Home Berita JALAN DAMAI KEBANGSAAN LINTAS IMAN BELA NEGARA

JALAN DAMAI KEBANGSAAN LINTAS IMAN BELA NEGARA

3 min read
0
0
526

Aksi Jalan Damai Kebangsaan Lintas Iman Bela Negara di Jakarta dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional (20/5/2017)

 

Kondisi bangsa Indonesia yang tengah berada dalam ancaman perpecahan oleh kebencian dan permusuhan yang benuansa SARA harus segera diakhiri. Karena itu sangat dibutuhkan inisiatif-inisiatif dari setiap anak bangsa untuk bergandengan tangan membangun dan merekatkan kembali ke-Indonesiaan yang majemuk yang terkoyak polarisasi Pilkada DKI yang oleh masyarakat internasional disebut sebagai kemenangan kelompok radikal.

Maka, Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2017 menjadi momen penting bagi komunitas lintas-iman dan pemerintah bersama-sama mengingatkan dan mengajak seluruh elemen bangsa untuk bangun merajut persatuan dan perdamaian dalam semangat cinta tanah air Indonesia. Doa dan komitmen tersebut kami wujudkan melalui “Jalan Damai Kebangsaan Lintas Iman Bela Negara.” Kegiatan ini secara simbolik dilakukan dengan jalan sehat dalam keberagaman yang mengambil rute dari Tugu Proklamasi menuju Megaria, RSCM, Salemba, Matraman Dalam dan kembali ke Tugu Proklamasi untuk menggelar pertunjukan budaya nusantara yang dikuatkan dengan doa dan orasi perdamaian tokoh lintas-iman.

“Jalan Damai Kebangsaan Lintas Iman Bela Negara” menyerukan kepada segenap unsur bangsa terutama untuk mempertahankan konsensus nasional bangsa Indonesia: Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini sebagai pengingat bahwa cara-cara memecah belah bangsa dan merongrong kebersamaan dengan menggunakan isu SARA jauh dari spirit luhur para pendiri bangsa yang dengan mengorbankan jiwa raganya memerdekakan dan mempersatukan Indonesia.

Kedua, aksi bersama lintas-iman ini bentuk komitmen seluruh komunitas agama dan kepercayaan dalam mempertahankan kepemimpinan nasional yang sah dan konstitusional, menentang upaya-upaya “jalanan” yang tidak menempuh jalur demokrasi yang damai dan mengacu pada aturan tertinggi: Konstitusi Republik Indonesia. Ketiga, mengajak seluruh pihak untuk menghormati penegakan dan mekanisme hukum yang konstitusional sebagai langkah mengkonsolidasikan demokrasi yang bermartabat dan berkeadilan dalam semangat ke-Indonesiaan dan kemanusiaan.

Penyelenggara “Jalan Damai Kebangsaan Lintas Iman Bela Negara” adalah FKUB DKI Jakarta, Kesbangpol Provinsi DKI Jakarta, dan PGIW DKI Jakarta yang didukung oleh PBNU, PGI, KWI, PHDI, MATAKIN, WALUBI-NSI, JAI, ANBTI, ICRP, FMKI KAJ, Maarif Institute, SEJUK, Dokter Bhinneka Tunggal Ika, PIKI, Hikmahbudhi, PA GMNI, JKLPK, PGPI, PGLII, Lemkasi. (Thowik SEJUK)

 

Jakarta, 20 Mei 2017

Jalan Damai Kebangsaan Lintas Iman Bela Negara

 

Juru Bicara:

Pdt. Sheppard Supit 081388555311

Nia Sjarifudin 081807576698

Romo J.N. Haryanto 0811156063

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Diversity Award & Fellowship Liputan Keberagaman 2018

Mejalani musim politik bernuansa SARA di era digital bukan perkara mudah bagi media. Tanta…