Home Berita Negara harus fasilitasi mudik ramah disabilitas

Negara harus fasilitasi mudik ramah disabilitas

10 min read
0
0
271

Konferensi Pers Mudik Ramah Anak dan Disabilitas (MRAD) di Tjikini Lima, Cikini, Jakarta (10/6/2017)

Tahun 2017 adalah tahun ketujuh bagi Satuan Tugas Perlindungan Anak (Satgas PA) bekerjasama dengan jaringan dan mitra dalam mengkampanyekan Mudik Ramah Anak dan Disabilitas (MRAD). Seiring waktu berjalan, kegiatan kampanye MRAD menjadi menarik untuk dilanjutkan bahkan dapat dilakukan siapa pun dengan memiliki tujuan yang sama, yaitu rasa kemanusiaan dan kepedulian terhadap kondisi anak Indonesia dan disabilitas di Indonesia.

Tahun ini adalah tahun kedua melakukan uji coba dalam menyelenggarakan mudik ramah disabilitas yang bertujuan mengkampanyekan isu disabilitas dalam pelaksanaan mudik. Hal tersebut merupakan langkah nyata dalam gerakan masyarakat inklusif, yakni masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap penyandang disabilitas sebagai bagian dari (disabilitas) masyarakat mandiri.

Tantangan terpenting dalam isu disabilitas: memberikan masukan agar UU Penyandang Disabilitas terimplementasikan dengan tepat. Sebab, aksesibilitas di Indonesia masih jauh dari harapan bagi penyandang disabilitas, sehingga membuat gerakan menuju kemandirian jadi terhalang.

Kondisi daerah seperti Jakarta, misalnya, telah mulai membenahi fasilitas agar disabilitas dapat mengakses dengan tanpa hambatan dan terlindungi dari bahaya. Kita dapat melihat trotoar dengan ukuran lebih lebar yang ramah disabilitas, dengan guide block dan portal S agar penyandang disabilitas dapat berjalan dengan nyaman dan pengendara motor tidak bisa melewati trotoar. Sarana dan fasilitas trotoar lainnya dibuat dengan permukaan rata serta taman dan ruang terbuka publik juga diberi guide block dan toilet ramah disabilitas agar masyarakat penyandang disabilitas bisa nyaman menikmati taman dan ruang publik. Namun kondisi seperti itu belum tampak di seluruh jalan raya di Jakarta sehingga memudahkan penyandang disabilitas mengakses jalan raya secara aman dan nyaman.

Karena itu, Pemerinatah Jakarta menyediakan transportasi berupa layanan mobil jemputan bagi penyandang disabilitas melalui program Transjakarta Cares. Warga penyadang disabilitas dapat menikmati fasilitas antar jemput ini dengan menghubungi call center 1500 102 satu hari sebelum hari penjemputan, juga pengadaan bus lower deck agar bus Transjakarta mudah untuk dinaikki oleh semua lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.

Selain itu Jakarta juga sudah ada satu pelaksanaan Pergub terkait disabilitas yang mangkrak pada era Jokowi menjadi Gubernur (Peraturan Gubernur No. 24/2013 tentang Lembaga Perlindungan Penyandang Disabiltias Daerah), yakni pembentukan Lembaga Perlindungan Penyandang Disabilitas. Lembaga ini sangat penting dalam rangka perencanaan, pelaksanaan, pembinaan dan pengawasan program disabilitas baik dalam hal pembangunan infrastruktur ramah disabilitas dan pembangunan serta pengembangan potensi dari penyandang disabilitas itu sendiri.

Sebenarnya, sudah ada Rencana Aksi Daerah (RAD) program Pemprov DKI Jakarta dari tahun 2015 hingga 2017 nanti, namun tindak lanjutnya belum optimal. Kita bisa mendorong agar RAD lanjut usia dan penyandang disabilitas dapat dilanjutkan perwujudannya.

Lalu bagaimana dengan daerah lainnya? Bagaimana kesiapan RAD di wilayah yang nantinya akan dilalui oleh pemudik disabilitas misalnya.

Disabilitas juga ingin mudik

Ada alasan mengapa disabilitas pantas untuk diangkat menjadi tema dalam kampanye MRAD. Pertama, publik harus tahu dan sadar bahwa siapa saja dapat terancam dan menjadi disabilitas. Kedua, fasilitas dan layanan atau aksesibilitas di Indonesia masih belum mengakomodir kebutuhan disabilitas. Ketiga, jangan melihat pada disabilitasnya, namun lihat disekitar atau lingkungan disabilitas berada, apa dan siapa yang membuat disabilitas menjadi terhambat dan terbatas. Keempat, kebijakan dalam isu disabilitas masih diskriminatif. Kelima, negara dan pemerintah belum serius menangani kebutuhan aksesibilitas bagi disabilitas. Keenam, banyak hak yang tidak terpenuhi sehingga pelanggaran HAM sangat mudah terjadi.

