Home Berita Cara Milenial Lintas-iman Mencintai Toleransi

Cara Milenial Lintas-iman Mencintai Toleransi

3 min read
0
0
2,055

Festival  Literasi Keindonesiaan di Vihara Puri Kembangan, Jakarta Barat (9/6/2018)

Anak adalah generasi bangsa. Mereka harus diajak untuk lebih berpikir terbuka dan  toleran terhadap  perbedaan, serta  memahami bahwa keberagaman adalah hal yang alami di dunia. Karena itu, perlu banyak ruang perjumpaan antara mereka yang berbeda latar belakang.

Demikian pendiri Generasi Literat Milastri Muzakkar sampaikan ketika memaparkan tujuan digelarnya Festival Literate Keindonesiaan di Pusat Pendidikan Agama Budha Prasadha Jinarakkhita, Vihara Puri Kembangan Jakarta Barat (9/06/2018).

Acara yang diikuti oleh 50 remaja perwakilan Budha, Kristen, Ahmadiyah, serta remaja muslim lainnya ini diisi dengan berbagai kegiatan berupa dongeng toleransi, wisata kecil bekeliling vihara, bermain angklung, serta fun games seperti memainkan kartu Pancasila dan Ular Tangga Nusantara puzzle keindonesiaan.

Festival Literasi Keindonesiaan ini didominasi busana merah putih. Banyak dari mereka dari generasi milenial. Melalui kegiatan ini, sambung perempuan yang akrab disapa Mila, diharapkan terbangun perjumpaan di kalangan remaja lintas-iman dan lintas-generasi agar saling mengenal dan duduk bersama, serta mensyukuri indahnya keberagaman.

“Keberagaman mempersatukan kita walaupun kita berbeda agama dalam Bhinneka Tunggal Ika. Ketika kita pergi ke suatu tempat, maka kita akan punya teman karena keberagaman,” tutur Maria Natalia perwakilan remaja Kristen dari Yayasan Kasih Mandiri Bersinar.

Dari festival yang memberikan kesempatan para peserta muda untuk memainkan jenis-jenis musik beberapa daerah ini, remaja dari jemaat Ahmadiyah Indonesia Akifah Nahdi Said (14) merefleksikan keberagaman sebagai suatu bentuk persatuan, gotong-royong, saling menghargai dan cinta toleransi.

Ia juga terkesan sekali mengikuti pergumulan lintas-iman tanpa membuatnya khawatir terkikis atau rusak keyakinannya.

“Senang bisa ketemu dengan teman-teman dari berbagai agama, mengetahui bagaimana cara-cara (beribadah) agama-agama yang lain,” ujar Akifah.

Sementara, perwakilan remaja muslim lainnya, Aldo, menyampaikan perasaan yang hampir sama bisa berkumpul dengan remaja-remaja lintas-iman dari ragam generasi.

“Ini adalah momen yang baik untuk  berefleksi bahwa agama mengajarkan kita untuk saling mengasihi sesama umat manusia dan bertoleransi pada semua perbedaan yang ada,” Mila menutup paparan kegiatan Festival Literasi Keindonesiaan yang merupakan kerjasama dengan Jelajah Buku, Komunitas Rumah Dongeng Pelangi dan Vihara Prasadha Jinarakkhita. [Rifah Zainani]

 

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Unending Stigma against LGBTIQ during Covid-19 Period in Bandung

By Fanny Syariful Alam A local vlogger in Bandung, West Java, Indonesia, Ferdian Palekka i…