Home Berita Saatnya Agama Melawan Fobia LGBT

Saatnya Agama Melawan Fobia LGBT

15 min read
0
1
961

Semarak Natal ramah LGBTIQ di Sekolah Tinggi Filsafat Theologi (STFT) Jakarta (2018)

LGBTIQ adalah kelompok yang sangat terdampak Covid-19. Pandemi memukul komunitas-komunitas LGBTIQ dari ujung barat sampai timur Indonesia.

Solidaritas pun dibangun sesama komunitas LGBTIQ dalam bentuk inisiatif-inisiatif kecil untuk mengatasi kondisi mereka yang dari hari ke hari makin rentan. Beberapa dilakukan bersama para sekutu.

Perwakilan Jaringan Transgender Indonesia (JTID) wilayah barat Citra Farera menyampaikan kondisi kehidupan ekonomi komunitas LGBTIQ terus menurun. Banyak dari mereka yang selama ini membuka usaha terpaksa tutup, karena pelanggan juga tidak ada yang datang dalam situasi pandemi.

Akibatnya, menurut Citra yang mengkordinir transgender daerah Aceh dan kota-kota lainnya di Sumatera, mereka bisa bertahan di antaranya karena bantuan Crisis Response Mechanism (CRM), sebuah gerakan yang dibangun untuk merespon situasi darurat yang menimpa komunitas LGBTIQ, yang berpusat di Jakarta.

“Saat ini teman-teman cukup dengan bahan dasar makan saja, seperti beras, mie instan dan telur,” ujar Citra dalam webinar yang digelar Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) bekerja sama dengan GAYa Nusantara (17/5).

Dalam kerentanan tersebut, bahkan banyak transpuan yang tetap ditolak keluarganya karena ekspresi mereka. Sehingga dalam berbagai keterbatasan mereka memilih tidak pulang.

LGBTIQ dirumahkan dan dipecat dari pekerjaan

Pada webinar yang digelar untuk merayakan International Day Against Homophobia, Biphobia, Intersexism and Transphobia (IDAHOBIT) 2020 ini salah seorang transgender dari Papua, Lolitha, berbagi keprihatinan yang sama. Jika sebelumnya banyak transpuan adalah pekerja salon atau gay yang bekerja di hotel, kini mereka beralih profesi, karena dirumahkan.

Sementara, Vanessa Chaniago yang aktif di CRM Jakarta menjadikan sekretariatnya sebagai dapur darurat untuk komunitas transpuan yang kesulitan makan karena semakin dibatasi menjalani profesinya masing-masing.

IDAHOBIT 2020: Benarkah LGBT Penyebab Pandemi Korona?

Ketua Independent Men of Flobamora (IMOF) yang mengadvokasi LGBTIQ di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Ridho Herewila pada kesempatan yang sama menceritakan komunitas LGBTIQ sedapat mungkin bertahan hidup dengan berbagai cara. Teman-temannya yang gay dan menjadi tukang ojek harus memutar otak mengganti profesi, apapun dijalani untuk bisa bertahan.

“Teman-teman transpuan mulai menjual barang-barang mereka, sehingga bisa membeli bahan-bahan makanan dasar, kebutuhan pokok,” kata Ridho yang juga menyampaikan testimoni tentang komunitasnya dan LGBTIQ secara umum di daerahnya dalam webinar IDAHOBIT yang bertema Solidaritas Lawan Fobia Keberagaman Gender dan Seksualitas di Masa Pandemi.

Cung dari Makassar yang aktif di Gamacca, komunitas yang khusus mengadvokasi lesbian, biseksual dan transgender (LBT), menginformasikan banyak dari rekan-rekannya yang sebagian besar adalah pendatang kini dirumahkan dan dipecat dari pekerjaannya. Yang berjualan pun harus tutup, sebab kalau memaksakan tetap berjualan omsetnya sangat menurun dan merugi.

Peran Media Menghapus Fobia

Kerentanan LGBTIQ, celakanya, makin diperparah dengan pemberitaan-pemberitaan media yang sangat menyudutkan, karena menghubungkan pandemi Covid-19 dengan komunitas. Citra Farera dan Cung, misalnya, yang melakukan monitoring pemberitaan di daerahnya masing-masing, menyesalkan sekali laporan media yang menyebutkan bahwa bencana pandemi korona disebabkan oleh LGBTIQ.

