Home Berita Kronologi Penyerangan Gereja di Aceh, Singkil

Kronologi Penyerangan Gereja di Aceh, Singkil

3 min read
0
0
551

Pada hari Kamis, 9 Oktober 2015 beredar pesan singkat  (SMS) diterima oleh sebagian besar masyarakat di Aceh Singkil. Pesan tersebut ajakan untuk memerangi keberadaan gereja di Kabupaten Singkil.

Pesan tersebut diduga sebagai rangkaian tuntutan sekelompok warga di Aceh Singkil yang melakukan demonstrasi menuntut  Bupati Aceh Singkil atau Pemkab Aceh Singkil untuk membumi hanguskan gereja yang tidak sesuai dengan peraturan tahun 1979 dalam kurun waktu 1 minggu sejak demonstrasi tersebut dilakukan, yang jatuh pada 13 Oktober.

Merespon pesan tersebut, pimpinan agama dari Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD), Pendeta Erde Berutu menemui Bupati Aceh Singkil untuk meminta perlindungan namun tidak mendapatkan respon positif. Bupati Aceh Singkil, Sapriadi, SE meminta kepada umat kristiani di Aceh Singkil agar mematuhi kesepakatan terkait dengan pembatasan jumlah bangunan gereja pada tahun 1979.

Pada Senin (12/10) Bupati Aceh Singkil memutuskan untuk membongkar puluhan bangunan Gereja, keputusan tersebut diambil setelah melakukan pertemuan yang dihadiri oleh Anggota DPRD Kabuten Aceh Singkil, Forum Komunikasi Umat Beragama, Ulama dan sejumlah Ormas Islam di Aceh Singkil. Pertemuan tersebut melupakan kelompok Gereja sebagai subyek pembicaraan.

Situasi makin mencekam dan warga ketakutan atas beredarnya informasi penyerangan, tidak ada jaminan tegas dari aparat keamanan (TNI/Polri) dan Pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada warga Kristiani yang menjadi sasaran provokasi.

Sehari setelah keputusan Bupati untuk membongkar sejumlah bangunan Gereja di Aceh Singkil, pada Selasa 13 Oktober 2015 sekira pukul 11.00 Wib dilaporkan massa yang diperkirakan berjumlah ribuan orang berkumpul dan bergerak melakukan penyerangan dengan sasaran ke bangunan-bangunan gereja di Aceh Singkil.

Massa yang terdiri dari pemuda dan warga tersebut mengatasnamakan kelompok Pemuda Aceh Singkil Peduli Islam membakar sebuah bangunan Gereja Huria Kristen Indonesia (HKI) yang terletak di Desa Dangguren Kabupaten Aceh Singkil. Akibat dari penyerangan ini, dilaporkan seorang warga meninggal dunia akibat luka tembak senapan angin dan 4 (empat) orang lainnya mengalami luka. Massa juga sudah mulai menutup akses masuk dan keluar dari Aceh Singkil.

Aparat keamanan (TNI/Polri) tidak mampu mengendalikan massa yang terus bergerak menyerang dan membakar bangunan gereja. Sekira pukul 14.00 Wib dilaporkan bahwa puluhan Jemaat gereja GKPPD Mandumpang di Kecamatan Suro mulai mengungsi ke Desa Bagindar Kabupaten Pakpak Barat. Sebagian besar Jemat GKPPD Mandumpang resort Keras masih trauma akibat pembakaran gereja pada tangal 18 Agustus 2015 lalu.

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Tahun Politik Ancaman Serius Toleransi?

  Oleh: Fanny S Alam Belum hilang ingatan publik yang dikejutkan penyerangan terhadap…