Home Profil Elisheva Wiriaatmadja, Contoh Penganut Judaisme yang Terbuka di Indonesia

Elisheva Wiriaatmadja, Contoh Penganut Judaisme yang Terbuka di Indonesia

28 min read
0
0
1,141

liputan6-com-yahudi

Foto: Liputan6.com

Oleh Irwan Amrizal

Elisheva Wiriaatmadja tampak sedang duduk membelakangi saya ketika saya hendak menemuinya di satu pusat perbelanjaan di Jalan S. Parman, Jakarta Barat. Pada kesempatan itu Eli, begitu ia biasa disapa, ditemani anjingnya yang saya tidak tahu dari ras mana. Saya telat datang sekitar 15 menit usai menembus jalanan yang macet dan diguyur hujan.

Banyak orang tidak tahu sosok Eli. Sangat mungkin, Anda baru mendengar namanya ketika membaca artikel ini. Tapi perempuan kelahiran Jakarta itu cukup dikenal di antara keturunan Yahudi, penganut Judaisme di Indonesia, dan pengamat keduanya.

Saya sendiri baru tahu ada nama Elisheva Wiriaatmadja. Seorang teman me-mention namanya setelah saya mem-posting foto saya dengan peneliti Judaisme di Indonesia dari Universitas Andalas Romi Zarman di akun Facebook saya. Teman tadi menginformasikan saya bahwa Eli adalah salah satu keturunan Yahudi yang ia kenal. Adapun foto itu diambil setelah saya mewawancarai Romi. (baca: “Komunitas Yahudi ada di Indonesia dan Sebagiannya Beragama Islam”)

Sejak saat itu saya buru informasi lebih jauh tentang sulung dua bersaudara itu. Yang saya lakukan pertama kali adalah saya masuk ke akun Facebooknya, walaupun saat itu permintaan pertemanan saya belum dia konfirmasi. Saya menjelajahi biodatanya yang tertulis dan linimasa posting-annya.

Saya tidak puas dengan hanya mengintip akun Facebooknya. Saya buka situs pencarian Google dan saya ketik namanya di kolom pencarian. Di sana informasi tentang lulusan Jurusan Arsitek Universitas Indonesia itu tidak banyak. Tapi modal itu cukup bagi saya untuk mengkontruksi gambaran awal tentang dirinya.

Gambaran pertama saya yang muncul adalah Eli tidak seperti keturunan Yahudi di Indonesia pada umumnya. Seperti yang anda bisa baca dalam wawancara saya dengan Romi, mayoritas keturunan Yahudi di Indonesia berusaha menutupi identitasnya dan menghindar dari sorotan publik, baik yang menganut Judaisme maupun bukan.

Sekedar informasi, tidak semua orang yang berdarah Yahudi di berbagai negara, termasuk Indonesia itu otomatis menganut Judaisme. Menurut Romi, ada sejumlah keturunan Yahudi di beberapa wilayah di Indonesia yang beragama Islam. Yang baru-baru ini terungkap, ada keturunan Yahudi Muslim yang tinggal di Jambi dan di Lampung.

Eli tampak berbeda 180 derajat. Dia berani menunjukkan identitas etnisnya dan agamanya. Inilah yang membuat saya tertarik untuk menemuinya sambil berbicara panjang lebar dengannya soal keberaniannya untuk bersuara dan situasi apa yang dihadapi keturunan Yahudi dan penganut Judaisme yang tinggal di satu-satunya negara Muslim terbesar di dunia ini.

Saya berhasil membujuknya. Pada Selasa sore pekan lalu itulah kami  sepakat bertemu.

Banyak Hoax

“Saya melihat banyak orang yang tidak tahu orang Yahudi itu seperti apa. Karena itu, kami berpikir harus bersuara. Jika kami tidak bersuara, maka imajinasi negatif banyak orang tentang kami tidak ada yang membantahnya”.

Jawaban itu meluncur dari mulut Eli ketika saya tanya mengapa dia tampak aktif bersuara tentang keturunan Yahudi dan penganut Judaisme. Menurutnya, masyarakat di Indonesia terlalu sering diberikan informasi yang salah tentang dua hal itu.

Dia menyebut satu contoh. Ada hoax yang menyatakan bahwa keturunan Yahudi dan penganut Judaisme itu memperingati Pesakh atau Passover dengan cara memakan darah anak kecil. Parahnya, hoax itu disebar di tengah masyarakat dan tidak sedikit masyarakat yang percaya dengan kabar bohong itu.

