Home Berita Mudik Disabilitas: Perjuangan Mengakhiri Diskriminasi

Mudik Disabilitas: Perjuangan Mengakhiri Diskriminasi

20 min read
0
0
667

Catur Sigit Nugroho (kiri) bersama rekan-rekan disabilitas dengan kursi roda menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum pelepasan mudik ramah disabilitas di depan Wisma Mandiri, MH Thamrin, Jakarta Pusat (23/6/2017)

 

Akhirnya bisa mudik, meski sejujurnya aku tidak ingin merepotkan banyak pihak. Alhamdulillah, sehari sebelum lebaran Idul Fitri aku sampai rumah di Dusun Mulyosari, Kecamatan Prembun, Kebumen, Jawa Tengah. Sayangnya, masih banyak sekali teman-temanku penyandang disabilitas dengan kursi roda yang belum bisa mudik.

 

Namaku Catur Sigit Nugroho. Lebaran kali ini, di usiaku yang ke 35, mendapat kebahagiaan yang luar biasa karena aku mengikuti Mudik Ramah Anak dan Disabilitas (MRAD) 2017. Sehingga, meski memakai kursi roda, aku bisa kembali pulang ke kampung halaman bertemu dengan keluarga tercinta.

Keberuntunganku bermula ketika aku menghadiri media briefing sosialisasi ujicoba mudik ramah disabilitas tahun 2016 di Bank Syariah Mandiri (BSM). Aku sebenarnya sudah pesan tiket ke beberapa moda transportasi. Hanya saja, untuk bisa sampai dan masuk ke moda transportasi publik, tidak ada yang membantu aku dengan kondisiku memakai kursi roda. Sehingga terpaksa aku harus membayar porter ketika sampai terminal, pelabuhan atau stasiun untuk menaiki dan setelah turun dari moda transportasi publik. Karena itu, ketika mendengar BSM akan ujicoba mudik ramah disabilitas, aku mencoba mendaftar.

Harapan untuk mudik hampir pupus, karena BSM saat itu baru ujicoba MRAD 2016 dan hanya menyediakan bus untuk teman-teman disabilitas yang bisa mengaksesnya. Jajaran direksi BSM yang melihat situasiku dengan kursi roda berusaha mencari cara. Terlebih, aku telah menyampaikan bahwa hak mudik bagi disabilitas diamanatkan dalam UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Direksi BSM Edwin Widjajanto kemudian menanyakan kepada inisiator program MRAD Ilma Sovri Yanti dari Satuan Tugas Perlindungan Anak (Satgas PA) tentang kendaraan yang aksesibel yang bisa mewujudkan keinginanku dan teman-teman disabilitas dengan kursi roda untuk dapat mudik seperti warga negara lainnya.

Ilma menelpon Direktur Disabilitas Kementerian Sosial RI Nahar, SH, MSi, dan menanyakan, apakah boleh meminjam mobil akses penyandang disabilitas untuk mudik. Sebab, mobil akses Kemensos selalu standby bila sewaktu-waktu ada laporan masyarakat atau kasus disabilitas yang membutuhkan dan sifatnya darurat.

Jawaban Pak Nahar memberi harapan. Pak Nahar mengatakan sangat penting untuk melakukan ujicoba mudik ramah disabilitas. Hal tersebut lantas dikordinasikannya dengan rekan Direktorat Rehabilitasi Sosial lainnya. Pada akhirnya Pak Nahar mengajak untuk segera menyiapkan dan melakukan cek bersama kondisi mobil akses disabilitas untuk MRAD 2016. Sontak, ruang media briefing BSM berubah menjadi haru dan penuh harap.

Hanya Satu Mobil Akses

Mobil akses penyandang disabilitas milik Kemensos diaudit bersama di halaman Wisma Mandiri, Jakarta Pusat. Direktur Utama BSM saat itu, Pak Agus, yang melihat langsung prosesnya, bertanya kepadaku, apakah mobil akses tersebut nyaman untuk mudik sampai kampung halamanku.

Ketika aku mengiyakan bahwa diriku dan teman-teman disabilitas dengan kursi roda bisa menggunakan mobil akses secara nyaman, Pak Agus pun menyampaikan bahwa BSM akan biayai operasionalnya, selama dapat memastikan bahwa mobil akses dapat digunakan sesuai kebutuhan kami.

