Home Berita Jaleswarari Pramodhawardani: Isu LGBT adalah Isu Warga Negara!

Jaleswarari Pramodhawardani: Isu LGBT adalah Isu Warga Negara!

2 min read
0
0
500

Jaleswarari Pramodhawardani
Jaleswarari Pramodhawardani dalam Seminar ‘’Masa Depan HAM Kelompok Rentan (LGBT) di Pemerintahan Baru” 

Berbagai stigma dan diskiriminasi yang kerap dialami kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) di Indonesia adalah persoalan kewarganegaraan yang harusnya dituntaskan  di era Jokowi-Jk. Aktivis LGBT diminta untuk sering melakukan kerja – kerja politik bersama kelompok lain, terkait isu Hak Azasi Manusia.

Hal tersebut mengemuka dalam seminar mengenai ‘’Masa Depan HAM Kelompok Rentan (LGBT) di Pemerintahan Baru” pada 18 Januari 2015, di aula Komnas HAM. Jaleswarari Pramodhani, yang menjadi  salah seorang narasumber, mengajak semua pihak untuk  menjadikan isu ini sebagai isu warga negara.

“Terjadinya diskriminasi yang kerap dialami oleh kelompok LGBT, mulai kini hendaknya ditarik menjadi isu hak warganegara,” kata Jaleswarari Pramodhawardaniyang juga merupakan  staff khusus Setkab Pemerintahan Jokowi – Jusuf Kala

Sementara itu, komisioner Komnas Ham, Nurkhoiron mengatakan lembaganya sering memberikan pelatihan terhadap banyak aparatur negara terkait hak minoritas yang isunya spesifik. Misalnya melatih para pelatih polri memahami isu penegakan HAM di kalangan LGBT. Namun ia mengakui masih banyak yang belum faham. Bukan cuma itu, Nurkhoiron juga mengakui sebagian dari komisoner masih belum selesai melihat isu LGBT sebagai isu HAM.

Untuk itu ia mengajak semua pihak untuk menjadikan Komnas Ham sebagai lembaga yang bisa didorong bersama-sama untuk memastikan kewajiban negara dalam pemenuhan HAM.

Seminar ’Masa Depan HAM Kelompok Rentan (LGBT) ini diselenggarakan oleh Suara Kita, salah satu komunitas yang bekerja pada isu hak-hak kelompok LGBT. Narasumber lain dalam kegiatan ini adalah Tunggal Prawesti (Officer Hivos) dan  Ahmad Alex Junaidi (Direktur Serikat Jurnalis untuk Keberagaman).

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Lewat Jurnalisme Pers Mahasiswa Menangkal Hoax

Suasana kegiatan “Hoax dan Jurnalisme Damai: Pelatihan Jurnalistik untuk Mahasiswa&#…