(Pesakh adalah salah satu peristiwa bersejarah bagi bangsa Yahudi. Peristiwa yang diperingati setiap tanggal 14 pada awal bulan dalam kalender Ibrani itu ditujukkan untuk mengenang kemerdekaan bangsa Yahudi dari perbudakan bangsa Mesir)

Fakta bahwa ada begitu banyak kebohongan tentang keturunan Yahudi dan Judaisme yang membuat Eli tidak bisa berdiam diri. Dia khawatir kalau tidak ada informasi tandingan yang membantahnya, maka akan mendorong kebencian terhadap keturunan Yahudi, baik penganut Judaisme maupun bukan.

“Prinsipnya, jika orang ingin tahu tentang satu komunitas, maka dia harus bertanya kepada komunitas itu. Begitu juga tentang kami. Jika ada kelompok masyarakat yang ingin tahu tentang orang Yahudi, harusnya bertanya dan merujuk informasi yang dibuat orang Yahudi sendiri,” kata Eli menghimbau.

Konsisten dengan hal itu, Eli ikut mendirikan Yayasan Eits Chaim Indonesia (YECI). Yayasan itu dimaksudkan untuk melakukan advokasi kepada masyarakat di Indonesia untuk pemahaman yang lebih baik dan benar mengenai literatur, bahasa Ibrani, serta aliran kepercayaan dan budaya Ibrani. Di laman yayasan itu anda bisa temukan beragam artikel tentang ajaran Judaisme dan informasi kelas yang dibuka untuk umum.

Di YouTube terlihat YECI punya akun sendiri. Dari berbagai video yang di-posting melalui akun itu, tampak di sejumlah video Eli sedang memberikan kulian tentang ajaran Judaisme di satu kelas yang diikuti cukup banyak orang.

Nama Eli juga disebut-sebut sebagai salah satu orang yang bertanggungjawab atas terselenggaranya peringatan Pesach di Hotel Pullman Jakarta pada akhir April lalu. Acara itu diorganisir oleh YECI. Tercatat ada beberapa tamu VIP yang hadir. Di antaranya adalah Ketua Umum Ikatan Mubaligh Seluruh Indonesia KH. Yayan Hendrayana dan Sekretaris Jendralnya Drs. Zawawi Suat S.H. dan Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken. Belum lagi sejumlah pemuka Islam dari luar negeri.

Acara itu ditutup dengan tradisi makan malam bersama yang disebut dengan Seder Pesach. Eli begitu gembira melihat tokoh-tokoh dengan latar belakang agama yang berbeda itu bisa makan bersama di atas satu meja.

“Peristiwa makan bersama itu tidak akan kita temukan di Arab. Muslim Arab itu hanya mau makan bersama semeja dengan sejawatnya yang beragama sama. Berita acara ini heboh di Timur-Tengah karena di Indonesia Muslim dan Yahudi bisa makan dalam satu meja,” kata Eli kagum.

Eli tidak membuka identitas etnis dan agamanya hanya terbatas ketika di antara komunitas penganut Judaisme dan di acara formal seperti Pesach di atas. Dalam kesehariannya, sosok yang cukup fasih berbahas Ibrani itu tidak sungkan mengatakan bahwa dia adalah keturunan Yahudi dan penganut Judaisme.

“Saya percaya dengan pepatah “Tak kenal, maka tak sayang”. Ketika saya membuka identitas saya kepada orang lain terutama teman yang saya kenal, saya berharap orang itu punya gambaran yang riil tentang orang Yahudi. Bahwa saya sama seperti mereka yang terdiri dari darah dan tulang dan bisa secantik ini,” gurau Eli yang disusul tawa halusnya.

Dibenci Karena Tidak Tahu

Eli mengaku tidak punya jawaban mengapa saudara-saudaranya seetnis, baik penganut Judaisme maupun bukan, lebih memilih menutup diri. Dia menduga, mungkin saudara-saudaranya itu belum siap membuka diri.

Belum siapnya keturunan Yahudi, baik penganut Judaisme maupun bukan, untuk membuka diri sejatinya tidak sulit untuk bisa dipahami. Kata “Yahudi” di Indonesia kadung dicemarkan dengan asosiasi buruk dan stigma. Dalam kosakata bahasa Indonesia mungkin tidak ada kata yang lebih najis dan menakutkan dari kata “Yahudi”.

Pencemaran kata Yahudi tentu tidak terjadi dengan sendirinya. Kelompok Islam konservatif dan puritan selalu mengidentikkan kata Yahudi dengan sesuatu yang dianggap sebagai kejahatan, kelicikan, dan sifat-sifat negatif lainnya. Bahkan peristiwa, seperti bencana, kecelakaan, atau gejolak sosial seringkali mereka baca secara serampangan sebagai konspirasi Yahudi.

