Home Berita Djohan Effendi Peletak Dasar Jembatan Lintasiman Indonesia

Djohan Effendi Peletak Dasar Jembatan Lintasiman Indonesia

6 min read
0
0
484

Djohan Effendi Memorial Lecture (Steffi: 10/1/2017)

Seorang antipluralis sangat berbahaya. Dia tidak bersedia berbagi tempat dengan orang lain yang tidak sepaham dengannya, juga tidak bersedia menerima kehadiran orang lain yang berbeda apalagi bertentangan dengannya. Akibat lebih lanjut, kalau seorang antipluralis memegang kekuasaan, dia akan memaksakan pikiran dan pendiriannya kepada orang lain.

Pernyataan di atas merupakan kutipan atas pandangan almarhum Djohan Effendi yang disampaikan Prof. Dr. Siti Musdah Mulia dalam “Djohan Effendi Memorial Lecture” bertema Kemanusian Meneguhkan Kebangsaan yang diselenggarakan Indonesian Conference on Religions for Peace (ICRP) bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Rabu (10/1/2018) di Auditorium Widya Graha LIPI, Jakarta Selatan.

Pesan-pesan Djohan Effendi yang dipilih Musdah Mulia Rabu sore ini sangat relevan dengan situasi terkini masyarakat yang semakin tidak toleran dan para elit yang mempolitisasi agama dengan mengorbankan warga dan kelompok-kelompok rentan.

Sehingga dalam kuliah mengenang 40 hari meninggalnya Djohan Effendi ini, intelektual Muslim sekaligus Ketua Umum ICRP itu meneruskan kecemasan Nabi Muhammad yang mengingatkan praktik beragama umatnya, “Aku khawatir akan datang suatu zaman kekacauan, ketika Islam tinggal nama, Alquran tinggal aksara, mesjid-mesjid mereka penuh sesak tapi kosong dari petunjuk, ulama-ulama mereka adalah sejahat-jahat manusia di bawah kolong langit, dari mereka muncul fitnah dan kepada mereka pula fitnah itu kembali.”

Kendati sinyalemen Rasul tersebut ditujukan kepada umat Islam, sambung Musdah di hadapan 300 lebih audiens yang terdiri dari jaringan lintas-iman, para sahabat dan keluarga Djohan Effendi, tetapi menurut tokoh pencetus gerakan pluralisme yang pernah menjabat Menteri Sekertariat Negara di era pemerintahan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bahwa umat-umat beragama lain pun mengalami gejala yang tidak jauh berbeda.

Konsistensi dan keteguhan Djohan Effendi dalam menghidupkan toleransi dan dialog lintasagama dan kepercayaan di Indonesia melekat kuat dalam ingatan para aktivis dan pemerhati isu kebebasan beragama yang mengenalnya baik secara langsung maupun lewat karya-karyanya. Sebab, cara Djohan yang sangat kritis terhadap formalisme beragama ini dibungkus dengan sosoknya yang mendamaikan dan sabar dalam mendengar serta menghargai bahkan setiap pendapat yang disampaikan generasi yang sangat muda sekalipun.

“Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat rendah hati, tidak banyak bicara, lebih suka mendengar. Beliau bukanlah tokoh selebriti yang suka berada di depan, melainkan lebih suka menyembunyikan diri di belakang layar. Di sisi lain, beliau sangat terbuka dan sangat perhatian serta dapat mudah akrab dengan siapapun, khususnya kalangan bawah,” kenang Musdah.

Sementara dalam sambutan pembuka, selaku ketua panitia acara Johannes Hariyanto, Sj menegaskan warisan berpikir Djohan yang memandang keberagaman bukanlah sebuah ancaman, melainkan kekuatan. Bagi rohaniawan yang akrab disapa Romo Hary ini, Djohan dikenal banyak kalangan sebagai orang yang membangun jembatan antarsemua manusia yang beragam.

“Djohan Effendi adalah keluarga, sahabat, dan guru bagi setiap masyarakat yang merindukan dan mencita-citakan perdamaian di tengah kemajemukan bangsa,” ujar Romo Hary.

Pada acara yang disertai peluncuran perpustakaan buku-buku pribadi Djohan Effendi dan peluncuran buku suntingan Ahmad Nurcholish dan Frangky Tampubolon berjudul “Djohan Effendi: Cerita para Sahabat,” Romo Hary kembali menirukan kelantangan Djohan yang mengatakan, “Saya menentang semua bentuk diskriminasi dan ketidakadilan kapanpun, di manapun, dalam hal apapun. Dalam hal ini, tidak ada kata kompromi.”

Selain Musdah Mulia dan Romo Hary, pada kesempatan yang sama disampaikan pula testimoni-testimoni dari para sahabat lainnya tentang sosok dan pemikiran-pemikiran inspiratif Djohan Effendi –beberapa tertuang dalam buku Djohan Effendi: Cerita para Sahabat– yang menurut mereka saat ini semakin penting dalam merekatkan kembali relasi anak bangsa yang terus terbelah oleh politisasi SARA.

Penulis: Felicia, Ladya dan Steffi

Penyunting: Thowik

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Seksualitas, Politik dan Gerakan Perempuan Islam Indonesia

Dokomentasi: Thowik SEJUK (17/1/2018) Buku berjudul “Potret Gerakan Perempuan Muslim Progr…