Cung mencontohkan satu media lokal besar di Makassar menerbitkan sebuah berita yang justru mempertebal fobia terhadap LGBTIQ.

“Itu (berita) dihubungkan bahwa pandemi diakibatkan oleh kelompok LGBT. Dan itu merupakan stigma baru,” ungkap Cung dengan nada kecewa.

6 pembicara dan 1 moderator dari komunitas menangkap bahwa tone pemberitaan media-media selama ini cenderung negatif terhadap LGBTIQ.

Kepada 100 lebih peserta webinar IDAHOBIT di platform Zoom, Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti merasa sedih dengan peran media yang menurut komunitas LGBTIQ masih banyak menggiring opini dan lantaran pemberitaan yang terus mengulang stigma, fobia, sehingga menyebabkan komunitas LGBTIQ dipersekusi.  

Sebagai pembicara yang mewakili media, Citra DP mendorong kepada pers Indonesia agar lebih banyak memberikan ruang pemberitaan tentang LGBTIQ sehingga menjadi percakapan bersama di tengah publik Indonesia. Bahasa yang digunakan dalam memberitakan isu-isu minoritas, termasuk LGBTIQ, adalah kemanusiaan. Dengan bahasa kemanusiaan inilah, menurut Citra DP, siapapun punya hak yang sama sebagai warga negara.

“Apabila sebuah media punya keberpihakan cukup besar kepada kelompok minoritas, maka ada peluang lebih bagus isu tersebut untuk naik ke media. Dan ketika naik ke media, orang jadi aware, orang tahu ada persoalan, orang pun jadi tergerak,” harap Citra DP mendesak perspektif dan praktik yang ramah LGBTIQ hidup di kalangan reporter sampai editor.

Ia pun menyadari, jajaran redaksi media berasal dari berbagai latar belakang nilai, agama, keluarga dan pendidikan yang berbeda. Justru karena itu, menurutnya, media yang mempunyai jangkauan besar dan pengaruh luas harus mengambil peran memanfaatkan ruang-ruang mereka untuk memfasilitasi pertemuan-pertemuan yang membangun imej positif tentang kelompok-kelompok rentan dan ikut menyuarakan komunitas LGBTIQ dan minoritas lainnya secara adil ke tengah publik.

IDAHOBIT 2020: LGBTIQ Makin Rentan Alami Persekusi

Ajeng Larasati, pegiat HAM yang kerap mengadvokasi kasus-kasus yang menimpa LGBTIQ, turut memberi pesan agar media mulai memberi ruang terhadap narasi-narasi yang positif untuk menghapus fobia di masyarakat terhadap fakta keberagaman seksual. Untuk itu, ia mengajak komunitas LGBTIQ agar mulai memanfaatkan media dengan baik sebagai upaya membangun narasi-narasi tandingan sekaligus memperbanyak sekutu.

“Sudah waktunya kita ambil alih narasi yang ada di media dengan memberikan narasi-narasi positif. Gemakan lebih luas lagi supaya orang-orang tahu ada perspektif lain,” saran Ajeng yang memegang prinsip tidak ada alasan buat LGBTIQ ataupun identitas lainnya mendapatkan diskriminasi, sebab semua waraga negara setara di hadapan hukum.

Ajeng menambahkan apa yang telah disampaikan Citra DP tentang pentingnya media menggunakan bahasa kemanusiaan. Bagi Ajeng, pendekatan hukum, keagamaan dan kemanusiaan harus dilakukan bersama-sama. Tidak bisa memilih satu pendekatan dan mengabaikan lainnya. Hal tersebut menyaratkan komunitas LGBTIQ mulai memberdayakan diri dengan lebih terbuka memperbanyak sekutu lantas menyerap pengetahuan mereka dan memanfaatkan jaringannya.

Agama Ramah LGBT

“Agama harus menjadi ruang bersama dan kita harus yakin bahwa kita punya otoritas sendiri, termasuk dalam (menafsirkan) agama,” ujar Amar Alfikar, transpria yang hidup di lingkungan pesantren di Kendal, Jawa Tengah, menyikapi ajakan Ajeng.

Dalam webinar yang disiarkan langsung di Youtube Kabar Sejuk ini Amar menggugah rekan-rekannya sesama LGBTIQ untuk mempunyai otoritas atas apapun yang diimani, sehingga mulai berani bicara dalam kerangka penafsiran agama yang ramah terhadap queer, termasuk kepada semua orang.

