Home Berita Waria dan lebih dari sekadar kontes kecantikan

Waria dan lebih dari sekadar kontes kecantikan

11 min read
0
1
2,163

Rere memenangkan Miss Transchool 2017 dan kategori Miss Favourite (24/2/2017)

Rere, Rere, Rere…

Begitu sahabat dan teman dari deretan-deretan kursi pengunjung kerap menyebut namaku ketika dengan sekuat tenaga aku berusaha menguasai ketegangan yang tengah menyelimuti perasaan berada di atas panggung Inagurasi Transchool 2017.

Jumat 24 Februari 2017 adalah malam keberuntunganku bisa bergabung bersama 20 sahabat dengan motivasi tinggi untuk memenangkan Miss Transchool 2017 di sebuah gedung pusat kebudayaan di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Semangat yang kami semat lebih sebagai upaya menunjukkan kemauan kuat dalam berjuang bersama melakukan kerja-kerja advokasi, terutama untuk komunitas-komunitas kami, waria atau transwomen, terlebih jika diberikan kepercayaan oleh lembaga-lembaga yang mendukung perjuangan pemenuhan hak-hak LGBT.

Ya, itu adalah malam yang benar-benar indah. Segala usaha kerasku berbuah manis. Melalui penilaian para juri dan pendukung, mahkota Miss Transchool 2017 berhasil terpasang di kepalaku, Rere Agistya. Diriku, Rere, juga dinobatkan sebagai Miss Favourite. Sungguh pengalaman yang takkan terlupa.

Tempat kerja tidak menerima waria

Mamaku Sartini (54) berada di tengah-tengah kursi pengunjung. Keberhasilanku malam itu tentunya untuk membuktikan kepada keluargaku, terutama Mama, bahwa anaknya bisa berprestasi dengan menentukan dan menjalankan hidup sebagai seorang transperempuan, waria. Sebab, mulanya sangat berat buat Mama dan keluargaku menerima pilihan hidupku. 2011 setelah lulus dari D1 Keperawatan di Amanah Husada Purwokerto, aku diterima magang dan bekerja  selama 4 tahun di salah satu klinik di Cibitung, Bekasi.

Karena pernah hampir satu tahun tidak pulang ke Purbalingga, Mama tiba-tiba datang ke Bekasi demi menemuiku. Mama kaget dan tidak bisa menerima menyaksikan anak lelakinya menjadi waria. Mama pingsan. Alhamdulillah kondisi Mama cepat membaik walaupun sempat akan dibawa ambulan, karena aku tahu Mama punya riwayat darah tinggi.

Rere bersama ibunya merayakan keberhasilan menyabet Miss Transchool 2017

Sebagai muslimah yang baik, dalam penilaianku dan menurut ukuran masyarakat umum lantaran Mama rajin mengenakan jilbab, awal-awalnya Mama terus berpikiran buruk terhadap ekspresiku dan hal-hal lainnya tentang diriku yang waria. Beriring jalannya waktu, kedekatanku dengan Mama membuat kami mudah saling “curhat” dan berbagi cerita pengalaman-pengalaman hidup selama aku tinggal di Bekasi. Sehingga pelan-pelan Mama pun menjadi lebih tenang.

Kini aku tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi dengan statusku, sebagaimana harus kulakukan di episode awal perjalanan panjang ini. Tekadku adalah bagaimana selalu berusaha menjelaskan dan sambil memberikan bukti nyata bahwa diriku bisa menjadi orang yang berguna dan berprestasi. Pada akhirnya Mama pun memberi dukungan penuh terhadap ekspresiku dan seluruh cita-citaku. Sikap Mama kemudian diikuti semua keluargaku.

Aku dua bersaudara. 24 tahun lalu aku lahir di Kedung Menjangan, Purbalingga, Jawa Tengah dan kami besar dari keluarga Muslim. Kakak memilih tinggal di Purbalingga, sementara aku harus berjuang di perantauan menggapai mimpi sesuai dengan potensi dan jatidiri yang melekat dalam diriku.

Sejak di tempat kerja banyak yang membicarakan “di belakang” tentang pribadiku, meskipun sudah berusaha sebisaku untuk cuek, kegundahan pun tidak bisa terus ditahan. Karena situasi tersebut tidak kunjung berubah, dengan sangat terpaksa aku lantas memutuskan keluar dari profesi sebagai perawat, setelah hampir empat tahun bekerja. Lingkungan kerja benar-benar enggan menerimaku apa adanya. Bukan hal mudah hidup di kota besar dan melepas begitu saja pekerjaan, terlebih yang benar-benar sesuai dengan latar pendidikan.

Tetapi, sisi lain dari dalam diri yang selama ini tidak bebas untuk mengaktualisasikannya langsung melambung: ketertarikan dan cita-cita demi manjadi seorang model kemudian menuntunku secara serius menekuni dunia “modeling” dan sama sekali meninggalkan profesiku sebelumnya. Mulai saat itu aku pun sering mengikuti fashion show. Banyak designer baru senang menggunakan jasaku. Prestasi demi prestasi memihakku.

