Home Berita Workshop Pers Kampus

Workshop Pers Kampus

7 min read
0
0
579

DSC_0017

Pekan lalu, SEJUK menyelenggarakan salah satu prorgam rutinnya yakni Workshop Pers Kampus. Melalui workshop ini SEJUK berinisiatif untuk menggerakkan media-media alternatif yang independen agar lebih nyaring menyuarakan isu kebebasan beragama dan berkeyakinan. Yang sekaligus membangun kapasitas jurnalis kampus dalam liputan isu-isu keberagaman yang berperspektif HAM, pluralisme dan keadilan gender.

Bertempat di Hotel Lotus-Bandung, 5-7 Juni lalu Workshop Pers Kampus ini mengambil tema “Memberitakan Isu Keberagaman”. Program ini dikerjasamakan dengan Aliansi Jurnalis Independen Bandung, Forum Komunikasi Pers Mahasiswa dan LPM Suaka UIN Bandung. Dengan narasumber Budhi Munawar-Rachman (Dosen STF Driyakara), Adi Marsiela (Ketua AJI BAndung), Choirul Anam (Direktur HRWG), Dr. Indraswari (Akademisi UNPAR Bandung) dan Ade Armando (PAkar Komunikasi UI).

DSC_0092

Workshop ini dimulai pukul 13.00 Wib dengan sambutan dari Direktur SEJUK yang juga memberi pengenalan secara singkat tentang SEJUK dan Workshop ini. Dilanjut dengan perkenalan antar peserta dan kontrak belajar yang akan di patuhi selama workshop berlangsung.  Sebelum memasuki materi pertama, fasilitator mengajak peserta untuk menyebutkan satu kata untuk Keberagaman. Dan menyampaikan harapan-harapan yang ingin mereka capai dalam workshop. Sesi ini dipandu oleh Tantowi Anwari selama lima menit untuk menggali ide-ide peserta.

DSC_0067

Diikuti oleh 30 peserta dari berbagai kota diantaranya: Bandung, Jakarta, Semarang, Malang, Solo, Pati, Bengkulu, Palembang, Medan dan Surabaya. Pada workshop kali ini, kuota perempuan lebih banyak ketimbang laki-laki.

Pada hari pertama peserta workshop ini akan dibekali materi-materi mengenai isu keberagaman dan teknik bagaimana menuliskan isu keberagaman. Terbagi kedalam tiga sesi, yang pertama adalah sesi materi tentang Kebebasan Beragama & Berkeyakinan oleh Dr. Budhi Munawar-Rachman. Dalam sesi ini narasumber menjelaskan mengenai pokok permasalah dari Kebebasan Beragama di Indonesia. Situasi yang sudah berlangsung dan memaparkan peran-peran Keberagaman untuk meredam permasalahan tersebut. Dari beberapa permasalahan yang disampaikan.

DSC_0142

Berlanjut pada sesi kedua dengan Adi Marsiela dari Aji Bandung yang menyampaikan materinya tentang Menulis Isu Keberagaman. Sesi ini adalah pembekalan kepada peserta untuk praktek ke lapangan pada hari kedua. Meski sebelumnya para peserta sudah memiliki pengetahuan dan kemampuan mengenai dasar-dasar penulisan jurnalistik, akan tetapi pada sesi ini peserta secara khusus diberi perspektif.

DSC_0181

 

Menjelang malam, peserta mengikuti sesi ketiga Media dan HAM. Dalam sesi ini, Choirul Anam dari HRWG memaparkan peraturan-peraturan hukum yang sudah disepakati dalam UUD dan PBB. Ia memberikan gambaran realitas pada kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi selama ini di Asia, khususnya di Indonesia.

Memasuki hari kedua, masih ada dua materi yang akan diberikan kepada peserta. Dimulai pada pukul 07.30Wib para peserta dengan semangat berdiskusi aktif mengenai Media dan Perempuan. Materi ini disampaikan Dr. Idraswari sebagai salah satu akademisi di Universitas Parahyangan juga kolumnis di The Jakarta Post, menarik peserta khususnya perempuan. Dr. Indraswari memberikan contoh-contoh pemberitaan tentang perempuan di media massa, yang kerap kali dijadikan sebagai korban berkelanjutan. Misalnya, untuk kasus perkosaan.

Lalu, bagaimanakah menuliskan isu Keberagaman?

 #16

Pakar ilmu komunikasi dari UI, Ade Armando menyampaikan beberapa hal yang meski dilakukan oleh jurnalis ketika memberitakan isu Keberagaman. Menurutnya, belum banyak jurnali-jurnalis yang memberitakan isu keberagaman ini. Maka dari itu, para pers mahasiswa memiliki kesempatan yang besar untuk menulis isu tersebut pada media mereka maing-masing.

Setelah sesi materi selesai, peserta langsung dibagi menjadi tiga kelompok untuk melakukan peliputan ke lapangan. Yakni: Syiah, Ahmadiyah dan Gereja. Dimana, pemberitaan media mengenai isu ini kerap bias. Nantinya, peserta akan mewawancarai narasumber di lokasi yang sudah ditentukan oleh panitia. Kemudian, hasil dari peliputan dilapangan itu dibuat dalam sebuah feature jurnalistik. Masing-masing dari kelompok ini akan didampingi oleh para panitia di lapangan.

Menariknya, latar belakang peserta ini beragam. Salah seorang peserta dari Bali, memeluk Hindu dan memilih wilayah peliputan pada kelompok Syiah. Begitupun mereka yang Muslim, lebih banyak memilih Gereja sebagai tempat praktek menulisnya. Bahkan, mereka yang berkeyakinan Kristen begitu antusias ketika memilih Ahmadiyah, sebagai wilayah peliputannya.

Waktu yang diberikan kepada peserta untuk liputan ke lapangan dimulai pada pukul 14.00 s/d 18.00Wib. Pada sesi malam, peserta mendiskusikan hasil prakteknya dilapangan yang kemudian dibahas bersama sebelum menjadi sebuah tulisan. Saking semangatnya, beberapa peserta menghabiskan semalaman untuk menulis feature sembari mengobrol lebih akrab dengan para peserta lainnya.

Keesokan pagi, meski terlambat tiga puluh menit dari waktu yang dijadwalkan semula. Semua kelompok mempersentasikan hasil tulisan feature yang mereka kerjakan selama semalam. Karya feature mereka itu dikomentari oleh beberapa panitia. Tidak hanya itu, para peserta lainnya juga menanggapi tulisan peserta kelompok lain sehingga tulisan mendapatkan tanggapan yang beragam. [Malya]

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Seksualitas, Politik dan Gerakan Perempuan Islam Indonesia

Dokomentasi: Thowik SEJUK (17/1/2018) Buku berjudul “Potret Gerakan Perempuan Muslim Progr…