Saking tidak sukanya dengan Yahudi, kelompok Islam konservatif dan puritan tak jarang bertindak konyol. Seperti yang terjadi baru-baru ini, mereka menyatakan permainan virtualPokemon Go harus diwaspadai komunitas Muslim karena permainan itu adalah satu usaha untuk mengyahudikan komunitas Muslim secara diam-diam dan halus.

Propaganda anti Yahudi itu mereka sebarkan karena menurut mereka, salah satu karakter favorit dalam anime dan game itu yang bernama Pikachu berarti “Aku Yahudi”. Dari mana mereka tahu bahwa arti Pikachu berarti “Aku Yahudi”, itu tidak penting. Yang pasti orang paranoid selalu bertindak tanpa menggunakan akal sehatnya.

Kata “Yahudi” juga kerap dilabelkan kepada sejumlah ulama dan tokoh yang berbeda pandangan dengan kelompok Islam konservatif dan puritan itu. Jika bukan Yahudi, minimal sejumlah ulama dan tokoh itu dituding antek Yahudi.

Karena kata “Yahudi” selalu dilekatkan dengan sifat buruk, maka ketidaksukaan terhadap keturunan Yahudi, baik yang penganut Judaisme maupun bukan, perlahan tapi pasti tumbuh dan terinternalisasi di tengah masyarakat. Ketidaksukaan itu, misalnya, terekam dalam survei nasional bertajuk “Potensi Intoleransi dan Radikalisme Sosial Keagamaan di Kalangan Muslim Indonesia” yang digelar Wahid Foundation bekerja sama dengan Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada awal Agustus lalu.

Dalam survei yang melibatkan 1.520 responden yang tersebar di 34 provinsi itu disebutkan ada sejumlah kelompok sosial yang tidak disukai di Indonesia. Kelompok Yahudi  menempati posisi ketiga teratas. Adapun kelompok LGBT dan kelompok Komunis menempati posisi pertama dan dan kedua.

Saat saya minta tanggapannya terhadap salah satu hasil survei itu, Eli tidak ingin berkomentar banyak karena belum mempelajarinya. Tapi dia berandai-andai jika pada saat survei itu dilakukan si responden ditanya lagi dengan pertanyaan, “apakah mereka pernah bertemu dengan orang Yahudi?”

Dengan percaya diri Eli mengatakan pasti hampir semua responden itu belum pernah bertemu dengan keturunan Yahudi, baik yang menganut Judaisme maupun bukan. Karena itu dia berkesimpulan bahwa sebagian besar keturunan Yahudi itu tidak disukai karena ketidaktahuan.

Eli lalu menceritakan pengamalannya sendiri. Pada suatu waktu dia pernah diundang di acara multikultur yang diselenggarakan di Bandung. Dalam forum sharing, sebagian peserta menunjukkan sikap ketidaksukaannya pada keturunan Yahudi. Tiba giliran Eli untuk menyampaikan pandangannya. Dalam kesempatan itu dia memperkenalkan diri bahwa separuh dirinya adalah keturunan Yahudi dan dia adalah penganut Judaisme.

Setelah Eli mengatakan itu, peserta lain terdiam. Mereka tidak tahu bahwa keturunan Yahudi dan penganut Judaisme yang tidak mereka sukai itu ternyata ada di antara mereka. Dan keturunan Yahudi dan penganut Judaisme itu sama seperti mereka yang dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia.

Eli kemudian memberikan gambaran singkat tentang keturunan Yahudi dan penganut Judaisme. Dialog antara Eli dengan peserta lain pun terjadi. Dari dialog itu dapat disimpulkan bahwa ketidaksukaan sebagian peserta terhadap keturunan Yahudi dan penganut Judaisme itu karena ketidaktahuan. Dan karena itu ketidaksukaan itu tidak masuk akal.

Dalam percakapan dengan saya, Eli tidak setuju dengan anggapan bahwa Indonesia adalah negara yang intoleran terhadap keturunan Yahudi dan penganut Judaisme. Eli menyodorkan beberapa contoh kasus kepada saya.

Pertama, rabinya yang bernama Tovia Singer membanggakan Indonesia sebagai negara yang menerima keberadaan penganut Judaisme. Itu dibuktikan rabi berpaspor AS itu sendiri ketika ia sedang berjalan-jalan di Jakarta lengkap dengan kippah dan atribut kerabian lainnya.

