Home Berita Intoleransi disebut penyakit bahaya, para dokter harus ikut sembuhkan bangsa

Intoleransi disebut penyakit bahaya, para dokter harus ikut sembuhkan bangsa

5 min read
0
0
413

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Mayjen Pol (Purn.) Drs. Sidarto Danusubroto S.H. menegaskan bahwa sektarianisme akut sedang menjangkiti bangsa ini. Karena itulah para dokter harus turun tangan menyelamatkan bangsa karena sektarianisme dan intoleransi beragama bukan hanya gejala sosiologis, melainkan gejala psikologis yang memerlukan penanganan tersendiri.

Ajakan Sidarto kepada para dokter di Indonesia tersebut disampaikannya dalam Diskusi Kebangsaan bertema Polotik dari Sudut Pandang Kedokteran yang digelar Dokter Bhinneka Tunggal Ika (DBTI) dan Forum Stovia di Gedung Stovia, Museum Kebangkitan Nasional Jakarta, Minggu siang (14/1/2018). Keterlibatan para dokter dalam penyelamatan bangsa ini buat Sidarto sangat beralasan, mengingat gejala intoleransi dan diskriminasi sudah sampai ke para dokter.

“Disinyalir ada satu dua dokter yang menolak melayani pasien yang tidak seiman,” ungkapnya ketika membacakan pidato sebelum diskusi yang menghadirkan pakar neuroscience, psikiatri, dan filsafat kedokteran dimulai.

Kedokteran dalam sejarahnya, sambung Sidarto, tidak pernah menyentuh dunia politik. Kebenaran dalam dunia kedokteran 20 tahun yang lalu berbeda dengan kebenaran tahun ini. Begitupula dengan kebenaran 20 tahun mendatang. Jadi, aneh rasanya jika melihat dunia politik dari sisi kedokteran.

Namun begitu, penyakit sosial yang ada pada zaman ini mendorong konsentrasi dari berbagai pihak, termasuk dokter-dokter, untuk bersama-sama menyembuhkan persoalan ini. Luka sosial yang menurut Sidarto sudah cukup parah, merupakan dampak dari Pilkada DKI tahun lalu. Ia pun mengutarakan kecemasannya, bahwa saat ini ada penyakit yang lebih berbahaya, yakni intoleransi.

Bahkan, lanjutnya, akibat yang ditimbulkan intoleransi sudah sampai pada kondisi yang membahayakan kesehatan masyarakat. Sementara, lingkungan yang sakit akan membawa penyakit bagi manusia yang tinggal di dalamnya.

“Saat difteri sudah diumumkan sebagai keadaan luar biasa ada sekelompok orang yang berkampanye anti vaksinasi difteri berdasarkan alasan keagamaan,” ujar Sidarto.

Anggota Wantimpres Sidarto Danusubroto dalam diskusi kebangsaan Dokter Bhinneka Tunggal Ika dan Forum Stovia di Museum Kebangkitan Nasional Jakarta (14/1/2018)

Dunia sosial yang mulai sakit membawa pengaruh besar bagi biologi dan psikologi yang ikut sakit. Karena itu, Sidarto ingin mengembalikan warisan semangat kebangsaan dokter-dokter nasionalis di masa-masa revolusi kemerdekaan agar diteruskan dan diterjemahkan secara kontemporer oleh dokter-dokter nasionalis milenium baru di republik ini.

Ia pun mendorong para dokter nasionalis agar menemukan formula untuk mengatasi radikalisme dan intoleransi.

Acara diskusi ini disertai pembacaan Petisi Kebangsaan Dokter Bhineka Tunggal Ika. Petisi yang ditandatangani oleh 568 dokter dan dokter gigi Indonesia ini kemudian dititipkan kepada Mayjen Pol (Purn.) Drs. Sidarto Danusubroto S.H. untuk disampaikan kepada Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Dalam petisi ini Dokter Bhinneka Tunggal Ika kembali mengingatkan para dokter dan masyarakat Indonesia bahwa dunia kedokteran juga berperan dalam usaha menciptakan kesatuan dan kebhinekaan Indonesia.

Selain Sidarto dari Wantimpres, diskusi kebangsaan ini dihadiri pula Prof. DR. Dr. Daldyono, Dr. Ryu Hasan SpBS, dr. Dharmawan Purnama SPJ. PhD., dan Budiman Sudjatmiko, M.Sc, M.Phil (Anggota DPR RI) dengan dipandu Dr. Mariya Mubarika dan Dr. Putu Moda Arjana.[]

 

Penulis: Felicia, Steffi dan Ladya

Penyunting: Thowik

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Tahun Politik Ancaman Serius Toleransi?

  Oleh: Fanny S Alam Belum hilang ingatan publik yang dikejutkan penyerangan terhadap…