Home Berita Pelajar kota seribu pesantren tebar damai lewat vlog keberagaman

Pelajar kota seribu pesantren tebar damai lewat vlog keberagaman

7 min read
0
0
761

Wajah-wajah milenial memamerkan senyum dan tawa ceria menghidupkan bersama-sama semangat kebinekaan melalui media sosial. Pemandangan tersebut terekam dalam Pelatihan VlogIT tentang Keberagaman yang dilaksanakan di aula Kecamatan Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu lalu (21/10).

Sebagai medium yang dekat dan diminati anak-anak muda yang aktif bermedia sosial, disadari betul para peserta training bahwa vlog menjadi salah satu alat penyebaran informasi dan ide-ide yang sangat efektif sekarang ini. Untuk itulah anak-anak muda di kota 1.000 pesantren berkumpul, belajar membuat vlog keberagaman dalam pelatihan yang dibuka oleh Camat Singaparna yang  sekaligus Ketua DPD Sundawani Tasikmalaya Uus Usman S.Pd.

Dalam kesempatan tersebut Doni Sutriana selaku panitia penyelenggara menegaskan, di tengah serbuan informasi jangan sampai anak-anak muda hanya menjadi konsumen di media sosial, tanpa bisa mempengaruhi dengan memproduksi konten-konten positif dalam mengkampanyekan keberagaman. Sebab, satu kali klik, informasi menyebar dalam hitungan detik.

Doni Sutriana tengah menerangkan teknik-teknik pengambilan video dengan kamera handphone

Doni menambahkan bahwa vlogging juga bisa dijadikan sumber mata pencaharian utama. Artinya, di masa sekarang ini, internet memberikan keleluasaan penggunanya untuk mendapatkan apresiasi dari karya-karya yang dihasilkannya.

“Namun perlu diperhatikan, konten yang disebarkan itu harus ramah, tidak menimbulkan perpecahan dan tidak juga bertentangan dengan hukum positif, yang dampaknya akan merugikan diri sendiri dan orang banyak,” tegas Doni mengingatkan.

Pelatihan yang digelar Sabtu pagi sampai sore ini berjalan dengan suasana guyub dan penuh antusias dari para peserta, pemberi materi, dan panitia. Hal itu terbangun berkat kerjasama Sundawani Tasikmalaya dengan Forum Bhinneka Tunggal Ika (FBTI) Tasikmalaya, Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), Komunitas Pemuda Lintas Iman (KOMPAS Iman) Tasikmalaya, Indonesia Sejahtera (ISRA), Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) dan Solidaritas Korban Tindak Pelanggaran Kebebasan Beragama dan Berkepercayaan (SobatKBB).

Semua pihak turut menyumbang, baik materi, waktu ataupun keahlian. Pola gotong royong inilah yang diharapkan penyelenggra agar menulari para peserta sehingga mereka dapat semakin memperkuat rasa solidaritas di kalangan pelajar Tasikmalaya.

Asep Rizal dan peserta berdialog dalam training Vlog Keberagaman

Vlog untuk Membunyikan Keberagaman dan Kebangsaan

Ketua pelaksana pelatihan Asep Rizal Asy’ari dalam sambutannya menyuntikkan semangat: peserta yang mengikuti training adalah pelajar-pelajar terpilih yang harus dapat berbuat yang terbaik bagi generasinya. Menurut Asep Rizal, mereka – yang terdiri dari 15 perempuan dan 5 laki-laki, yang berasal dari 7 sekolah menegah atas dan sederajat di Tasikmalaya – tidak lain wakil yang dipilih dan diutus sekolah masing-masing.

“Para pelajar yang datang pada hari ini merupakan bagian dari sejarah yang akan menjadi gambaran bagi Tasikmalaya di masa mendatang,” tantang Asep di depan para peserta.

Selain untuk memberikan pemahaman dan keterampilan tentang pembuatan vlog, pelatihan ini bertujuan untuk mengkampanyekan pentingnya toleransi dan keberagaman di Tasikmalaya. Mereka dituntun para fasilitator untuk memproduksi vlog yang mengandung nilai-nilai luhur tersebut. Sehingga, para remaja dapat mengambil perannya untuk menjadi perekat dan pemersatu bangsa.

Jadi, dalam training ini selain membahas teknik video dengan handphone juga dibahas soal konten yang fokus dalam merayakan perbedaan dan perjumpaan. Ini menjadi tujuan terpenting penyelenggara agar siswa-siswi yang terlibat dapat berkarya dan menyumbangkan nuansa-nuansa damai di Tasikmalaya.

Dua peserta training mempraktekkan pembuatan vlog dengan kamera handphone

Sindy Aditya Ningsih, salah seorang fasilitator, melakukan mentoring pada sesi praktek

Kampanye Keberagaman di Sekolah sebagai Strategi Lanjutan

Tidak ketinggalan Sekretaris Nasional SobatKBB Firdaus Mubarik turut memompa gairah para peserta.

“Anak SMA itu bisa berkarya. Kita harus meyakinkan kepada masyarakat bahwa di Tasikmalaya semua yang berbeda diterima dengan lapang dada,” ajak Firdaus.

Gayung pun bersambut. Apa yang disorongkan Firdaus mendapat respon dari siswi SMKN 2 Tasikmalaya, Nukila Ghaida Fatin

“Keragaman muncul dari perbedaan. Namun perbedaan itu bukan alasan untuk terpecah dan bermusuhan,” kata Nukila Ghaida menyampaikan pandangan toleransi di tengah rekan sebayanya.

Para penyelenggara mendesain kegiatan tidak berhenti pada pelatihan kali itu saja. Tahap selanjutnya, setelah acara training para siswa akan saling mengunjungi satu persatu sekolah untuk bertukar cerita dan produksi-produksi video mereka. Ini akan ditempuh panitia bersama agar kemudian makin banyak siswa lain yang terlibat, juga memperkuat komunikasi di antara para siswa.

Namun begitu, baru dua-tiga hari training, tantangan berdatangan ke penyelenggara.

“Beberapa sekolah di Tasikmalaya mengundang kami, para trainer kemarin, agar menggelar pelatihan di tiap-tiap sekolah mereka,” ungkap Asep Rizal dari Sundawani saat dihubungi sore tadi (25/10).

Semoga harapan akan perdamaian yang penuh penghargaan dalam perbedaan dapat lebih hidup dan berkembang dari pundak-pundak milenial di Tasikmalaya.

Laporan dibuat: Firmansyah SobatKBB

Sumber: http://sobatkbb.org/traninig-vlog-tasikmalaya/

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Lewat Jurnalisme Pers Mahasiswa Menangkal Hoax

Suasana kegiatan “Hoax dan Jurnalisme Damai: Pelatihan Jurnalistik untuk Mahasiswa&#…