Home Berita Seksualitas, Politik dan Gerakan Perempuan Islam Indonesia

Seksualitas, Politik dan Gerakan Perempuan Islam Indonesia

6 min read
0
0
277

Dokomentasi: Thowik SEJUK (17/1/2018)

Buku berjudul “Potret Gerakan Perempuan Muslim Progresif Indonesia” dan “Islam, Kepemimpinan Perempuan, dan Seksualitas” terbitan Yayasan Pustaka Obor Indonesia diluncurkan Rabu, 17 Januari 2017 di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta.

Kedua buku tersebut adalah karya seorang pendidik, peneliti, penulis dan aktivis: Neng Dara Affiah. Dosen Universitas Nahdlhatul Ulama Indonesia ini menjadi komisioner Komnas Perempuan pada 2007-2009 dan 2010-2014.

Buku “Potret Gerakan Perempuan Muslim Progresif Indonesia” merupakan hasil kerja panjang yang dilakukan penulisnya selama hampir empat belas tahun yang dimulai dari tahun 2000 saat menulis tesis untuk studi master di Universitas Indonesia hingga menempuh studi program doktor dengan standar-standar penulisan akademis.

Ide dasar penulisan buku ini bertitik tolak dari pengalaman keilmuan dan aktivitas penulis sebagai sarjana dan aktivis perempuan yang menggeluti pemikiran mengenai posisi dan peran perempuan dalam ajaran Islam maupun gerakan perempuan di Indonesia sepanjang di bawah masa pemerintahan Orde Baru maupun di masa Reformasi.

Dalam rentang perjalanan waktu yang cukup panjang, penulis mencermati bahwa studi mengenai pembaruan pemikiran dan gerakan Islam serta pengaruhnya pada perubahan sosial kurang memperlihatkan perhatiannya terhadap proses gerakan perempuan muslim, tantangan dan capaian-capaiannya. Padahal, gerakan perempuan dalam kelompok muslim ini adalah kelompok masyarakat yang turut menentukan perubahan sosial ke arah masyarakat yang demokratis, menghargai kemajemukan agama dan kelompok (pluralisme), serta menjunjung tinggi hak asasi manusia dan hak-hak asasi perempuan.

Dengan menggunakan kata ‘progresif’ di belakang kata ‘perempuan muslim Indonesia’ dimaksudkan, kemajuan perempuan muslim Indonesia tidak harus meninggalkan hal-hal positif yang masih relevan di masa lalu untuk dibawa ke masa kini, tetapi juga perlu menyambut hal-hal positif dan baik di masa kini dalam menyongsong kemajuan di masa mendatang.

Dimaksud ‘perempuan muslim progresif‘ dalam buku ini memiliki ciri-ciri melekat sebagai berikut: 1). Mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan seperti penegakan hak-hak dasar manusia, terutama hak-hak perempuan; 2). Mewujudkan kehidupan damai dan toleran yang menghargai hak-hak minoritas agama dan kepercayaan sebagai hak yang harus dilindungi negara; 3) Memandang manusia dari beragam budaya dengan setara dan tanpa diskriminasi; 4) Menghargai tradisi keilmuan klasik dan modern dalam khazanah keilmuan Islam sebagai satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan untuk memperkuat peradaban; 5) Memelihara tradisi lokal yang positif sebagai wujud pelaksanaan multikulturalisme.

Sementara buku “Islam, Kepemimpinan Perempuan, dan Seksualitas” merupakan bunga rampai tulisan dalam beragam topik. Hal yang paling relevan dari buku ini untuk konteks sekarang, terutama di masa-masa pemilihan kepada daerah adalah perempuan harus mengambil peran aktif kepemimpinan, termasuk menjadi kepala daerah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Argumentasi pengetahuan keagamaan berbasis Alqur’an, hadis dan sejarah sosial umat tentang pentingnya perempuan mengambil peran kepemimpinan tersebut terdapat dalam buku ini.

Dalam buku ini, Neng Dara juga mempersoalkan praktik perkawinan poligami yang sekarang ini marak. Sebab poligami tak hanya merugikan perempuan yang berdampak pada kekerasan fisik maupun psikis, seperti istri pertama akan mengalami depresi, kecemasan, rendah diri, merasa tidak berharga, lebih mudah mengalami stress dan pelbagai gangguan kesehatan lainnya, tetapi juga berdampak buruk pada pria pelaku poligami, seperti rumah tangga yang tak nyaman dan penuh intrik, rentannya pertengkaran, hingga mengalami gangguan kesehatan.

Selain itu, dipersoalkan pula praktik perkawinan perempuan di usia dini yang sekarang menjadi perhatian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebab ia tidak hanya akan memangkas hak-hak perempuan untuk memperoleh pendidikan memadai, kehilangan hak-haknya sebagai anak, tetapi juga akan mengakibatkan tingginya tingkat perceraian dan kematian ibu.

Neng Dara juga mengajukan pandangan budaya kesetaraan dan adil gender serta penghargaan terhadap hak-hak perempuan mesti ditumbuhkan di dalam keluarga, sebab kekuatan dari keluarga inilah yang akan membentuk kultur masyarakat yang lebih luas.

**
Neng Dara Affiah adalah seorang pendidik, peneliti, penulis dan aktivis. Dosen di Universitas Nahdlhatul Ulama Indonesia, dan aktif dalam beberapa organisasi gerakan perempuan dan organisasi pendidikan. Ia menjadi komisioner Komnas Perempuan pada 2007-2009 dan 2010-2014.

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Tahun Politik Ancaman Serius Toleransi?

  Oleh: Fanny S Alam Belum hilang ingatan publik yang dikejutkan penyerangan terhadap…