Home Berita Kabar Sejuk Stop Kampanye Hitam SARA!!!

Stop Kampanye Hitam SARA!!!

8 min read
1
0
579

Siaran Pers

Hentikan Politisasi SARA untuk Pemilu 2014 Berkualitas

Diskriminasi, intoleransi, dan kekerasan atas nama agama di tahun-tahun politik ini tensinya meninggi. Kasus-kasus pendirian rumah ibadah masih banyak yang belum diselesaikan, malah cenderung bertambah. Pemerintah tidak memfasilitasi penyelesaian kasus-kasus pembangunan gereja, mesjid, wihara, dll. di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, sampai Nusa Tenggara Timur.

Kasus-kasus pendirian rumah ibadah di Jawa Barat, seperti yang menimpa GKI Yasmin, HKBP Filadelfia, 7 gereja Cianjur (Senin lalu, 2 Juni 2014, melapor ke Komnas HAM), dan puluhan kasus rumah ibadah lainnya sampai kini tidak terselesaikan oleh pemerintah daerah. Gambaran itu adalah potret intoleransi dan diskriminasi di wilayah Jawa Barat yang tidak kunjung berkurang.

Aksi-aksi kekerasan atas nama agama pecah di banyak daerah akhir-akhir ini. Pembakaran 2 gereja terjadi di Pasaman Barat (4 Mei). Di wilayah Yogyakarta, Amiludin Azis mendapat kekerasan berupa caci maki dan pengrusakan mobilnya oleh Front Jihad Indonesia (FJI) di dekat gedung DPRD Gunung Kidul; di Bantul kembali terjadi kekerasan yang dilakukan kelompok yang sama, 30 orang FJI, dengan membubarkan paksa pengajian rutin Minggu Pahing Majelis Ta’lim Raudhatul Jannah (18 Mei); polemik pelarangan dengan ancaman kelompok agama tertentu terhadap rencana Paskah Adiyuswa (lansia) Sinode GKJ terjadi sepanjang Mei lalu di Gunung Kidul; di peringatan hari kelahiran Pancasila (1 Juni) sekelompok orang menyerang dan melempari dengan batu bangunan yang sedang digunakan beribadah di Pangukan, Sleman; penyerangan dan penganiayaan brutal atas nama agama oleh sekelompok orang berjubah putih ke rumah Julius Felicianus (Direktur Galang Press) di Sleman (29 Mei) yang tengah dipakai ibu-ibu untuk ibadah doa Rosario.

Kekerasan atas nama agama juga menjadikan wartawan Kompas TV, Michael (Mika) Aryawan yang meliput kejadian di rumah Julius, dipukuli massa intoleran. Kameranya dirampas. Sebelumnya pewarta media online Ahlul Bait Indonesia (ABI) Muhammad Ngainan dipukuli sekelompok orang beberapa saat setelah acara deklarasi Anti-Syiah di Bandung, Senin, 21 April 2014.

Bukan kebetulan jika kasus-kasus di atas terjadi berdekatan dengan penyelenggaraan pemilu legislatif dan pemilihan presiden-wakil presiden 2014. Politisasi dan kampanye hitam berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) semakin marak menjelang pemilihan presiden-wakil presiden 2014. Masif dan agresifnya kampanye SARA bernuansa ujaran kebencian (hate speech) melalui pesan pendek, media sosial, dan media propaganda sangat meresahkan dan mengancam proses dan hasil Pemilu 2014 yang berkualitas.

Seluruh kenyataan di atas menjadi keprihatinan kami, Jemaat SEJUK sebuah jaringan pers mahasiswa yang mempromosikan keberagaman, Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung, Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (Jakatarub), dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung yang bersama-sama menggelar Workshop Pers kampus “Memberitakan Isu Keberagaman” 5–7 Juni 2014 di Bandung, Jawa Barat.

Berangkat dari makin memanasnya diskriminasi, intoleransi, aksi kekerasan serta kampanye hitam SARA belakangan ini sebagaimana diuraikan di atas, kami menyatakan sikap:

  1. Mengutuk keras berbagai aksi kekerasan atas nama agama yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia;
  2. Mengutuk keras aksi penyerangan dan penganiayaan terhadap wartawan Kompas TV dalam kasus penyerangan terhadap ibu-ibu yang sembahyangan Rosario di rumah Julius Felicianus, Sleman (29/05/2014);
  3. Mengecam politisasi dan kampanye hitam berupa ujaran-ujaran kebencian bernuansa SARA dalam Pemilihan Presiden-Wakil Presiden 2014;
  4. Menyesalkan pernyataan Kapolri Jenderal Sutarman sebagai aparat negara terkait pelarangan rumah untuk digunakan sebagai tempat beribadah, karena hal tersebut bertentangan dengan Konstitusi dan ketentuan ICCPR yang mewajibkan negara memfasilitasi warga negaranya untuk beribadah;
  5. Menuntut Presiden SBY di penghujung kepemimpinannya untuk mendesak bawahannya, terutama kepala-kepala daerah dan kepolisian, agar tunduk pada Konstitusi dan HAM untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi hak-hak dan kebebasan beragama dan berkeyakinan seluruh warga negara tanpa terkecuali;
  6. Mendesak Kapolri untuk menindak tegas para pelaku kekerasan atas nama agama;
  7. Mengajak masyarakat dan insan pers, termasuk jurnalis kampus, untuk melawan sikap intoleran dan aksi-aksi kekerasan atas nama agama yang merampas hak-hak dan kebebasan warga untuk beragama, berkeyakinan, dan beribadah;
  8. Menyerukan kepada media massa dan pers kampus untuk mengedukasi publik lewat pemberitaan yang mendorong toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan agama dan keyakinan/kepercayaan.

Bandung, 7 Juni 2014

Jemaat SEJUK, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung, Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (Jakatarub), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung, Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK)

 

Jemaat SEJUK:

Suaka UIN Sunan Gunung Djati, Bandung

Jumpa Universitas Pasundan Bandung

Media Parahyangan Universitas Parahyangan, Bandung

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung (FKPMB)

Suara USU Universitas Sumatera Utara, Medan

Akademika Universitas Udayana, Bali

Bahana Suara Komunikasi Universitas Bengkulu

Gelora Sriwijaya Universitas Sriwijaya, Indralaya, Sumatera Selatan

INSTITUT UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Kentingan Universitas Sebelas Maret, Surakarta

Birama Universitas Komputer Indonesia, Bandung

PsychoNews UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang

BPPM Balairung Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

JUSTISIA IAIN WALISONGO Semarang

EDUKASI IAIN WALISONGO Semarang

MOMENTUM Universitas Langlangbuana, Bandung

ANALISA STAI MATHALI’UL FALAH, Pati

SOLID Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta

DIMENSI IAIN Tulungagung

RETORIKA FISIP UNAIR SURABAYA

LATAR Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon

UKPKM Tegalboto, Universitas Jember, Jember

AMSA Indonesia (Ahmadiyya Muslim Student Association)

ARENA Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Perkumpulan 6211

PERSONA Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

Millenium, STAIN, Jember

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Kabar Sejuk

One Comment

  1. Nahason Manurung

    29/10/2015 at 08:11

    Hukum kasih antar sesama perlu dimasyarakatkan! Sukar, tapi wajib!

Leave a Reply

Check Also

Menlu Retno Marsudi akan Buka Konferensi Jurnalis Peliput Agama se-Asia

  Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengkonfirmasi rencana kehadiran dalam konferensi…