Home Berita Melawan Islam yang Robohkan Ka’bah

Melawan Islam yang Robohkan Ka’bah

4 min read
0
0
455

Narsum-2-4-2015

Menciderai perbedaan sama artinya dengan merobohkan Ka’bah. Demikian disampaikan tokoh sufi KH. M. Luqman Hakim Ph.D dalam sebuah diskusi antar-iman di Flinders University Adelaide, Australia, Kamis sore (2/4/2015) menanggapi banyaknya problem kebebasan beragama dan berkeyakinan yang terjadi di Indonesia yang kerap melibatkan kelompok yang mengatasnamakan Islam.

Dalam diskusi yang ditaja Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) cabang Flinders, PPIA cabang South Australia, dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU ANZ) serta menghadirkan narasumber pendeta Ellia Maggang (Kristen) dan romo Amatus Budiharto (Katholik), kyai Luqman, pengasuh majalah Cahaya Sufi dan Sufinews.com, menjelaskan, “Umat Islam yang melakukan kekerasan karena menentang perbedaan bukan saja mengingkari Piagam Madinah yang menjunjung tinggi perbedaan keyakinan, tetapi juga berarti merobohkan Ka’bah.”

Kyai Luqman pun memaparkan alasannya, “Sebab, di depan kesucian Ka’bah Nabi Muhammad berpidato kepada seluruh penduduk Makkah yang tidak hanya terdiri dari umat Islam menegaskan: kalian semua adalah keluarga Tuhan.”

Konsekuensi dari prinsip pidato Nabi adalah, sambung kyai yang sekaligus seniman kaligrafi ini, apabila terjadi pengrusakan dan perobohan gereja yang dilakukan kelompok yang mengaku beragama Islam, maka wajib bagi umat Islam untuk kembali mendirikan gereja.

Mewakili Katholik romo Budi mendorong agar iman menjadi praksis dalam interaksi sosial supaya tercipta damai dalam perbedaan.

Sementara pendeta Ellia Maggang yang tengah menempuh master bidang teologi di Flinders University sangat menyayangkan manifestasi dari semangat Bhinneka Tunggal Ika yang sekadar menekankan kesatuan.

“Filosofi dari semboyan bangsa Indonesia ini lebih diarahkan kepada penyeragaman. Akibatnya perbedaan yang menjadi fakta Indonesia banyak mendapat persoalan,” urainya.

Untuk itu, pendeta dari Kupang ini membagi refleksi imannya: berteologi hendaknya mampu menenggang kehidupan yang majemuk. Sebab, prinsip Trinitas dalam kekristenan meniscayakan kesatuan sekaligus perbedaan. Ketiganya bersifat setara dan terhubung dengan kasih. Trinitas adalah perbedaan yang bersatu dalam relasi kasih.

Ketua PCI NU Adelaide Tufel Musyadad mewakili panitia diskusi antar-iman menuturkan bahwa kehadiran kyai Luqman Hakim di Adelaide merupakan rangkaian dari safari sufi sang kyai yang dilakukan dengan berbagai diskusi, mengaji, dan bedah buku, yang sebelumnya diadakan di Melbourne dan Canberra.

Ia juga menyampaikan tujuan dari kegiatan-kegiatan kyai Luqman ini sejalan dengan semangat PCI NU ANZ untuk membumikan Islam di Australia.

“Tidak bermaksud memaksa orang Australia masuk Islam, tetapi lebih untuk menghidupkan Islam agar ramah terhadap perbedaan (bukan Islam yang merobohkan Ka’bah),” Tufel memungkasi diskusi sore itu. (Thowik SEJUK)

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Lewat Jurnalisme Pers Mahasiswa Menangkal Hoax

Suasana kegiatan “Hoax dan Jurnalisme Damai: Pelatihan Jurnalistik untuk Mahasiswa&#…