Pendeta GKJTU Salatiga Daniel Iswanto bersama peserta Workshop Pers Mahasiswa SEJUK (3/9/2016)
Seperti makan, toleransi adalah suatu keharusan, kebiasaan, bahkan mungkin alamiah dalam kehidupan umat yang bhinneka. Itulah Salatiga. Dan begitulah Indonesia semestinya. (Daniel Herry Iswanto)
Beberapa waktu lalu media massa Indonesia dipenuhi dengan berita kekerasan atas nama agama seperti Tolikara, Aceh Singkil, Gafatar dan terakhir perusakan Vihara oleh sekelompok orang di Tanjung Balai, Sumatera Utara. Sebagaimana kasus-kasus serupa, hasil penyelidikan Komisi Nasional Hak Asasi dan Manusia (Komnas HAM) terhadap kasus Tanjung Balai menyatakan bahwa insiden tersebut terjadi karena distorsi informasi yang disebarkan oknum tertentu.
Seperti dikutip dari situs resmi Komnas HAM, beredar isu bahwa seorang warga etnis Tionghoa melarang adzan dan mematikan pengeras suara masjid. Padahal yang terjadi hanyalah penyampaian keberatan mengenai suara adzan dari Masjid Al-Makshum, Tanjung Balai oleh seorang warga Tionghoa kepada tetangganya. Keberatan itu pun disampaikan kepada pihak Masjid Al-Makshum dengan harapan bisa diteruskan ke pengurus ma
