Home Berita Agama Ramah Disabilitas

Agama Ramah Disabilitas

5 min read
0
0
1,302

Diskusi-2-42015

Diskusi antar-iman yang digelar Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) cabang Flinders, PPIA cabang South Australia, dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU ANZ) yang menghadirkan narasumber KH. M. Luqman Hakim Ph.D (Islam), pendeta Ellia Maggang (Kristen) dan romo Amatus Budiharto (Katholik) tidak hanya membahas upaya damai di tengah perbedaan iman, juga mengangkat pentingnya agama dalam mewujudkan keadilan kalangan disabilitas.

Pada diskusi antar-iman yang diadakan di Flinders University Adelaide, Australia, Kamis sore (2/4/2015) ini, pembahasan ihwal tuntutan agar agama memberi keadilan terhadap penyandang disabilitas menyeruak ketika aktivis dan akademisi disabilitas Jaka Anom Ahmad Yusuf Tanukusuma menyinggung banyaknya pemuka agama yang cenderung memandang disabilitas sebagai kalangan yang patut mendapat diskriminasi.

Selain paparan dari berbagai pengalaman Jaka sebagai penyandang tuna netra, fakta diskriminasi terhadap perempuan disabilitas juga dibeberkan aktivis dari Komnas Perempuan, Siti Maesaroh. Aktivis perempuan yang tengah menempuh master bidang studi disabilitas (Flinders University) ini menguraikan bahwa masih diberlakukannya UU Perkawinan 1974 yang didasarkan pada nilai-nilai agama memberikan peluang diskriminasi lantaran dalam salah satu pasalnya seorang suami diperbolehkan menceraikan istrinya yang “cacat” atau sakit fisik yang tidak bisa disembuhkan.

Merespon persoalan-persoalan di atas kyai Luqman menegaskan: Islam tidak mengenal dosa turunan. Jadi kalangan disabilitas tidak lain sesama manusia yang harus dihormati.

“Kalau ada pandangan keagamaan yang menganggap disabilitas sebagai penanggung dosa, kutukan, pandangan semacam itu sudah bercampur legenda atau mitos-mitos. Bukan dari ajaran Allah,” urai sang kyai yang juga seniman kaligrafi.

Anjuran untuk menghormati kalangan disabilitas dijelaskan sang kyai yang merupakan pengampu majalah Cahaya Sufi dan Sufinews.com melalui kisah Nabi Muhammad yang ditegur Allah karena mengacuhkan dan memalingkan wajahnya dari Abdullah bin Ummu Maktum, penyandang tuna netra, yang hendak mendapatkan pengajaran Islam dari Nabi. Teguran Allah ini termaktub dalam al-Quran surat Abasa ayat 1-16.

Sedangkan romo Budi menjadikan isu disabilitas sebagai tantangan sejarah umat di mana iman tidak terlepas dari konteks sosial. Menurut hematnya, disabilitas sebagai kutukan Tuhan adalah pandangan yang hidup dalam sejarah umat di masa lalu.

Maka, bagi orang-orang Katholik sekarang ini tidak bisa lagi berlindung dalam Perjanjian Lama yang masih punya tendensi menyingkirkan disabilitas.

Sebaliknya, ia pun mengacu pada spirit yang lebih substansial dengan menegaskan, “Yesus datang untuk menyapa orang-orang yang dipinggirkan, disingkirkan.”

Sementara itu, pendeta Ellia Maggang yang tengah menempuh master bidang teologi di Flinders University mentransformasikan Trinitas sebagai perbedaan yang bersatu dalam relasi kasih. Dari sana, ia mengimani prinsip Yesus: melalui penyandang disabilitas kemuliaan Tuhan terpancar.

Ketua PCI NU Adelaide Tufel Musyadad mewakili panitia diskusi antar-iman kali ini menuturkan bahwa kehadiran kyai Luqman Hakim di Adelaide merupakan rangkaian dari safari sufi sang kyai yang dilakukan dengan berbagai diskusi, mengaji, dan bedah buku, yang sebelumnya diadakan di Melbourne dan Canberra.

Ia juga menyampaikan tujuan dari safari kyai Luqman dan kegiatan-kegiatan yang akan digelar selanjutnya sejalan dengan semangat PCI NU ANZ untuk membumikan Islam di Australia.

“Tidak bermaksud memaksa orang Australia masuk Islam, tetapi lebih untuk menghidupkan Islam agar ramah terhadap perbedaan,” Tufel memungkasi. (Thowik SEJUK)

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Lewat Jurnalisme Pers Mahasiswa Menangkal Hoax

Suasana kegiatan “Hoax dan Jurnalisme Damai: Pelatihan Jurnalistik untuk Mahasiswa&#…