Home Berita Australia harus Belajar Toleransi pada Indonesia

Australia harus Belajar Toleransi pada Indonesia

5 min read
0
0
414

Islam and Diversity Festival

Pakar hukum Indonesia dari University of Melbourne Professor Tim Lindsey menganjurkan Australia untuk belajar keberagaman kepada Indonesia. Hal itu disampaikannya dalam diskusi panel tentang Australia-Indonesia bertema Islam and Diversity in Contemporary Indonesia yang diselenggarakan di Adelaide Festival Centre, Australia Selatan, Sabtu sore (26/9/2015).

“Setelah tumbangnya rezim Orde Baru, keberagaman Indonesia pada dasarnya mendapatkan ruang kebebasan dalam mengekspresikan perbedaannya masing-masing untuk beragama dan menganut kepercayaan,” kata Tim yang thesis doktoralnya mengambil Indonesian Studies.

Apresiasi terhadap konstitusi Indonesia yang menjunjung tinggi hak dan kebebasan bagi setiap warga negara untuk memeluk agama dan kepercayaannya ia lontarkan juga dalam forum yang ditaja oleh Program Jembatan Flinders University dengan melibatkan narasumber F. Firdaus (Dosen Senior Fakultas Humanities Flinders University), Dr. Nadirsyah Hosen (Dosen Senior Fakultas Hukum Monash University), Ayu Arman (penulis khazanah nusantara, gender dan Islam dari Jakarta), dan Satria Akbar (pakar seni dan budaya dari Jawa Barat).

Namun begitu, fakta perbedaan agama dan keyakinan yang sangat kaya di Indonesia, menurut Ketua Australia Indonesia Institute itu, akhir-akhir ini menimbulkan tidak sedikit ketegangan. Ini menjadi tantangan pemerintah Indonesia untuk dapat mengelola kehidupan keberagaman menjadi lebih baik.

Yang paling menjadi sorotan Tim adalah diterbitkannya pasal 28J pada amandemen UUD ’45. Ayat 2 di pasal tersebut menyatakan bahwa hak dan kebebasan dibatasi nilai-nilai moral dan agama.

“Pasal inilah yang menjadi sumber berbagai praktek persekusi terhadap kelompok agama maupun kepercayaan minoritas di Indonesia,” sesalnya.

Ia pun menjelaskan, dalam banyak kasus, kelompok agama yang ortodoks bisa dengan mudah menuduh sesat atau menyimpang untuk kemudian menyingkirkan kalangan dengan keyakinan maupun praktik unortodoks dan para penghayat kepercayaan dengan memanfaatkan pasal 28J tersebut.

Sementara itu, Nadirsyah Hosen melihat bahwa perbedaan antara Indonesia dengan Australia dalam menghormati perbedaan agama terletak pada kebijakan mengakomodasi. Jika Australia hanya mengakomodir Kekristenan, Indonesia mengakomodasi 6 agama yang terdapat di Indonesia.

“Australia hanya memberikan hari libur (public holiday) pada Natal dan tidak memberikan hari libur nasional pada perayaan agama-agama lainnya yang dianut oleh warga Australia. Sedangkan Indonesia mengakomodir libur nasional bukan pada hari raya Islam saja,” ujar Nadir.

Kendati demikian, sambung Ra’is Syuriah Pengurus Cabang Istimewa NU di Australia dan New Zealand itu, kebijakan akomodasi tidak cukup.

Maka dari itu ia mendorong, bentuk penghargaan negara terhadap realitas keberagaman dan upaya menghidupkan semangat pluralisme semestinya tidak berhenti pada mengakomodasi 6 agama resmi. Jauh lebih penting membangun toleransi dan kebijakan yang adil terhadap penganut agama, keyakinan dan penghayat kepercayaan yang sangat beragam di Indonesia.

Sedangkan pada tingkat masyarakat, terutama terhadap umat Islam yang moderat, ia mengajak agar memanfaatkan media sosial sebagai ruang untuk mempromosikan Islam yang menghargai keberagaman. Sebab, sekarang kalangan Islam radikal sangat agresif dalam menyebarkan intoleransi dan kebencian dengan menggunakan media sosial.

Kegitan diskusi ini merupakan bagian dari gelaran OzAsia Festival, agenda tahunan yang menyuguhkan karya seni internasional setiap musim Semi di Adelaide, Australia Selatan. Festival tahun ini mengambil fokus Cultural Delights of Indonesia 24 September – 4 Oktober 2015.

Eko Supriyanto (Cry Jailolo), Teater Garasi (The Street), Samba Sunda, Melati Suryodarmo, seniman-seniman disabilitas Yogyakarta, Nani Losari (Topeng Cirebon) serta beberapa seniman Indonesia lainnya turut ambil bagian dalam festival yang melibatkan audiens dengan berbagai latar seni, tradisi, dan sejarah yang berasal dari panorama kebudayaan seluruh negara kawasan Asia. (Thowik SEJUK)

Tulisan bisa dilihat disini

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Tahun Politik Ancaman Serius Toleransi?

  Oleh: Fanny S Alam Belum hilang ingatan publik yang dikejutkan penyerangan terhadap…