Home Agenda Workshop Pers Mahasiswa: Jurnalisme Melawan Hoax SARA di Tahun Politik

Workshop Pers Mahasiswa: Jurnalisme Melawan Hoax SARA di Tahun Politik

6 min read
0
3
4,992

 

Undangan

Workshop Pers Mahasiswa Meliput Keberagaman

“Jurnalisme Melawan Hoax SARA di Tahun-tahun Politik”

Bandung 2018

 

Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (Pilkada) serentak akan digelar tahun ini di 171 titik. Penggunaan isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) untuk kampanye atau menjatuhkan saingan sudah tampak di beberapa daerah. Hoax SARA, terutama di media sosial, pun sulit terhindarkan.

Hal tersebut sudah menjadi pola di setiap penyelenggaraan pesta demokrasi sejak Brexit (Inggris) yang disusul kemenangan Donald Trump di Amerika Serikat serta menguat dan meningkatnya suara partai-partai sayap kanan yang mengumbar Islamofobia, kebencian terhadap imigran dan anti Uni-Eropa seperti di Belanda, Perancis dan Jerman.

Dalam konteks bangsa ini, Pilkada “brutal” DKI Jakarta yang menunggangi SARA berdampak pada polarisasi dan kebencian dengan nuansa permusuhan yang sampai berbentuk persekusi berbasis agama dan etnis. Saat bersamaan, wabah penyebaran hoax mengkonsolidasikan gerakan-gerakan anti-demokrasi dan perendahan hak asasi manusia (HAM), baik melalui media sosial maupun media mainstream.

Melalui teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih dan murah, wabah hoax di media sosial lekas mengubah wajah publik bangsa ini. Gairah kebencian, kecurigaan dan permusuhan terhadap perbedaan agama, etnis atau hal lainnya yang dianggap asing dan dituduh tidak sejalur dengan norma-norma konservatif (ortodoksi agama) bertebaran di media sosial. Revolusi teknologi informasi ini bukan malah menciptakan keterbukaan dan kedewasaan, sebaliknya kecenderungan ekslusif, fanatik, intoleran dan diskriminatif di kalangan masyarakat dan pemerintah Indonesia terus meningkat.

Sementara itu, tidak sedikit jurnalis maupun media massa masih gagap, sehingga menghindari (self-censorship) isu SARA atau memberitakannya dengan bias, menyudutkan kalangan minoritas. Minimnya kesadaran untuk membuat berita-berita yang berkesesuaian dengan Konstitusi, prinsip-prinsip HAM dan toleransi menjadi salah satu penyebab. Sehingga, hampir tidak banyak dampak pemberitaan dalam mengkonsolidasikan demokrasi yang berkeadilan bagi komunitas rentan.

Maka, harus ada inisiatif-inisiatif yang dapat merspon dengan baik dan produktif situasi di era post-truth ini melaui kerja-kerja jurnalistik yang lebih ramah terhadap keberagaman. Ikhtiar mengembangkan jurnalisme keberagaman yang merawat kebinekaan, memihak kelompok-kelompok rentan menjadi pilihan dalam menghidupkan semangat toleransi dan perdamaian.

Sebagai rangkaian perayaan 10 Tahun Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK), kami bekerjasama dengan Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit (FNF), LPM Suaka UIN Sunan Gunung Djati dan Isolapos Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung mengundang rekan-rekan jurnalis kampus untuk terlibat aktif dalam Workshop Pers mahasiswa Meliput Keberagaman bertema Jurnalisme Melawan Hoax SARA di Tahun-tahun Politik. Kegiatan ini menjadi ruang bersama kalangan pers mahasiswa merespon situasi kebinekaan mutakhir dan bagaimana merumuskan strategi kampanye jurnalisme keberagaman melalui media kampus dan media sosial.

Workshop ini akan digelar pada 24 – 27 Februari 2018 di Bandung. Lokasi workshop akan diinformasikan langsung kepada peserta terpilih.

Cara mendaftar:

Bagi rekan-rekan jurnalis kampus yang ingin bergabung, sila mengirimkan ke daftar.sejuk@gmail.com:

  1. CV dengan menyertakan posisi atau jabatan saat ini di lembaga pers mahasiswa beserta nomer telpon;
  2. Tulisan bertema keberagaman (gender, agama/keyakinan, etnis, LGBT, dan isu-isu minoritas lainnya) yang sudah ataupun belum dipublikasikan;
  3. Pernyataan Lembaga Pers Mahasiswa yang memberikan jaminan bahwa, jika terpilih menjadi peserta, hasil praktik reportase dalam Workshop Meliput Keberagaman ini akan diterbitkan di medianya (ini bukan kewajiban, tetapi akan menjadi pertimbangan panitia seleksi).

Para pendaftar sebelumnya yang tidak lolos seleksi pada workshop SEJUK yang sudah lewat silakan mendaftar lagi.

Subject email ditulis: Workshop Persma-Bandung-(nama pengirim)-2018.

Persyaratan mengikuti workshop di Bandung ini paling akhir dikirim 15 Februari 2018. Para peserta terseleksi diumumkan 17 Februari 2018.

Akomodasi peserta ditanggung panitia. Panitia juga menanggung transportasi yang menggunakan tiket resmi kereta api dan bis. Namun begitu, kami sangat mengapresiasi apabila peserta berkontribusi mengusahakan biaya transportasi sendiri, baik bersumber dari kampus ataupun lainnya. Tiket pesawat menjadi kontribusi peserta yang diupayakan kepada kampusnya masing-masing.

Demikian undangan ini kami sampaikan. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

 

Jakarta, 22 Januari 2018

Hormat kami,

Ahmad Junaidi

Direktur SEJUK

 

**Untuk informasi lebih lanjut hubungi Rifa: 085719461141

 

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Agenda

Leave a Reply

Check Also

Tahun Politik Ancaman Serius Toleransi?

  Oleh: Fanny S Alam Belum hilang ingatan publik yang dikejutkan penyerangan terhadap…