Home Agenda Undangan Workshop Jurnalis Jawa Barat: Meliput Keberagaman di Tahun Politik

Undangan Workshop Jurnalis Jawa Barat: Meliput Keberagaman di Tahun Politik

8 min read
0
0
959

Menyambut Hari Toleransi Internasional yang diperingati setiap 16 November Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung mengundang jurnalis di wilayah Jawa Barat untuk terlibat aktif dalam workshop jurnalis meliput keberagaman.

Kegiatan ini adalah bagian dari ikhtiar SEJUK sejak 2008 menyebarkan prinsip-prinsip Jurnalisme Keberagaman di kalangan insan pers Indonesia dengan keterlibatan masyarakat sipil, terutama kelompok-kelompok rentan.

Berikut ini informasi lengkap terkait workshop SEJUK dan AJI Bandung untuk jurnalis:

Latar Masalah

Peran apa yang bisa diambil media di tahun-tahun politik ketika fake news, hoax atau scam bertebaran? Bagaimana memulihkan kepercayaan publik yang terus tergerus terhadap media sementara semakin banyak website atau blogspot yang memprovokasi sentimen suku, agama, ras atau etnis dan antargolongan (SARA) dan justru menjadi acuan kebenaran yang diyakini masyarakat?

Lalu, bangunan demokrasi seperti apa yang hendak didorong pers Indonesia – sebagai pilarnya yang keempat – setelah terbongkarnya Saracen mesin penyebar berita bohong terkait (SARA)?

Melalui penyebaran berita bohong, radikalisme agama semakin agresif, eksesif dan meluas karena diteruskan di media sosial (medsos). Pada gelaran Pilkada DKI Jakarta, misalnya, radikalisme yang mempertontonkan berbagai bentuk intimidasi dan kekerasan atas nama agama, terkonsolidasi dan massif memecah-belah masyarakat. Sebab, kepadatan lalu-lintas pemberitaan isu SARA, terutama di media online yang diviralkan media sosial ataupun sebaliknya dari informasi viral di medsos yang diramaikan media mainstream, melebarkan polarisasi.

Turunan lebih lanjut, medsos digunakan sebagai alat provokasi aksi-aksi persekusi dengan menarget warga yang berbeda pandangan atau keyakinan, agama, etnis, ideologi, dan politik. Beberapa korban persekusi dikriminalisasi, bahkan ada yang dipenjara. Pemantauan Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) Indonesia, dari Januari sampai Juni 2017 saja mencatat 90 kasus persekusi. Ketegangan hubungan antar-iman dan etnis ini terus menyebar di banyak wilayah. Bukan tidak mungkin praktik-praktik intoleransi bahkan persekusi marak dalam pilkada serentak 2018 serta Pilpres 2019.

Hal itu diperburuk penyuguhan berita dengan informasi mentah, verifikasi lemah, narasumber tidak terpilah, judul dan penggunaan diksi provokatif dalam mengabarkan kasus-kasus bernuansa SARA. Sementara, banyak portal berita bukan mainstream seperti blogspot serta situs-situs yang mencatut nama media mainstream dan tentunya tidak sedikit yang luput dari pantauan Dewan Pers – yang awal tahun 2017 mendata jumlah media online mencapai 43.000 – turut memperumit banjir informasi di era post-truth ini.

Jadi, membangun jurnalisme damai yang menghormati dan mempromosikan keberagaman, mengharmoniskan relasi antariman adalah jalan terjal yang harus ditempuh bersama-sama oleh banyak pihak. Maka dari itulah kampanye jurnalisme keberagaman oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) membutuhkan intensitas dan menuntut jangkauan yang lebih luas dalam mempromosikannya, terutama kepada para jurnalis dan organisasi profesi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang bekerja di wilayah-wilayah yang akan menghadapi pilkada 2018, dengan penduduk yang padat dan akses internetnya tinggi.

 

Nama Kegiatan

Workshop Jurnalis Meliput Keberagaman di Tahun-tahun Politik

Tujuan

Meningkatkan kritisisme dan sensitivitas di kalangan jurnalis dalam menghadapi berita bohong atau hoax berbasis SARA

Keluaran

  • Kesadaran peserta workshop terangkat untuk mempromosikan isu keberagaman berdasarkan perspektif konstitusi dan hak asasi manusia;
  • Komunikasi di antara peserta serta antara peserta dengan SEJUK dan AJI terjalin lebih akrab dan intens dalam menyiasati isu-isu berbasis SARA;
  • Perspektif jurnalisme keberagaman berkembang di kalangan jurnalis dan anggota AJI Bandung;
  • Kesadaran peserta workshop terhadap pentingnya mempromosikan jurnalisme keberagaman menjadi bagian dari kerja-kerja jurnalistik mereka.

Waktu dan Tempat

Kegiatan workshop jurnalis ini akan dilangsungkan sekaligus dalam rangka menyambut Hari Toleransi Internasional 16 November.

Waktu   : Selasa-Rabu, 14-15 November 2017

Tempat :  Bandung, Jawa Barat (lokasi kegiatan akan diinformasikan kepada peserta terpilih)

Narasumber

  1. Andy Budiman: Pernah menjadi pengurus pusat AJI dua periode, jurnalis di KBR 68H, produser Liputan6 & host talkshow di SCTV, dan terakhir pernah menjadi redaktur Deutsche Welle
  2. Daniel Awigra: Manajer HAM ASEAN Human Rights Working Groups (HRWG)
  3. Saidiman Ahmad: Peneliti Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC)
  4. Uni Zulfiani Lubis: Pernah menjadi pemimpin redaksi di Majalah Panji Masyarakat dan ANTV, sekarang Pemimpin Redaksi Rappler Indonesia

Fasilitator:

Budhi Kurniawan, jurnalis Kompas TV dan pernah di KBR 68H

Tantowi Anwari, Manajer Advokasi SEJUK

Kepesertaan dan Pendaftaran

Workshop Jurnalis Meliput Keberagaman di Tahun-tahun Politik akan melibatkan 25 jurnalis dari wilayah Jawa Barat yang akan diseleksi AJI Bandung dan SEJUK. Bagi calon peserta yang mendaftar diharapkan mengirim pendaftaran ke email daftar.sejuk@gmail.com dengan menyertakan foto kartu pers dan surat penugasan dari kantornya (media tempat bekerja).

Batas akhir pendaftaran: Jumat, 10 November 2017 pukul 23.59 WIB.

Kepanitiaan

Kegiatan workshop ini kerjasama Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung. Untuk informasi lebih lanjut terkait workshop dapat menghubungi Rifah Zainani (085719461141) dan Ari Syahril Morgan (087824412391)

Penutup

Demikian Kerangka Acuan “Workshop Jurnalis Meliput Keberagaman di Tahun-tahun Politik” sebagai penyambut Hari Toleransi Internasional 16 November. Terima kasih kami sampaikan atas perhatian dan kerjasama dari berbagai pihak yang terlibat dan menyokong inisiatif-inisiatif damai dan kampanye keberagaman melalui kerja-kerja jurnalistik dalam workshop ini.

 

**Kegiatan workshop ini ditaja Royal Norwegian Embassy

 

Jakarta, 30 Oktober 2017

Penanggung jawab,

 

Ahmad Junaidi

Direktur SEJUK

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Agenda

Leave a Reply

Check Also

Diversity Award & Fellowship Liputan Keberagaman 2018

Mejalani musim politik bernuansa SARA di era digital bukan perkara mudah bagi media. Tanta…