Home Agenda SENSOR MENGALIR SAMPAI JAUH

SENSOR MENGALIR SAMPAI JAUH

2 min read
0
1
647

coba-coba-fb

 

Diskusi Media SEJUK

Pembukaan PON XIX Jawa Barat 2016 menjadi bukti agresifnya sensor kebebasan informasi dan berekspresi. Salah satu televisi menayangkan atlet renang hanya menyisakan bagian kepalanya. Seluruh tubuh diblur.

Begitupun pelanggaran kebebasan beropini dan berekspresi semakin meningkat. Putar film, diskusi, demonstrasi, dan mengekspresikan hak-hak warga untuk beribadah, berkesenian sampai menyampaikan pendapatnya di media sosial kerap dilarang, dibubarkan, bahkan dikriminalisasi.

Ke mana arah demokrasi bangsa ini? Menjadi dewasa atau semakin dirundung ketakutan dari ancaman ketidakwarasan yang dilakukan sekelompok masyarakat intoleran maupun negara?

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) mengundang rekan-rekan jurnalis dalam Diskusi Media berjudul “Sensor Mengalir sampai Jauh.”

Waktu : Jumat, 30 September 2016 pkl. 15.00 sampai 17.30 (makan malam)

Tempat : Ibiz Tamarin, Jl. K.H Wahid Hasyim No. 77, Gondangdia Jakarta Pusat

Narasumber:
1. Nia Dinata, sutradara, produser, dan penulis naskah film: Seberapa jauh sensor membatasi dunia film Indonesia?
2. Damar Juniarto, Koordinator SAFEnet Regional: Ancaman kebebasan berkumpul dan berpendapat, termasuk di dunia maya atau digital (TV)
3. Okky Madasari, novelis dan pendiri ASEAN Literary Festival: Melawan sensor dalam berkesenian

Moderator: Saidiman Ahmad

Demikian undangan ini kami sampaikan. Terima kasih atas kesediaan rekan-rekan hadiri diskusi ini dan berdiri bersama kami melawan sesnsor.

 

**Kegiatan ini digelar dalam rangka merayakan Freedom Week kerjasama SEJUK dengan Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit (FNF)

CP: Rifah Zainani 085719461141

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Agenda

Leave a Reply

Check Also

Lewat Jurnalisme Pers Mahasiswa Menangkal Hoax

Suasana kegiatan “Hoax dan Jurnalisme Damai: Pelatihan Jurnalistik untuk Mahasiswa&#…