Home Berita ISTRI TERORIS BUKAN TERORIS!

ISTRI TERORIS BUKAN TERORIS!

2 min read
0
0
656

 

 

“Siapa sih yang ingin menjadi seorang istri teroris?” Pertanyaan ini dilontarkan salah seorang istri pelaku terorisme, Umi, di hadapan peserta diskusi Hasil Survei Nasional: Tren Toleransi Sosial-Keagamaan di Kalangan Muslim Indonesia dan Halaqah Perempuan untuk Perdamaian yang digelar Wahid Foundation di Kuningan, Jakarta Selatan (29/1/2018).

Tidak mudah menjadi seorang perempuan yang sudah menikah dan terjadi musibah yang dialami keluarganya. Suami yang masuk penjara akibat kasus terorisme membuat Umi harus lebih berkerja keras dari sebelumnya. Belum lagi dirinya langsung mendapat cemooh ketika orang-orang membicarakan tentang suaminya dan mengaitkan pada diri Umi yang tidak tahu-menahu.

Demikian kisah Umi yang mengungkapkan tekanan-tekanan yang dirasakannya. Ia berharap publik memahami dan bukan menghakimi dirinya dan keluarganya, karena ia hanya seorang istri yang kebetulan suaminya pelaku terorisme.

“Jika kalian ingin mengetahui apa yang terjadi terhadap suami saya, saya akan mempertemukan kalian! Tapi tolong jangan seperti ini! Jangan membuat saya tertekan!” ujar Umi yang ketika menyampaikan testimoninya kerap dibarengi tangis, meskipun ia tampak berulang kali mencoba menahannya.

Ia pun mengaku sudah tidak tahan lagi dengan semua tekanan batin yang selama ini terus menindihnya. Umi harus menanggung semua akibat kesalahan yang diperbuat suaminya. Ia harus berhenti kerja karena cemoohan orang yang tidak pernah berhenti.

Karena itu ia sangat menaruh harapan kepada masyarakat luas untuk tidak pernah menilai orang hanya dari masa lalu saja. []

Penulis: Steffi

Editor: Thowik

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Tahun Politik Ancaman Serius Toleransi?

  Oleh: Fanny S Alam Belum hilang ingatan publik yang dikejutkan penyerangan terhadap…