Ujicoba MRAD 2016 dengan mobil akses yang diikuti 7 disabilitas dengan kursi roda terwujud berkat dukungan BSM bersama Kementerian Sosial. Evaluasi pun dilakukan di sana-sini setelah program berakhir. Sebagai inisiatif awal, MRAD 2016 menggunakan satu mobil akses karena negara ini (Kemensos) saat itu baru punya satu mobil akses.

Sigit (paling kiri memegang poster) saat aksi Mudik Ramah Anak dan Disabilitas (MRAD) 2017 di seberang Istana Merdeka, Jakarta (20/6/2017)

MRAD 2017 sebagai Ajang Edukasi dan Advokasi

Mudik lebaran 2017 BSM bersama Satgas PA merasa lebih siap. Kami pun membuat panitia bersama dengan beberapa organisasi disabilitas seperti Perhimpunan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) dan menunjuk Koordinator Jakarta Barriers Free Tourism Trian Airlangga sebagai juru bicara MRAD 2017. Trian Airlangga merupakan penyandang tuna netra yang sekaligus seorang motivator dan hypnotherapy yang sangat aktif dalam edukasi dan sosialisasi hak disabilitas.

Selain kembali melibatkan Kemensos RI, MRAD 2017 juga melibatkan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK), GP Ansor dan Dokter Bhinneka Tunggal Ika (DBTI). Hal tersebut sangat kami butuhkan agar sosialisasi dan kerjasama sesama masyarakat untuk menghormati hak-hak disabilitas sampai ke publik secara luas dengan keterlibatan aktif kalangan media atau jurnalis dan masyarakat sipil lainnya.

Konferensi pers, media briefing, dan aksi (di seberang Istana Merdeka) kami lakukan untuk menyampaikan kepada masyarakat terkait kondisi dan berbagai kerentanan disabilitas di Indonesia dan mengingatkan sekaligus menuntut negara agar segera menjalankan aturan dan kebijakan yang sesuai dengan HAM dan UU Disabilitas 2016, yakni menghormati, melindungi dan memenuhi hak-hak disabilitas.

Terkait aksi kami di seberang Istana (20/6/2017), sengaja secara serius kami mengingatkan Presiden Jokowi dan kabinetnya untuk tidak mengesampingkan hak-hak disabilitas yang merupakan warga negara yang mempunyai hak yang sama dan seharusnya diperlakukan secara setara agar dapat mengakses pelayanan publik seperti transportasi dan hak-hak fundamental (pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya).

Sebab, aku, Trian, dan beberapa teman mewakili disabilitas lainnya diundang buka puasa bersama di Istana (16/6/2017) yang difasilitasi oleh Kantor Staf Presiden dengan menghadirkan di antaranya perwakilan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan Kementerian Tenaga Kerja. Pada saat dialog, salah satu dari KSP berpandangan bahwa pemerintah sudah banyak mengurus persoalan lainnya, sehingga seolah-olah buat mereka disabilitas isu pinggiran yang menambah beban negara. Jadi kesan yang muncul, kalaupun pemerintah memberikan perhatian terhadap disabilitas lebih karena “kasihan”, bukan menjadi tanggung jawab atau kewajiban negara.

Yang dibutuhkan kami, para penyandang disabilitas, adalah difasilitasinya kesempatan yang setara seperti warga negara lainnya untuk dapat mengakses pekerjaan dan hak-hak warga lainnya, bukan hanya janji-janji. Jadi tidak betul kami ingin dikasihani dan merepotkan negara. Sebaliknya, kewajiban negara menjamin hak-hak kami sebagaimana diamanatkan UU Disabilitas menjadi pijakan pemerintah.

Kami merasa bangga jika mendapatkan kesempatan yang sama dengan warga negara lainnya. Rasa bangga dan percaya diri akan tumbuh manakala kami para penyandang disabilitas mampu berkarya sebagaimana warga non-disabilitas lainnya.

Kami juga kecewa dengan perwakilan Kemnhub karena menyediakan satu gerbong kereta yang kami tidak tahu informasi lengkap bagaimana mengaksesnya (kapan atau tanggal berapa tersedia, kelasnya apa, berapa harga, dan di mana). Selain itu, tidaklah adil Kemenhub memberikan harga tiket seperti warga negara lainnya, sementara oleh pemerintah kami belum diberikan kesempatan kerja yang setara untuk memenuhi kebutuhan hidup disabilitas. Sehingga, akan terasa sangat tidak adil jika kemudian tiket semua jenis transportasi harganya sama dengan masyarakat lainnya, termasuk satu gerbong kereta sebagaimana dijanjikan PT. KAI.

