
Suasana kegiatan “Hoax dan Jurnalisme Damai: Pelatihan Jurnalistik untuk Mahasiswa” di Jakarta (11/11/2017)
Berbeda ideologi adalah hal wajar dan harus dihormati. Tetapi ketika seseorang dengan ideologinya tampil dengan menyebar kebohongan yang mendorong kekerasan dan merampas hak asasi manusia, maka harus dilawan. Melawan hoax tidak selamanya efektif menggunakan counter narrative, sangat diperlukan juga alternative narrative.
Itu sekelumit simpulan yang berkembang dari sebuah diskusi bersama kalangan pers mahasiswa dari beberapa daerah yang mengikuti “Hoax dan Jurnalisme Damai: Pelatihan Jurnalistik untuk Mahasiswa” di bilangan Cikini yang didukung oleh Kedutaan Amerika Serikat (11/11/2017).
Kegiatan yang difasilitasi Kumkum, panggilan akrab Ignatius Haryanto, menghadirkan Rut Rismanta Silalahi dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Donny BU dari ICT Watch dan mewakili Kementerian Informasi dan Informatika (Keminfo) dan Tantowi Anwari dari Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK).
“Berita hoax, di antaranya, mudah dikenali dari judul dan headline dengan framing yang bombastis,” kata Rut Silalahi.
Maka jika menemukan informasi-informasi seperti itu, lanjut Rut, langsung cek dengan memverifikasi ke ahlinya atau dengan melacak (searching) sumber berita atau gambarnya, menelusuri sampai yang paling pertama diunggah. Dari sanalah akan mudah diketahui apakah sumber dan medianya kredibel sehingga informasinya bisa dikatakan sahih atau palsu.

Dari kiri ke kanan: Rut Silalahi, Donny BU dan Ignatius Haryanto

Pelatihan yang digelar 11-12 November 2017 ini bertujuan memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang jurnalisme damai dan penerapannya dalam pemberitaan sekaligus bagaimana mengenali hoax dan melakukan antisipasi atau menangkalnya dengan prinsip-prinsip dasar jurnalistik. Berikutnya akan digelar 25-26 November 2017 di Semarang. Pendaftaran peserta masih dibuka dengan mengirim ke riasusanti@yahoo.com paling lambat 15 November 2017.
Koordinator program dari kegiatan ini, Fransisca Ria Susanti, memaparkan bahwa gerakan radikalisme dan kebencian terhadap kelompok yang berbeda meningkat seiring dengan munculnya situs-situs media online serta penyebaran informasi yang melanggar prinsip-prinsip dasar jurnalistik. Ironisnya, sambung perempuan yang disapa Santi, bukan hanya kalangan menengah ke bawah maupun kalangan tidak terdidik yang gampang dipengaruhi oleh informasi ini, tapi juga kalangan terdidik dan terpelajar, termasuk mahasiswa.
Begitulah alasan Santi dan timnya berikhtiar untuk melibatkan mahasiswa dalam bentuk pelatihan-pelatihan seperti ini.
“Ketika sebuah kebohongan diyakini sebagai kebenaran dan disebarluaskan secara massif maka yang muncul kemudian adalah masyarakat irasional yang gampang digerakkan oleh amuk,” kata Santi.






