Home Berita Lewat Jurnalisme Pers Mahasiswa Menangkal Hoax

Lewat Jurnalisme Pers Mahasiswa Menangkal Hoax

3 min read
0
1
408

Suasana kegiatan “Hoax dan Jurnalisme Damai: Pelatihan Jurnalistik untuk Mahasiswa” di Jakarta (11/11/2017)

Berbeda ideologi adalah hal wajar dan harus dihormati. Tetapi ketika seseorang dengan ideologinya tampil dengan menyebar kebohongan yang mendorong kekerasan dan merampas hak asasi manusia, maka harus dilawan. Melawan hoax tidak selamanya efektif menggunakan counter narrative, sangat diperlukan juga alternative narrative.

Itu sekelumit simpulan yang berkembang dari sebuah diskusi bersama kalangan pers mahasiswa dari beberapa daerah yang mengikuti “Hoax dan Jurnalisme Damai: Pelatihan Jurnalistik untuk Mahasiswa” di bilangan Cikini yang didukung oleh Kedutaan Amerika Serikat (11/11/2017).

Kegiatan yang difasilitasi Kumkum, panggilan akrab Ignatius Haryanto, menghadirkan Rut Rismanta Silalahi dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Donny BU dari ICT Watch dan mewakili Kementerian Informasi dan Informatika (Keminfo) dan Tantowi Anwari dari Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK).

“Berita hoax, di antaranya, mudah dikenali dari judul dan headline dengan framing yang bombastis,” kata Rut Silalahi.

Maka jika menemukan informasi-informasi seperti itu, lanjut Rut, langsung cek dengan memverifikasi ke ahlinya atau dengan melacak (searching) sumber berita atau gambarnya, menelusuri sampai yang paling pertama diunggah. Dari sanalah akan mudah diketahui apakah sumber dan medianya kredibel sehingga informasinya bisa dikatakan sahih atau palsu.

Dari kiri ke kanan: Rut Silalahi, Donny BU dan Ignatius Haryanto

Pelatihan yang digelar 11-12 November 2017 ini bertujuan memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang jurnalisme damai dan penerapannya dalam pemberitaan sekaligus bagaimana mengenali hoax dan melakukan antisipasi atau menangkalnya dengan prinsip-prinsip dasar jurnalistik. Berikutnya akan digelar 25-26 November 2017 di Semarang. Pendaftaran peserta masih dibuka dengan mengirim ke riasusanti@yahoo.com paling lambat 15 November 2017.

Koordinator program dari kegiatan ini, Fransisca Ria Susanti, memaparkan bahwa gerakan radikalisme dan kebencian terhadap kelompok yang berbeda meningkat seiring dengan munculnya situs-situs media online serta penyebaran informasi yang melanggar prinsip-prinsip dasar jurnalistik. Ironisnya, sambung perempuan yang disapa Santi, bukan hanya kalangan menengah ke bawah maupun kalangan tidak terdidik yang gampang dipengaruhi oleh informasi ini, tapi juga kalangan terdidik dan terpelajar, termasuk mahasiswa.

Begitulah alasan Santi dan timnya berikhtiar untuk melibatkan mahasiswa dalam bentuk pelatihan-pelatihan seperti ini.

“Ketika sebuah kebohongan diyakini sebagai kebenaran dan disebarluaskan secara massif maka yang muncul kemudian adalah masyarakat irasional yang gampang digerakkan oleh amuk,” kata Santi.

 

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Undangan Workshop Jurnalis Jawa Barat: Meliput Keberagaman di Tahun Politik

Menyambut Hari Toleransi Internasional yang diperingati setiap 16 November Serikat Jurnali…