Serangan rudal yang dilaporkan melibatkan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran kembali memunculkan kekhawatiran serius terhadap keselamatan warga sipil, khususnya perempuan dan anak-anak. Salah satu peristiwa paling tragis terjadi pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026 sekitar pukul 10.00 waktu setempat, ketika rudal menghantam Sekolah Shajareh Tayyebeh di kota Minab, Iran selatan. Serangan terjadi saat kegiatan belajar sedang berlangsung. Di Iran, minggu sekolah dimulai pada Sabtu hingga Kamis, sehingga ruang-ruang kelas dipenuhi murid ketika serangan terjadi. Puluhan siswi berusia tujuh hingga dua belas tahun dilaporkan tewas setelah bangunan beton sekolah runtuh. Guru serta beberapa orang tua murid yang berada di lokasi juga menjadi korban. Kota kecil di dekat Laut Oman tersebut pun berubah menjadi lokasi tragedi kemanusiaan yang mengguncang komunitas setempat.
Beberapa akun yang berafiliasi dengan Israel sempat mengklaim bahwa lokasi sekolah tersebut merupakan bagian dari pangkalan Korps Garda Revolusi Islam Iran. Namun investigasi unit digital Al Jazeera yang menganalisis citra satelit selama lebih dari sepuluh tahun menunjukkan bahwa sekolah tersebut terpisah secara jelas dari fasilitas militer di sekitarnya. Analisis tersebut juga memanfaatkan video terbaru dari lokasi kejadian, laporan media, serta pernyataan resmi dari otoritas Iran. Temuan itu kemudian memunculkan pertanyaan serius mengenai akurasi intelijen yang digunakan sebagai dasar serangan.
Foto dan video yang telah diverifikasi dari lokasi menunjukkan gambaran yang sangat memilukan: tubuh anak-anak tertimbun puing-puing bangunan, tas sekolah berlumuran darah, serta serpihan beton yang berserakan di ruang kelas yang hancur. Media internasional seperti The Guardian melaporkan bahwa sebagian materi visual tidak dipublikasikan karena terlalu mengerikan. Dalam salah satu rekaman yang beredar, terlihat lengan seorang anak kecil ditarik dari reruntuhan bangunan, korban diketahui merupakan murid perempuan yang saat itu sedang mengikuti pelajaran.
Menurut Shiva Amelirad, perwakilan Dewan Koordinasi Asosiasi Perdagangan Guru Iran yang berbasis di Kanada, sekolah tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi keluarga militer. Banyak murid berasal dari keluarga biasa dengan kondisi ekonomi terbatas. Ia menjelaskan bahwa karena biaya sekolah lebih rendah sementara sekolah negeri di daerah tersebut sangat padat, banyak keluarga memilih menyekolahkan anak-anak mereka di sana. Dalam beberapa kasus, lebih dari satu anak dari keluarga yang sama dilaporkan meninggal dalam serangan tersebut.
Kantor berita mahasiswa Iran yang berafiliasi dengan negara, ISNA, melaporkan bahwa kepala sekolah termasuk di antara korban tewas. Organisasi hak asasi manusia Hengaw menyebutkan bahwa sesi belajar pagi biasanya dihadiri sekitar 170 murid. Seorang pejabat setempat juga mengatakan kepada Associated Press bahwa korban tidak hanya terdiri dari siswa, tetapi juga orang tua dan staf sekolah. Serangan ini tidak hanya menghancurkan sebuah institusi pendidikan, tetapi juga melukai komunitas sosial yang selama ini tumbuh di sekitarnya.
Dampak yang lebih luas juga terlihat dari meningkatnya jumlah korban sipil sejak eskalasi konflik terjadi. Palang Merah Iran melaporkan sedikitnya 555 orang tewas di seluruh negeri sejak serangan dimulai. Sementara Human Rights Activist News Agency yang berbasis di Amerika Serikat menyebutkan jumlah korban sipil mencapai sedikitnya 742 orang, termasuk 176 anak-anak. Data tersebut menunjukkan bahwa perempuan dan anak-anak menjadi kelompok yang paling terdampak dalam konflik bersenjata yang terus meluas ini.
Komunitas internasional mulai menyuarakan kekhawatiran mendalam atas serangan terhadap fasilitas pendidikan tersebut. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menyatakan bahwa pembunuhan murid di tempat belajar merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan menyerukan perlindungan terhadap sekolah, siswa, serta tenaga pendidik di wilayah konflik. Sementara itu, United Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women (UN Women) juga menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap eskalasi kekerasan ini. Lembaga tersebut menegaskan bahwa perempuan dan anak perempuan berhak hidup dalam keselamatan serta mendesak de-eskalasi segera dan perlindungan penuh bagi seluruh warga sipil.
Sumber:





