Home Kolom Kompas TV Keliru Meliput Razia Warteg

Kompas TV Keliru Meliput Razia Warteg

3 min read
0
0
755

Razia Rio T

Oleh: Rio Tuasikal

Video liputan ini di linimasa Facebook, hingga Sabtu (11/6/2016) malam, sudah ditonton 2,3 juta kali dan panen kecaman. Dalam video itu nampak petugas Satpol PP Serang, Banten, merazia sebuah warung nasi yang buka di siang hari. Terlihat ibu pemilik warung memohon kepada petugas untuk tidak menyita makanannya – meski pada akhirnya petugas mengabaikannya dan ibu itu meninggalkan warung sambil menangis.

Video 1 menit 42 detik itu mungkin hanya selintas, namun ia menunjukkan gambaran besar mengenai perspektif keliru yang digunakan jurnalis tersebut. Saya mencatat beberapa kalimat dalam naskah yang mencerminkan cara pandangnya.

“Warung ini diketahui nekat melayani konsumen pada siang hari saat bulan suci Ramadhan.“

“Demi terwujudnya toleransi dan saling menghormati antar umat beragama, semua warung makan dilarang beroperasi saat siang hari.”

Teks di CG bawah layar: “Imbauan bersama demi toleransi saat Ramadhan”

Kalimat-kalimat di atas menggambarkan poin-poin yang penting diperhatikan. Pertama, jurnalis itu (yang mungkin juga seorang muslim yang sedang berpuasa) gagal melepas jaket agamanya ketika meliput, menulis, atau mengedit, sehingga hasil liputannya sangat bias. Liputan ini bisa digunakan kelompok intoleran untuk membenarkan aksi main hakim sendiri: razia warung makan.

Kedua, jurnalis gagal kritis terhadap penguasa dan akhirnya menulis berita yang birokrat-sentris. Hal ini terlihat dari kalimat “imbauan” yang ditulis mentah-mentah. Akibatnya, berita itu hanya jadi amplifier bagi kehendak penguasa. Toleransi dan menghormati itu seharusnya alami, tidak dipaksakan.

Ketiga, berita ini menunjukkan betapa dangkalnya pemahaman jurnalis tentang posisi negara terhadap agama – yang seharusnya terpisah dan saling menyeimbangkan. Negara tidak boleh ikut campur dalam perdebatan tafsir agama di kalangan masyarakat, dan media harus menjadi wasit yang menjaga proses itu. Namun liputan ini malah seolah membenarkan aksi agama yang menunggangi negara dan sebaliknya.

Perspektif pemberitaan di atas, baik disengaja atau karena keteledoran, bersifat kontraproduktif bagi pengembangan demokrasi di negara yang masyarakatnya relijius. Hal ini juga menunjukkan kegagalan jurnalis menjalankan fungsinya sebagai watchdog dalam negara hukum.

Kekeliruan ini bisa saja dilakukan oleh reporter di lapangan, maupun editor atau produser. Terbebas dari siapapun yang membentuk naskah itu, berita ini tetap tidak kontributif. Ini adalah pengingat penting bagi media – tak hanya Kompas TV namun juga media-media lain – agar lebih arif dalam meliput isu agama.

Penulis adalah jurnalis KBR – Portal KBR

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Kolom

Leave a Reply

Check Also

Lewat Jurnalisme Pers Mahasiswa Menangkal Hoax

Suasana kegiatan “Hoax dan Jurnalisme Damai: Pelatihan Jurnalistik untuk Mahasiswa&#…