Home Berita Dari Nabi Muhammad Umat Islam Indonesia Hendaknya Hidupkan Toleransi

Dari Nabi Muhammad Umat Islam Indonesia Hendaknya Hidupkan Toleransi

3 min read
0
0
188

Ketua Pengurus Cabang Nahdatul Ulama Bogor KH. Romdon M.Ag. MH menyatakan bahwa pentingnya ada ideologi bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia yang rakyatnya terdiri dari berbagai macam suku, agama dan ras. Ideologi tersebut adalah Pancasila.

“Tidak mungkin ada Indonesia kalau tidak ada Islam, Hindu, Buddha, dan lainnya. Maka, meneladani Nabi Muhammad dalam mengelola perbedaan menjadi sangat penting. Sebagaimana yang Beliau lakukan di Madinah dengan membuat kesepakatan hidup bersama di tengah masyarakat yang beragam yang dikenal dengan Piagam Madinah,” ujar Romdon yang menjadi salah seorang narasumber dalam seri Pengajian Sejuk di depan ratusan mahasiswa pada Kamis malam (30/11/2017) di Fakultas Ekonomi dan Managemen Institute Pertanian Bogor (IPB).

Dalam Pengajian Sejuk yang bertema Sang Pelita Perdamaian: Teladan Toleransi dari Nabi Muhammad SAW dalam rangka memperingati Maulid Nabi, Romdon menyampaikan ajakan kepada para peserta bahwa sebagai bangsa yang besar, kita patut bersyukur hidup di Indonesia yang beragam. Karena di dalam Islam sendiri, perbedaan dan keberagaman adalah keniscayaan.

“Keberagaman itu adalah bentuk kebesaran Allah SWT. Sehingga, salah satu dari inti ajaran Islam adalah hidup bersama walaupun berbeda,” sambung Romdon dalam diskusi yang digelar Aliansi Kebinekaan secara rutin di kampus-kampus untuk melibatkan generasi muda dalam diskursus keagamaan yang lebih kritis dan terbuka.

Sementara menurut narasumber lainnya, KH. Ahmad Ikrom, SH.I, Dosen Universitas Nahdatul Ulama Jakarta menengatakan bahwa akhir-akhir ini banyak kekerasan atas nama agama. Ajaran teladan dari leluhur tentang hidup saling mengasihi dan bekerjasama sudah ditinggalkan.

Rasulallah ketika disakiti dan dicaci maki, Beliau memilih untuk tidak membalasnya. Beliau mengatakan, “Aku diutus di muka bumi bukan untuk melaknat atau mencaci maki, tetapi untuk menyempurnakan akhlak manusia”.

“Di antara akhlak yang sempurna adalah akhlak mengasihi sesama,” Ikrom menegaskan.

Baginya, orang Islam yang baik itu harus mengimani semua kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah SWT, bukan justru mencaci makinya.

“Bagaimana dapat mengenal ajaran agama lain, jika mempelajari al-Qur’an saja masih sepotong-sepotong tidak sampai pada asbabun nuzulnya,” kata Ikrom.

Sementara menurut Dodi, Kapolsek Kecamatan Dramaga, Kabuoaten Bogor, model pengajian dengan menggali keteladanan nilai-nilai kedamaian yang dihidupkan oleh Rasullloah sangat baik sekali di tengah menguatnya radikalisme di kalangan anak muda yang masih mencari jati diri yang tanpa disadari telah mempengaharuinya. [Rifah Zainani]

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Diversity Award & Fellowship Liputan Keberagaman 2018

Mejalani musim politik bernuansa SARA di era digital bukan perkara mudah bagi media. Tanta…