Kita dapat membayangkan tingkat kesulitan yang dialami orang dengan disabilitas. Misalnya dalam perjalanan waktu, sering terkendala dalam layanan dan fasilitas transportasi, fasilitas toilet umum, tempat untuk beribadah, fasilitas ruang tunggu bahkan kantin atau kafe yang masih setengah hati menyediakannya (fasilitas yang akses). Orang dengan disabilitas pun harus menahan ke toilet atau harus menggunakan pispot dan pampers agar kebutuhan untuk buang air pun dapat dilakukan secara mandiri. Ini semua dikarenakan fasilitas tersebut tidak ada.

MRAD mempraktikkan beberapa hal dalam memfasilitasi mudik ramah disabilitas. Para pemudik disabilitas yang mandiri ini dapat menikmati perjalanan dengan mobil akses dengan tetap dalam kondisi prima, karena setiap 3 jam beristirahat dan secara bergantian dapat merebahkan badan meski di dalam mobil. Petugas terdiri dari driver, teknisi dan pendamping selalu siap sedia membantu pemudik disabilitas sesuai kebutuhannya.

Peserta penyandang disabilitas sedang mendaftar mudik gratis MRAD 2017

Praktik di lapangan

Mudik ke kampung halaman memang sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia menjelang Hari Raya, termasuk juga para penyandang disabilitas. Salah satunya Trian Airlangga, penyandang tunanetra yang mudik ke Bandung menggunakan bus dari Terminal Kampung Rambutan. Setiap tahun menggunakan transportasi publik, Trian merasa layanan mudik yang disediakan belum ramah terhadap para penyandang disabilitas. Misalnya saja tidak adanya guiding block untuk penyandang tunanetra yang tidak terhalang apapun. Untuk sampai ke ruang tunggu Terminal Kampung Rambutan, ia harus berjalan di jalan yang juga dilalui bus. hal Ini membahayakan sekali. Trian juga merasa petugas di terminal belum begitu sigap dalam membantu teman-teman disabilitas. Demikian Trian Airlangga pernah berkisah di Terminal Kampung Rambutan (10/7/2015).

Pengalaman kurang mengenakkan saat menggunakan transportasi umum juga dirasakan Faisal Rusdi, penyandang disabilitas Cerebral Palsy yang mengalami kelumpuhan pada bagian kaki dan menggunakan kursi roda. Ia menuturkan pengalaman pribadinya saat MRAD 2015 lalu. Karena tidak disediakan toilet khusus penyandang disabilitas seperti dirinya, ia kerap menahan buang air dalam waktu yang lama selama perjalanan di atas kereta. Untuk mengatasi kesulitan ini biasanya Faisal memilih untuk tidak minum karena takut kebelet buang air kecil. Sementara jika keseringan puasa air Faisal pun kawatir dengan kondisi kesehatannya terutama ginjal karena kurang minum. Ini sangat menyulitkan kata Faisal Rusdi.

Baik Faisal maupun Trian sama-sama berharap agar layanan mudik dapat menyediakan fasilitas yang aksesibel bagi penyandang disabilitas. Mereka juga berharap agar petugas dan masyarakat bisa lebih aware dan memahami kesulitan yang dialami Trian mau pun Faisal.

Bagi rekan-rekan disabilitas yang ingin ikut mudik gratis program MRAD silakan mendaftar ke Ilma di 0878383703730 atau 081316299752.

 

Jakarta, 10 Juni 2017

Ilma Sovri Yanti (Satgas Perlindungan Anak) dan

Inisiator Mudik Ramah Anak dan Disabilitas (MRAD)

 

Pendukung Mudik Ramah Anak dan Disabilitas (MRAD)

Catur Sigit Nugroho, atlit bowling disabilitas peserta mudik gratis MRAD 2016 dan 2017

Didi, Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) dan pendamping MRAD

Prof. Irwanto, akademisi ahli HAM disabilitas

Trian Gembira, penyandang tuna netra Jakarta Barriers Free Tourism (JBFT)

Tuti, Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI)

Load More Related Articles
Load More By Thowik SEJUK
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Mudik Disabilitas: Perjuangan Mengakhiri Diskriminasi

Catur Sigit Nugroho (kiri) bersama rekan-rekan disabilitas dengan kursi roda menjalani pem…