Home Berita Negara Berkewajiban Selenggarakan Mudik Ramah Disabilitas

Negara Berkewajiban Selenggarakan Mudik Ramah Disabilitas

4 min read
0
0
492

Mudik Ramah Anak dan Disabilitas (MRAD) 2017 di seberang Istana Merdeka (20/6/’17)

PERNYATAAN SIKAP

Mudik Ramah Anak Disabilitas (MRAD) 2017

Pengabaian pemerintah terhadap disabilitas meniscayakan banyak di antara penyandang disabilitas dengan kursi roda yang bertahun-tahun tidak bisa menikmati mudik lebaran sebagaimana warga negara lainnya. Aksesibilitas sarana transportasi yang aman dan nyaman bagi disabilitas masih jauh dari harapan.

Meski tahun ini Dinas Perhubungan menyediakan satu gerbong kereta untuk disabilitas, tidak banyak yang secara finansial dapat menjangkaunya. Khusus disabilitas dengan kursi roda, untuk sampai ke dan dari gerbong, masih harus membayar porter di stasiun, yang artinya harus mengeluarkan dana dua kali lipat. Begitupun inisiatif masyarakat sipil dalam menggelar Mudik Ramah Anak dan Disabilitas (MRAD) 2017 baru bisa menyediakan dua mobil akses dengan total daya tampung 10 orang dan jurusan derah yang terbatas pula.

Kondisi yang jauh dari adil dan setara bagi seluruh warga negara, tanpa terkecuali ini, semakin menegaskan MRAD 2017 untuk menuntut pemerintah konsekuen segera menjalankan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang sudah disahkan sejak April 2016. Salah satu amanat yang diatur dalam UU itu adalah pembentukan Komisi Nasional Disabilitas (KND), yang memiliki fungsi untuk memastikan terimplementasinya penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas, sesuai dengan yang diatur dalam UU Disabilitas.

Sehingga, seluruh warga disabilitas dapat mudik tanpa kendala sebagaimana warga negara lainnya. Hal tersebut merupakan bagian dari hak disabilitas yang wajib dipenuhi oleh negara.

Karena itu sebagai bentuk gerakan moral mendorong aksesibilitas untuk semua tanpa diskriminasi, MRAD 2017 menuntut pemerintah untuk segera:

1.Menyediakan aksesibilitas di seluruh terminal, stasiun dan pelabuhan sehingga segenap warga penyandang disabilitas tidak terkendala dalam melakukan mudik, seperti jalur khusus untuk antri pemesanan tiket sampai naik ke dalam moda transportasi;

2.Pemerintah pusat sampai seluruh pemerintah daerah menjalankan UU Disabilitas dengan memastikan warga disabilitas yang mudik dapat sampai ke rumahnya masing-masing tanpa terkendala, baik fisik maupun non-fisik;

3.Memfasilitasi setiap jenis moda transportasi yang ramah terhadap segenap pemudik disabilitas;

4.Menyediakan pos-pos yang dilengkapi petugas khusus yang senantiasa siaga membantu dan memandu penumpang disabilitas yang mudik;

5.Menyediakan fasilitas-fasilitas seperti rumah ibadah, toilet, dan sarana umum lainnya yang aksesibel bagi penyandang disabilitas;

Demikian sikap dan tuntutan MRAD 2017 sebagai upaya sosialisasi, edukasi dan advokasi dalam pemenuhan hak-hak disabilitas agar mudik tahunan dapat diakses untuk semua tanpa hambatan apapun.

 

Jakarta, 20 Juni 2017

Mudik Ramah Anak dan Disabilitas (MRAD) 2017

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Menlu Retno Marsudi akan Buka Konferensi Jurnalis Peliput Agama se-Asia

  Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengkonfirmasi rencana kehadiran dalam konferensi…