Home Agenda Ada apa di balik sentimen anti-Cina?

Ada apa di balik sentimen anti-Cina?

2 min read
0
0
1,728

diskusi-media-sejuk-sentimen-anti-cina

 

Sentimen anti-Cina merebak bersamaan dengan mencuatnya polemik video pidato Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Kepulauan Seribu yang diedit Buni Yani. Beragam alasan sentimen anti-Cina yang dimunculkan lebih berupa ketakutan atas berbagai bentuk ancaman yang sengaja diciptakan. Karena itu, belakangan ini banyak rumor dan tuduhan yang deras diedarkan terutama di media sosial terkait Cina daratan dan etnis Tionghoa di Indonesia.

Celakanya, propaganda dan aksi-aksi intoleran terhadap etnis Tionghoa seperti meme di media sosial, pemasangan spanduk hingga ke daerah-daerah, sampai ujaran kebencian dan kekerasan fisik, dibiarkan tanpa adanya tindakan hukum terhadap para pelaku. Hal ini sangat mengkhawatirkan bagi realitas kebhinnekaan dan bangunan demokrasi bangsa ini.

Berangkat dari situasi tersebut, Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) hendak menggelar diskusi media sebagai upaya menggali dan mendudukkan beberapa pertanyaan yang muncul seputar ada apa, mengapa dan bagaimana sentimen anti-Cina dari hari ke hari terus bergulir semakin liar.

Narasumber:

1.     Dr. Thung Ju Lan, M Sc, Peneliti LIPI Bidang Perkembangan Masyarakat dan ahli studi Cina Universitas Indonesia (UI)

2.     Dr. Saiful Mujani, Political scientist di Lembaga Survei Indonesia (LSI)

3.     Ignatius Haryanto, Peneliti senior Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP)

Moderator:

Andy Budiman

Waktu: Kamis, 29 Desember 2016, pkl. 10.00 – makan siang

Tempat: LBH Jakarta, Jl. Pangeran Diponegoro No. 74 Jakarta Pusat

 

Diskusi media ini terbuka untuk umum. Konfirmasi kehadiran dapat menghubungi Rifah Z. (0857-1946-1141)

 

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Agenda

Leave a Reply

Check Also

Lewat Jurnalisme Pers Mahasiswa Menangkal Hoax

Suasana kegiatan “Hoax dan Jurnalisme Damai: Pelatihan Jurnalistik untuk Mahasiswa&#…