Hanya dengan dimulai berani mencintai diri sendiri, sambung Amar, maka merebut otoritas tafsir agama yang ramah bagi semua menjadi mungkin. Rahmatan lil ‘alamin, bagi Amar, artinya rahmat bukan untuk LGBTIQ saja, tidak hanya bagi Muslim, tetapi agama lainnya, bahkan yang tidak beragama sekalipun.

Dan karena itu pula agama di tengah pandemi korona harus bersolidaritas terhadap kalangan rentan, tak terkecuali LGBTIQ. Sebab, sebelum diberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) saja LGBTIQ menjadi kelompok kedua yang paling tidak disukai masyarakat Indonesia, setelah ISIS. Terutama sejak backlash LGBTIQ 2016, maraknya fobia, stigma, sampai kebijakan dan aturan-aturan diskriminatif membuat komunitas semakin rentan kehidupan sosial dan ekonominya, termasuk rentan terhadap kekerasan. Di masa pandemi, kerentanannya kini bertambah besar.

IDAHOBIT 2020: Bersama merayakan keberagaman seksual

Maka, oleh moderator webinar, Kevin Halim, peneliti transgender di Indonesia, perbincangan digeser dengan pertanyaan sejauh mana agama mampu mengambil langkah penting menunjukkan wajah santun, indah dan penuh rahmat dari agama untuk semua umat manusia. Hal ini yang kemudian ditekankan Dr. Inayah Rohmaniyah, akademisi fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Ia mengajak tokoh-tokoh agama dan akademisi melakukan perjumpaan-perjumpaan dengan mengundang dan melibatkan komunitas LGBTIQ dalam kegiatan-kegiatan keagamaan dan akademik. Dengan praktik perjumpaan inilah dakwah lembaga keagamaan dan fungsi edukasi institusi pendidikan berbasis agama dapat membongkar secara kritis pandangan intoleran dan memajukan semangat agama yang anti-diskriminasi dan anti-kekerasan.

“Karena saya mengajar dan berkecimpung di masyarakat, saya selalu bertanya dan memancing critical thinking teman-teman muda dan setidaknya mengajak kalangan sepuh (tokoh agama senior) untuk berdiskusi dan mempertanyakan, apa betul agama identik dengan diskriminasi?” papar Inayah.

Selain bersama-sama membangun kesadaran kritis memancing otoritas keagamaan dengan mempertanyakan ulang apa sebenarnya yang bisa dilakukan agama, peran apa yang harus diambil agama ketika banyak kekerasan yang mengatasnamakan agama menimpa kelompok-kelompok rentan, sebaliknya juga kalangan LGBTIQ lebih membuka diri melakukan silaturahmi, menyapa semua orang. Sebab, sindir Inayah, tokoh agama kalau menolak pun malu, ketika LGBTIQ berniat silaturahmi dan mengunjungi komunitas agama.

“Perjumpaan itu nyawanya, kuncinya silaturahmi,” tegasnya kepada para peserta webinar, yang jika mengacu dokumen pendaftaran, terdiri dari 89 perempuan, 86 lelaki dan 13 yang kategori gender ‘lainnya’ (total 188 peserta).

IDAHOBIT 2020: Apakah Kitab Suci Selamanya Menjadi Dalil-dalil Diskriminasi LGBT?

Sementara Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero Pater Dr. Otto Gusti Madung menyumbangkan pengalaman dan pikirannya perihal upaya mengembangkan lingkungan akademik yang memanusiakan LGBTIQ. Beberapa waktu terakhir, institusinya mulai mengundang komunitas LGBTIQ di sekitar Maumere dalam acara-acara penting di kampus, seperti ulang tahun STFK Ledalero ke-50. Di masa Covid-19 STFK juga turut menyumbang bantuan.

“Saya pikir dalam agama Kristen atau gereja Katolik sekarang dikembangkan metode menginterpretasikan Kitab Suci secara baru agar lebih ramah terhadap perempuan, kelompok LGBT dan kelompok-kelompok minoritas lainnya,” pungkas Pater Otto.[]  

Load More Related Articles
Load More By Thowik SEJUK
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Sineas Nia Dinata: Berpikiran kritis adalah bagian dari Pancasila

Sutradara perempuan Indonesia Nia Dinata mendorong kalangan milenial dan generasi Z untuk …