan pilihan yang tetap beradab. Walaupun banyak gereja lain baru akan peduli ketika mereka mengalami masalah yang sama, karena itu perjuangan seperti ini harus dilakukan bersama dengan gereja lain dan kelompok lintas agama,” kata Pendeta Margie.

Di tahun baru 2014, dia berharap akan ada banyak solidaritas dari sahabat dan saudara seperjuangan dari berbagai kelompok yang diperlakukan diskriminatif di negara ini, dan mau terlibat dalam ibadah bersama.

“Ini akan menjadi ruang bersama bagi teman-teman dari agama lain dan kelompok yang terdiskriminasi,” kata Pendeta Margie.

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja

Sumber: http://satuharapan.com/read-detail/read/perayaan-hari-kerukunan-nasional-gki-yasmin-dan-hkbp-filadelfia-terus-diabaikan/

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Seksualitas, Politik dan Gerakan Perempuan Islam Indonesia

Dokomentasi: Thowik SEJUK (17/1/2018) Buku berjudul “Potret Gerakan Perempuan Muslim Progr…