Namun begitu, kami para penyandang disabilitas sedikit terhibur karena program MRAD 2017 menyediakan dua mobil akses milik Kemensos untuk para pengguna kursi roda dan memberangkatkan 55 disabilitas lainnya (tuna netra, rungu, dan daksa) beserta keluarga yang didukung oleh Bank Syariah Mandiri. Pelepasan mudik ramah disabilitas ini dilakukan di depan Wisma Mandiri, MH. Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat, 23 Juni 2017, dengan tujuan Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Akhirnya bisa mudik, meski sejujurnya aku tidak ingin merepotkan banyak pihak. Alhamdulillah, sehari sebelum lebaran Idul Fitri aku sampai rumah di Dusun Mulyosari, Kecamatan Prembun, Kebumen, Jawa Tengah. Sayangnya, masih banyak sekali teman-temanku penyandang disabilitas dengan kursi roda yang belum bisa mudik.

Menurut data yang kami terima, 40 pengguna kursi roda yang berada di sekitar Jakarta saja tidak bisa ikut program MRAD 2017. Selain kuota dua mobil akses sangat terbatas, mengangkut 10 orang, jurusannya juga terbatas, tidak bisa ke luar Pulau Jawa. Bahkan, salah satu rekan kami, Enny, yang ikut mobil akses hanya sampai di Solo. Padahal rumahnya di Jombang dan kondisi disabilitasnya Enny jenis yang tidak bisa digendong atau “dibopong”, karena tulangnya sangat rentan.

Sigit (paling kiri) menggelar konferensi pers sosialisasi MRAD 2017 dan hak-hak disabilitas di daerah Cikini, Jakarta Pusat (10/6/2017)

Awal Sigit Disabilitas

Rasa syukur tak terkira karena perjalanan mudik tahun ini relatif lancar dan bisa melepas kangen serta berbagi cinta bersama keluarga lebih lama, jika dibandingkan tahun lalu. Kebahagiaan ini juga dialami kolegaku sesama pengguna kursi roda, Arief yang setelah 5 tahun lebih baru bisa merasakan mudik dan berkumpul kembali dengan keluarganya di Karanganyar. Tanggal 30 Juni 2017 aku dan teman-teman berangkat ke Jakarta dengan mobil akses.

Ingatanku pun kembali saat usia 27 tahun, ketika menanggung penyakit yang menyababkan diriku menjadi disabilitas. Sempat bekerja di kantor sebuah perusahaan elektronik di Cikarang dengan posisi HRD, tiba-tiba aku mengalami sakit pada 2008-2009 dan divonis mengidap spondylitis tuberculosis, yang oleh awam disebut sebagai TBC Tulang, hingga tidak bisa berjalan lagi. Sejak menyandang disabilitas, mentalku langsung ambruk. Aku sempat menutup diri bertahun-tahun, tidak keluar dari rumah.

Aku, Sigit, yang kini menjadi atlet bowling disabilitas nasional sebisa mungkin tidak merepotkan orang lain. Begitupun ketika menyandang disabilitas dengan kursi roda. Karena itu, sejak sakit yang menyebabkan kakiku lumpuh sulit untuk bergerak maksimal, aku tetap memiliki keyakinan kuat suatu saat dapat berjalan. Untuk itu pula aku kembali berusaha berobat dengan program ujicoba Stemcell dari RSCM, meski akhirnya tidak berhasil. Aku harus sabar, tabah. Untuk sementara menahan diriku tetap di kampung.

Tahun 2014 aku belum mau menyerah. Aku menulis surat kepada Menteri Sosial yang kemudian direspon. Pada suatu subuh di Desember tahun yang sama, aku dikunjungi dua orang. Salah satu di antara mereka mengajak aku bicara dan terus bertanya dan mendalami apa yang dibutuhkan aku untuk bisa bangkit dari keterpurukan dan kembali mengadu nasib ke Jakarta. Akhirya aku pun harus berkata jujur, untuk bisa bekerja memerlukan motor yang dimodifikasi. Aku tahu Bapak ada uang dan sudah menabung lama. Hanya, uang orang tuaku belum cukup untuk membeli motor bekas modifikasi.