Saat berjalan-jalan, banyak pejalan yang tahu bahwa Singer adalah seorang rabi lalu menyapanya. Bahkan ada pejalan yang minta foto bersamanya. “Di sini dia bilang dia merasa aman. Sementara di Eropa, bahkan AS, dia bilang dia merasa tidak aman,” kata Eli menirukan ucapan rabinya itu.

Kedua, Eli mengutip satu artikel berbahasa Inggris yang dipublikasi pada pertengahan 2015. Artikel itu mengulas pengalaman seseorang bernama Max Bevilacqua yang mendapat kesempatan berkunjung ke Indonesia untuk mengamati kehidupan komunitas Muslim dari dekat.

Selama di Indonesia, mahasiswa yang mengambil studi Kekristenan di salah satu kampus di AS itu tinggal di salah satu pesantren di Jawa Tengah. Di pesantren itu Max ditugaskan untuk mengajar bahasa Inggris. Tapi dia tidak pelit berbagi pengetahuan bila ada santri yang ingin belajar tentang Kekristenan dan kehidupan di Barat.

Singkat cerita, waktu Max untuk tinggal di pesantren hampir habis. Sebelum meninggalkan pesantren itu, dia mengadakan pertemuan perpisahan yang dihadiri teman-teman dekatnya di pesantren dan pimpinan pesantren beserta istrinya. Di hadapan sosok-sosok yang ia hormati, Max membuka jati dirinya bahwa dia adalah keturunan Yahudi.

Keputusan Max untuk menutupi identitasnya itu sebenarnya bukan keinginan Max. Komite Fulbright yang memberinya beasiswa menyarankan agar dia tidak membuka identitasnya khawatir keselamatannya terganggu. Max sendiri sebelum datang ke Indonesia sudah berniat untuk hanya menjadi duta atas nama AS tanpa embel-embel yang lain.

Usai membuat pengakuan pada pertemuan perpisahan itu, Max meminta maaf. Pengakuan itu mengundang reaksi. Istri pimpinan pesantren tampak kecewa mengapa Max tidak mengatakan hal itu sejak awal padanya. Beberapa teman-teman dekatnya bahkan tidak mau berbicara kepada Max karena merasa ia bohongi.

Tak berapa lama, suasana kembali cair. Ajaibnya, teman-temannya itu malah penasaran dan mengajukan banyak pertanyaan tentang orang Yahudi dan Judaisme.

“Dari cerita Max itu terlihat bahwa ketidaksukaan Muslim Indonesia terhadap orang Yahudi dan Judaisme itu bukan karena sikap anti semitisme, tapi karena ketidaktahuaan,” kata Eli menyimpulkan.

Ketiga, peringatan Pesach di Hotel Pullman Jakarta pada akhir April lalu yang berjalan baik dan tanpa ada penolakan.

Melihat kecenderungan komunitas Muslim yang sejauh ini tidak menunjukkan reaksi berlebihan terhadap keberadaan keturunan Yahudi dan penganut Judaisme membuat Eli dan teman-temannya di YECI optimistis. Karena itu ia tidak gusar untuk terus memberikan informasi alternatif tentang keturunan Yahudi dan Judaisme.

“Kami melihat ada harapan. Setiap kami ngobrol dengan teman-teman Muslim yang semula dia anti sekali kepada kami, mereka pada akhirnya mau terbuka. Orang Indonesia itu berbeda dengan orang Arab. Muslim Indonesia itu sangat open minded,” puji Eli.

Meski begitu, Eli tidak menyangkal ada berita tidak baik terkait penganut Judaisme, khususnya. Kabar tidak baik yang dimaksud Eli adalah kasus penyegelan rumah ibadah penganut Judaisme Sinagog Beth Hashem yang berada di Surabaya pada akhir Desember 2008. Penyegelan itu terjadi usai sejumlah ormas Islam melakukan demonstrasi mengutuk agresi Israel terhadap warga Palestina.

“Memang ada kelompok kecil dalam Islam yang intoleran. Kelompok intoleran juga dalam Yahudi dan Kristen. Tapi bukan berarti kita bisa mengeneralisasi bahwa semua orang Muslim khususnya di Indonesia itu intoleran,” papar Eli.

Dari Keluarga Muslim

Sebelum menjadi penganut Judaisme, Eli adalah seorang Kristen. Tapi keluarga besarnya mayoritas Muslim.

Eli mengaku bahwa buyut dari pihak papanya adalah perempuan keturunan Yahudi yang menikah dengan salah satu kiai di Cirebon. Karena itu keluarga besarnya dari sisi papanya adalah Muslim berdarah Yahudi. Sementara mamanya adalah keturunan Yahudi beragama Kristen.