Lagi-lagi, selain usaha kerasku, semua itu tentu berkat doa dan dukungan keluargaku, teristimewa cinta dari Mama.

Kordinator Sanggar Swara Vina (kanan) bersama Ines (kiri), keduanya adalah waria, duduk di bawah Rere (24/2/2017)

Transchool 2017 ajang pemberdayaan diri dan komunitas

Ajang Transchool diikuti waria muda usia 18-30. Sejak November 2016 bersama 25 waria aku menempuh rangkaian kelas dan kunjungan lapangan untuk memahami konsep dan pengalaman hidup tentang apa itu Sexual Orientation, Gender Identity & Expression – Sex Characteristic (SOGIESC) dan Hak Asasi Manusia (HAM), feminisme, gender dan seksualitas, penerimaan diri, bullying, HIV/AIDS dan infeksi menular seksual (IMS), Islam, dan sebagainya.

Selesai mengikuti rangkaian tersebut, aku dan sahabat-sahabat waria dikuatkan pemahaman kami tentang semua itu dalam proses karantina selama seminggu. Puncak dari seluruh rangkaian itu adalah Malam Inagurasi Penyematan Miss Transchool 2017.

Buatku, pengalaman terlibat sebagai peserta dalam kompetisi ini merupakan berkah dan keberuntungan yang tidak ternilai bagi hidup dan masa depanku. Sebab, yang aku dan sahabat-sahabatku peroleh dari Transchool yang diselenggarakan Sanggar Swara bukan sekadar kontes kecantikan, melainkan sekolah alternatif yang mengkombinasikan proses belajar dalam kelas, kunjungan lapangan, magang di lembaga-lembaga yang mendukung perjuangan kesetaraan dan keadilan hak LGBT sebagai warga negara Indonesia.

Sanggar Swara menggelar ajang ini sejak 2010. Program seperti ini buat kami dan komunitas-komunitas waria menjadi sangat penting mengingat semenjak awal tahun 2016 angka diskriminasi dan kekerasan yang menimpa kelompok kami terus meningkat. Data itu dilaporkan oleh Sanggar Swara dan Arus Pelangi.

Akibat perlakuan tidak adil dari masyarakat dan negara, banyak sekali dari kami, waria muda, yang diusir atau terpaksa kabur dari rumah dan berakhir di jalanan kota-kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya. Tidak sedikit dari kami terjerumus menjadi pekerja seks komersial (PSK) jalanan.

Maka, pembelajaran dari keberhasilanku terlibat dalam program Transchool ini, betapa keluarga menjadi lingkungan aman dan sangat berharga bagi waria. Tujuan terpenting dari program ini tidak lain mengajari kami bagaimana mengadvokasi diri sendiri ketika kami menghadapi tindak kekerasan dan diskriminasi lainnya. Tentunya, keterampilan dan pengalaman mengadvokasi yang tumbuh dari diri ini diharapkan mampu membantu komunitas waria yang rentan sekali diperlakukan diskriminatif dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya.

Jadi, sekarang aku harus lebih aktif untuk memperjuangkan komunitas. Terlampau banyak tantangan dan masalah yang harus kami, sebagai diri dan komunitas waria, hadapi dan atasi. Misalnya identitas, karena selama ini waria cukup susah untuk memperoleh KTP dan administrasi kependudukan lainnya. Sebab, kami yang tidak mempunyai KTP susah sekali untuk mendapatkan pekerjaan dan pelayanan kesehatan berupa BPJS serta kendala-kendala turunan lainnya yang menghalangi kami memperoleh akses dan hak yang setara dengan warga negara lainnya.

Di atas segalanya, perjuanganku kini dan ke depannya menjadi sangat berarti karena restu keluarga. Maka, dukungan keluarga menjadi modal terbesar bagi kami, waria. Dan untuk itulah aku sangat bersyukur juga bangga pada keluargaku, pada Mama.

Harapan dan doa-doa mamaku, Sartini, Rere tidak mendapatkan pelecehan lagi ketika pulang ke kampung halaman kelak. Semoga akan lebih banyak lagi keluarga teman-teman waria yang menerima kami tanpa terkecuali.

Rere, Rere, Rere…

Sorak dukungan itu terngiang kuat di telingaku. Sungguh kebahagiaan yang akan senantiasa terkenang berada di tengah lingkungan yang bisa melihat dan mendukung ekspresiku, tubuh waria, sebagai utuh manusia, ketika di luar sana masih banyak masyarakat dan aparat pemerintahan yang kehilangan rasa hormat terhadap kami sesama warga Indonesia. [Thowik SEJUK]

***Diceritakan berdasar wawancara bersama Rere Agistya, Sartini dan Sanggar Swara (Vina, dkk.)

Load More Related Articles
Load More By Thowik SEJUK
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Direktur Imparsial: Kehancuran NKRI dimulai dari konflik elit dan identitas politik

Kiri ke kanan: Direktur Imparsial Al Araf, Kakorbinmas Polri Irjen Pol. Arkan Lubis dan Se…