Tanpa sepengetahuanku, ternyata dua orang itu adalah Direktur Orang Dengan Kecacatan (ODK) Kemensos Pak Nahar yang ditemani Farid Ari Fandi dari Satgas Perlindungan Anak yang juga aktif mengadvokasi isu-isu disabilitas. Sepulangnya dari rumahku, Pak Nahar menitipkan sejumlah uang ke Bapak.

Pertemuan tersebut melecut semangatku untuk kembali beraktivitas mengakhiri masa-masa terasing dari hiruk-pikuk kehidupan, apalagi mimpi punya motor modif telah terwujud. Dengan tabungan keluargaku di tambah bantuan dari Direktur ODK aku pun kembali ke Jakarta sampai kemudian menjadi atlet Bowling Disabilitas dan bersama-sama kolega mengadvokasi hak-hak penyandang disabilitas.

Sigit dengan kursi roda usai menjalankan salat Jumat yang harus ditempuh menaiki tangga dengan 20 undakan di mesjid rest area KM 19 Bekasi, Jawa Barat (23/6/2017) sebagai proses MRAD 2017 mengadvokasi dengan audit sarana publik ramah disabilitas.

Mudik sebagai Perjuangan

Mudik Ramah Anak dan Disabilitas (MRAD) 2016 dan 2017 merupakan medium sosialisasi, edukasi, advokasi sekaligus riset dalam memperjuangkan hak-hak kami para penyandang disabilitas. Karena itulah, aku bersama-sama dengan teman disabilitas lainnya bergabung dalam program MRAD.

Mudik menjadi cermin sejauhmana negara punya keberpihakan dalam menjalankan kewajibannya menghormati, melindungi dan memenuhi hak-hak disabilitas, serta inisiatif-inisiatif perjuangan seperti apa saja yang harus kami tempuh untuk mendapatkannya. Sebab, pantang buat kami “dikasihani”. Kami menuntut hak-hak kami sebagaimana tertera dalam UU Disabilitas.

Maka kebahagiaan kami akan benar-benar terbayar apabila tahun 2018 baik negara maupun korporasi atau sektor swasta secara maksimal mendukung MRAD yang mampu menjangkau seluruh warga disabilitas. Fasilitas-fasilitas seluruh moda transportasi, terminal, pelabuhan, stasiun dan rest area serta fasilitas publik pendukung seperti tempat ibadah, WC atau kamar mandi, tempat makan, dan sebagainya harus mudah diakses dan ramah terhadap disabilitas.

Saat ini harus diakui aku masih merasakan kekecewaan yang sangat atas apa yang dialami temanku sesama pengguna kursi roda di Jakarta dan sekitarnya yang belum bisa mudik. Subhan tidak bisa dijangkau MRAD karena mudiknya ke Bangka Belitung. Jujur Saragih juga terpaksa menunggu bisa mudik ke Medan entah kapan negara bisa memfasilitasinya. Begitu pula rekan-rekanku yang merantau di kota-kota besar lainnya di luar Jakarta.

Untuk itulah, tidak ada cara lain kecuali pemerintah segera mewujudkan Komisi Nasional Disabilitas (KND) yang merupakan amanat UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Dengan terbentuknya KND, maka keberpihakan dan penjaminan pemerintah atas hak-hak disabilitas dapat terkawal lebih maksimal. Bentuk-bentuk diskriminasi terhadap disabilitas di berbagai sektor – seperti pendidikan, kesehatan, pekerjaan dan termasuk juga hak untuk mudik ke kampung halaman – bisa lebih mendapat pengawalan. Diskriminasi atas disabilitas pun segera mungkin dikurangi dan diakhiri.

Maka, yang terpenting saat ini adalah bagaimana melibatkan seluruh kelompok disabilitas, elemen masyarakat sipil dan publik secara luas untuk bersama-sama mendesak pemerintahan Jokowi secepat mungkin mewujudkan pembentukan KND.

***Diceritakan ulang oleh Farid Ari Fandi dan Thowik SEJUK

Load More Related Articles
Load More By Thowik SEJUK
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Indonesia Tuan Rumah Konferensi se-Asia Jurnalis Peliput Agama

Wartawan dari negara-negara Asia akan menggelar konferensi untuk membahas bagaimana cara m…