Menurut hasil penelusuran Eli, buyut dari pihak papanya itu adalah keturunan Yahudi yang berasal dari Eropa Timur, persisnya Polandia. Adapun mamanya adalah keturunan Yahudi yang berasal dari Yaman.

Meski berdarah Yahudi, tapi hal itu tidak pernah menjadi pembicaraan serius di keluarganya. Bahkan hampir sebagian besar keluarganya, khususnya dari pihak papanya, tidak peduli apakah mereka itu keturunan Yahudi atau bukan. Seolah-olah hal itu taken for granted. Dan sikap itu juga dialami Eli di masa-masa awal.

Pada masa-masa itu Eli lebih mengikuti agama mamanya. Sang papa tidak menentang pilihan agama yang ia dan adik perempuannya ambil.

Papanya hanya berpesan satu hal pada ibunya agar keduanya tidak dibaptis sejak kecil. Papanya ingin agar Eli dan adiknya bisa memutuskan dengan matang apa agama yang akan mereka pilih ketika mereka sudah dewasa. Kalaupun pada akhirnya mereka memutuskan menjadi Kristen dan otomatis dibaptis, itu tidak jadi soal.

Belakangan, Eli terdorong untuk kembali ke agama nenek moyangnya. Menurutnya ada sejumlah preseden yang menjadi pemantiknya.

Eli menyatakan bahwa di Torah terdapat satu nubuat yang menyatakan bahwa di akhir zaman seluruh keturunan Yahudi yang hilang akan kembali. Keturunan Yahudi yang hilang artinya adalah keturunan Yahudi yang menganut agama lain. Sementara kembali dimaknai pulang ke agama asal keturunan Yahudi, yaitu Judaisme.

Di ayat yang lain di dalam Torah, sambung Eli, dikatakan ketika Tuhan menjanjikan Abraham akan punya anak, Tuhan mengatakan bahwa anak keturunannya akan banyak sekali, sebanyak bintang-bintang di langit dan sebanyak pasir di pantai.

Dalam situasi saat ini, nubuat itu seperti terdengar bohong. Faktanya orang Yahudi di seluruh dunia hanya 15 juta jiwa. Menurut Eli, itu tidak seberapa dibandingkan dengan jumlah orang Arab yang entah berapa juta jiwa.

Eli menemukan kebenaran nubuat itu setelah melihat situasi di sekitarnya. Menurutnya saat ini ada kecenderungan keturunan Yahudi yang tinggal di berbagai negara kembali menganut agama nenek moyang mereka.

“Di Indonesia yang kelihatannya tidak ada orang Yahudi, ternyata ada dan bersuara lagi. Nah, keturunan Yahudi yang ngumpet-ngumpet itu kita tidak tahu ada berapa jumlahnya,” papar jurnalis untuk majalah gaya hidup itu. Nubuat-nubuat inilah yang dipercaya bahwa anak keturunan Yahudi akan pulang.

Di luar soal nubuat, Eli menuturkan ada pengalaman pribadi yang mengantarnya “pulang”. Dia mulai tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang asal-usul dan keyahudiannya. Dari rasa ingin tahu yang mendalami itu, dia ditemani ayahnya menemui sepupu ayahnya yang tertua di Cirebon untuk mewawancarainya. Meski di usia yang sangat tua, namun ingatan sepupu ayahnya itu masih tajam.

“Dia menyebut bahwa kakeknya kakek saya dari pihak papa saya dikubur di salah satu pemakaman di Cirebon”. Berbekal informasi itu, Eli dan papanya mendatangi kuburan itu. Sayangnya saat didatangi kuburan itu sudah rusak dan tidak ada penandannya lagi. Tapi Eli percaya itu kuburan leluhurnya.

Untuk menambah rasa percaya itu, Eli mengontak temannya yang bekerja di Jewish History Museum di Amsterdam. Dia meminta temannya itu untuk mengecek informasi lebih jauh tentang mayat yang dikubur dalam kuburan itu.

“Hasil pengecekan itu dikirim ke saya. Saat saya baca, ternyata tanggal lahir saya sama persis dengan tanggal lahir opa saya itu. Setelah mengetahui hal itu, tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya bahwa saya harus pulang,” kata Eli mengenang. []

 

Sumber: http://www.madinaonline.id/bina-damai/elisheva-wiriaatmadja-contoh-penganut-judaisme-yang-terbuka-di-indonesia/

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Profil

Leave a Reply

Check Also

Budi Daya: Agama Sunda yang belum Merdeka

Ekspresi budaya pemudi penghayat aliran kepercayaan Budi Daya di Bale Pasewakan Waruga Jat…