Penyegelan GKI Yasmin Bogor, HKBP Filadelfia Bekasi, 17 Gereja di Singkil Aceh; penyerangan warga Syiah Sampang; tidak meredanya kekerasan terhadap jemaat Ahmadiyah; penyerangan diskusi Irshad Manji di LKiS; dan penggagalan konser Lady Gaga adalah sedikit yang bisa didaftar dari rangkaian aksi intoleransi berkedok agama yang mengemuka belakangan ini.
Banyak sudah yang terluka karena berbeda. Dalam kondisi demikian, negara yang seharusnya berperan sebagai penjamin rasa aman bagi warganya tanpa melakukan pembeda-bedaan atas dasar apa pun, justru cenderung membiarkan aksi kelompok-kelompok radikal.
Tentu saja, situasi ini tidak bisa didiamkan. Berbagai upaya telah dilakukan masyarakat sipil. Dengan intuisi kemanusiaan, masyarakat pun mulai bahu-membahu menolong para korban kekerasan atas perbedaan, mendampingi korban, dan melakukan berbagai kampanye melawan cara pandang penyeragaman. Akan tetapi, kerja-kerja tersebut dirasa belum cukup tanpa melibatkan publik lebih luas lagi. Karena selama ini publik luas memiliki kecenderungan mencari rasa aman bagi dirinya sendiri. Mereka terkena sindrom yang sering disebut the silent majority.
Untuk itu, gerakan #BedaIsMe lahir bertepatan dengan ulang tahun Pancasila 1 Juni. Sebagai sebuah gerakan, BedaIsMe memiliki tujuan untuk memperkuat solidaritas sesama anak bangsa untuk hidup dan merayakan keberagaman di Indonesia. Untuk itu #BedaIsMe terus mendorong pemerintah untuk menjalankan konstitusi. Dengan semangat tidak akan pernah lelah mencintai Indonesia, kita ingin merombak tanpa merusak. Melalui berbagai bentuk kreativitas: musik, fotografi, film, tarian, monolog, dan sebagaianya kami mengada. Kami hadir demi persatuan Indonesia. Kami satu jiwa dengan seluruh elemen bangsa yang menjadikan Pancasila sebagai nafasnya.
#BedaIsMe sendiri adalah ruang kreativitas kultural, di mana untuk mengajak partisipasi sebanyak mungkin pihak, diperlukan cara dan pendekatan yang berbeda.
Dalam pekan #BedaIsMe ini yang dibuka dengan pameran foto tentang korban kekerasan atas nama agama di Café Tjikini, BedaIsMe ingin memberi ruang kepada korban, khususnya korban kekerasan atasnama agama untuk bersuara, giving voice to the voiceless!
Rangkaian acara pekan #BedaIsMe antara lain:
- Pameran foto korban kekerasan atas nama agama, di Kafe Tjikini 1 – 10 Juni 2012
- Aksi solidaritas terhadap Little Monster yang kecewa gagalnya konser Lady Gaga di Istana Negara, 3 Juni 2012
- Konferensi Pers Merespon Hasil Universal Periodic Review Dewan HAM PBB di Komnas Perempuan, 4 Juni 2012
- Pemutaran Film, Prayer for Bobby, di Kafe Tjikini, 6 Juni 2012
- Apel akbar, “Aku Cinta Indonesia” di Monas, 10 Juni 2012
- Movie Premier: “Romi & Yuli dari Cikeusik” film yang dibuat oleh Denny JA dan disutradarai oleh Hanung Bramantyo, TIM, 10 Juni 2012
- Diversity Concert: Tribute to the Victims of Religious Violence, TIM, 10 Juni 2012
Maka, gerakan #BedaIsMe mengundang publik Indonesia bergabung dalam pekan #BedaIsMe memperingati Lahirnya Pancasila.
Sinopsis Singkat Puncak Pekan #BedaIsMe, Minggu, 10 Juni 2012
1. Apel Akbar: Aku Cinta Indonesia [Depan Istana Negara, pukul 13.30-16.00]
Jika di televisi kini dibombardir dengan sinetron dan ceramah religi. Di jalan spanduk-spanduk pengajian dengan lugas menancap dan pameran buku rohani jadi sebuah mesin besar yang menarik orang untuk sadar akan agama. Namun di sisi lain ada ratusan rumah ibadah ditutup paksa, orang-orang terusir dari trotoar ketika hendak menyanjung Tuhan.
Apel Akbar adalah seremoni dua minggu sekali dimana umat agama dan berkeyakinan bersama-sama mengadu pada Kepala Negara mengenai hak dan kebebasan mereka yang dilanggar.
2. Premier Movie: Romi dan Yuli dari Cikeusik [TIM, pukul 19.00-19.45 ]
Film yang dibuat oleh Denny JA dan disutradarai oleh Hanung Bramantyo
Film ini adalah representasi dari kuatnya prasangka dan kebencian antar-golongan di Indonesia. Kuatnya diskriminasi karena perbedaan. Dikemas dengan kisah cinta yang romantis, film ini bersetting tragedi Cikeusik yang menimpa warga Ahmadiyah pada tahun 2011 yang lalu hingga memakan korban 3 orang tewas. Film yang merupakan visualisasi dari Puisi Esai karya Denny JA (www.puisi-esai.com) ini mengangkat isu diskriminasi dengan kemasan kisah cinta yang menggetarkan hati. Dengan pemeran utama Zaskia Adya Mecca dan Ben Kasyafani, film ini berbicara bahwa perbedaan tidak harus melahirkan kebencian. Dan cinta seharusnya berada di atas segala perbedaan itu.
3. Diversity Concert: Tribute to the Victims of Religious Violence [TIM, pukul 18.30-22.00]
Musik sebagai bahasa universal yang mampu menyentuh publik secara luas, efektif untuk menggugah mereka yang disebut sebagi the silent majority, untuk terus bangkit dan percaya bahwa perbedaan bukanlah sebuah masalah, namun hal itu justru anugerah yang perlu dirayakan.
Superman Is Dead (SID) selama ini bukan sekadar sebagai grup band, melainkan ia adalah sebuah gerakan yang terbukti memiliki komitemen dan konsistensi merayakan keberagaman melalui musik dan lagunya yang berenergi. Persis seperti yang disampaikan Jerink (JRX), “SID bukan hanya sebuah band, tetapi sebuah pergerakan, yang mencoba membawa energi positif kepada siapa saja.” (Bali Today, wawancara dengan Nanci Holiday, Sumber Youtube.com). Pesan ini dipertegas dalam closing statement di acara RadioShow TVOne, JRX mengatakan “Kita ingin Indonesia ini tanpa kekerasan, Indonesia tanpa Ormas-ormas radikal, hidup kemerdekaan untuk semua warga Indonesia”.




