Home Berita Menlu Retno Marsudi akan Buka Konferensi Jurnalis Peliput Agama se-Asia

Menlu Retno Marsudi akan Buka Konferensi Jurnalis Peliput Agama se-Asia

2 min read
0
0
371

 

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengkonfirmasi rencana kehadiran dalam konferensi regional jurnalis peliput agama. Hal tersebut disampaikan Direktur Pelaksana The International Association of Religion Journalists (IARJ) Endy M. Bayuni.

“Ibu Menlu Retno Marsudi akan membuka konferensi jurnalisme agama bertema Reporting Religion in Asia, karena beliau memberi perhatian pada isu-isu hubungan antar-agama,” ujar Pemimpin Redaksi The Jakarta Post ini.

Konferensi yang rencananya diselenggarakan atas kerjasama IARJ, Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) dan Universitas Multimedia Nusantara (UMN), 17-19 Oktober 2017 di kampus UMN, berangkat dari keprihatinan bersama terhadap pemberitaan-pemberitaan tentang agama dan komunitas agama atau keyakinan yang justru tidak sedikit memicu ketegangan atau konflik berbasis keyakinan agama di banyak negara Asia.

Berbagai kalangan seperti para pemimpin redaksi, 15 wartawan Asia yang berafiliasi dengan IARJ beserta beberapa anggota dewan IARJ dari negara-negara Eropa, Australia dan Kanada, 15 wartawan SEJUK, para intelektual agama dan beberapa tamu undangan lainnya akan menghadiri konferensi jurnalisme agama ini. Kalangan akademisi juga akan terlibat, yang diwakili dari UMN, Universitas Padjajaran, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada dan Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi. Di antara yang hadir akan menjadi peserta aktif dan observer.

“Selain mengundang jaringan kerja dan akademis IARJ, SEJUK dan UMN dalam pembukaan konferensi, kami juga mengundang publik untuk menghadiri diskusi Islam & Democracy in Indonesia pada hari ketiga, Kamis, 19 Oktober 2017” ajak Rifah Zainani mewakili panitia konferensi bertema “Reporting Religion in Asia” ini.

Bagi siapa saja yang ingin terlibat dan hadir ataupun ingin meliput agenda-agenda koferensi dapat menghubungi Rifah Zainani (SEJUK) 085719461141 dan F.X. Lilik Dwi Mardjianto (UMN) 081328478380. []

 

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Lewat Jurnalisme Pers Mahasiswa Menangkal Hoax

Suasana kegiatan “Hoax dan Jurnalisme Damai: Pelatihan Jurnalistik untuk Mahasiswa&#…