Home Siaran Pers NU ANZ Kecam Senator Australia yang Meminta Hentikan Kehadiran Imigran Muslim

NU ANZ Kecam Senator Australia yang Meminta Hentikan Kehadiran Imigran Muslim

5 min read
0
0
549

nu-anz

 

9 Rekomendasi Hasil Konfercab PCI NU Australia – New Zealand Ke-VI

Wahabbi dan ISIS tidak segaris dengan NU

Konferensi Cabang (Konfercab) Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand (PCI NU ANZ) telah usai. Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari sejak Sabtu hingga Minggu (1-2/10) lalu di Adelaide, South Australia dihadiri oleh 25 peserta yang berasal dari pewakilan State di Australia – New Zealand. Menurut Ketua Panitia Konfercab, Muhammad Maulana, pada tahun ini Konfercab diikuti oleh pewakilan warga Nahdliyin yang berasal dari Western Australia, South Australia, Victoria, Queensland, dan Australia Capital Territory.

Forum Konfercab PCI NU ANZ menetapkan Tufel Musyadad dari South Australia sebagai Ketua Tanfidziyah masa khidmat 2016-2018. Sementara itu, Prof. Dr. Nadirsyah Hosen dari Victoria kembali terpilih menjadi Rais Syuriyah setelah melalui mekanisme musyawarah mufakat yang diikuti oleh lima orang anggota Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) sebagaimana yang diatur dalam AD/ART PBNU.

Selain itu, dalam hal merespon persoalan serta tantangan sosial, agama, dan organisasi, hasil musyawarah Konfercab PCI NU ANZ juga merumuskan sembilan rekomendasi sebagai berikut:

1. Menyetujui dan mendukung pernyataan ulama sedunia dalam Muktamar di Chechnya pada 25 Agustus 2016 yang mengeluarkan Wahabi dalam bagian Ahlus Sunnah Wal Jamaáh;

2. Menyepakati pandangan para ulama dunia Islam dalam Muktamar Chechnya di atas bahwa ISIS tidak merepresentasikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin;

3. Menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk terus berupaya menyelesaikan konflik timur tengah baik di Palestina maupun di Suriah dengan cara yang bermartabat, sesuai dengan hak asasi manusia dan hukum internasional;

4. Menyesalkan sebagian masyarakat di Perancis yang tidak bisa menoleransi kehadiran para muslimah yang menggunakan burqini sebagai bagian dari ekspresi keberagamaan yang dijamin oleh hak asasi manusia;

5. Mengecam dengan keras pernyataan Senator Australia Pauline Hanson yang mengusulkan penghentian masuknya imigran Muslim ke Australia dan berbagai sikapnya yang intoleran dan berpotensi menebarkan kebencian terhadap umat Islam di Australia yang selama ini telah hidup secara harmonis, taat aturan dan berperan aktif dalam kehidupan sosial kemasyarakatan;

6. Mengajak seluruh ormas Islam di Australia untuk terus menjaga ukhuwah Islamiyah dan bekerjasama dalam program pemberdayaan perempuan, keluarga dan generasi muda yang berkualitas sehingga mereka tidak mudah terpengaruh paham ekstrem dalam beragama dan bernegara;

7. Mengusulkan kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk mempersiapkan dan membekali para calon mahasiswa yang akan sekolah ke luar negeri agar tetap menjaga akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan memahami fiqh praktis hidup di luar negeri khsuusnya di dunia barat. Untuk keperluan itu direkomendasikan kepada PBNU mengeluarkan buku saku panduan dan membuat training pembekalan;
8. Mengingatkan kembali kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk memegang teguh Khittah 1926 agar bersikap bijak dan penuh hikmah dalam menyikapi perbedaan pandangan politik praktis;

9. Mengajak semua anggota NU di Australia dan New Zealand untuk terlibat aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan dengan menekankan pada nilai keislaman yang tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i’tidal (berkeadilan).

Adelaide, 4 Oktober 2016

Hormat Kami,

Tufel Musyadad
Ketua Tanfidziyah NU ANZ 2016-2018

Contact Person:
Tufel Musyadad / +61434030763 / toefelus@gmail.com (Ketua Tanfidziyah Terpilih)
Muhammad Maulana / +61412875411 / maulkhan@gmail.com (Ketua Panitia Konfercab)

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Siaran Pers

Leave a Reply

Check Also

Menlu Retno Marsudi akan Buka Konferensi Jurnalis Peliput Agama se-Asia

  Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengkonfirmasi rencana kehadiran dalam konferensi…