Home Agenda Merawat Kebebasan Beragama di Tengah Covid-19 Lewat Beasiswa Liputan

Merawat Kebebasan Beragama di Tengah Covid-19 Lewat Beasiswa Liputan

11 min read
0
0
2,030

AKKBB yang diserang FPI di Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni 2008

Viralnya video prank pembagian sembako isi sampah kepada transpuan di Bandung dan pembunuhan Mira, transpuan di Jakarta Utara yang dibakar, merupakan wujud dari meningkatnya kebencian atau intoleransi dan kekerasan berbasis moralitas agama dan budaya. Celakanya, intoleransi dan diskriminasi terhadap kelompok minoritas tetap terjadi di tengah badai Covid-19.

Kasus lainnya menimpa keluarga Kristen di Bekasi yang menghelat ibadah virtual di rumah kemudian dibubarkan ketua RT dan tokoh agama Islam. Sempat beredar pula surat Dinas Sosial di Bangka Belitung yang menyaratkan penerima bantuan untuk warga terdampak Covid-19 beragama Islam. Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya juga hendak memaksa untuk menutup Masjid Al-Aqso milik jemaat Ahmadiyah di Singaparna.

Sedangkan awal-awal merebak Covid-19 di Indonesia, kebencian bernuansa etnis mengemuka. Etnis Tionghoa menjadi “bulan-bulanan” di media sosial.

Sementara, situasi kebebasan sipil Indonesia 10 tahun terakhir mengalami kemunduran, sebagaimana dilaporkan Lembaga Survei Indonesia (LSI) atau Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Begitupun situasi tiga tahun terakhir, laporan LSI yang dirilis 19 November 2019 menunjukkan intoleransi politik cenderung mengalami peningkatan di 2018 dan 2019 jika dibandingkan dengan 2016.

Isu agama atau keyakinan, seksualitas dan etnis terlampau sering ditarik oleh publik Indonesia ke tengah pusaran ketegangan, baik arena offline maupun online. Isu-isu tersebut tidak pernah absen dalam proses-proses politik nasional mapun lokal, terutama pemilu atau pilkada.

Di sisi lain, pemberitaan media-media terkait agama, keberagaman seksual dan etnis kurang menimbang dampakanya bagi kelompok rentan. Memang, tidak ada penelitian terkait akibat langsung pemberitaan terhadap aksi-aksi intoleransi, diskriminasi dan persekusi terhadap kelompok minoritas. Namun begitu, pengaruh media dan kepercayaan publik yang masih besar terhadap media, menjadi tantangan pers Indonesia untuk setia menjalankan perannya mengawasi tanggung jawab pemerintah dalam menjamin pemenuhan hak-hak warga negara secara setara. Begitupun fungsi edukasi menyebarkan toleransi dan perdamaian bagi masyarakat Indonesia makin relevan dijalankan.

Narasi-narasi harmoni dari agama, keberagaman seksual dan etnis pun oleh media belum banyak diangkat dan didorong ke publik agar menjadi kesadaran bersama tentang pentingnya menghidupi semangat menghargai perbedaan. Padahal, di tengah Covid-19, hampir setiap organisasi dan kelompok keagamaan seperti gereja maupun kelompok lintas-iman dan etnis bahu-membahu melawan virus dan mengurangi dampaknya bagi masyarakat.

Ahmadiyah, misalnya, bersama organisasi sayapnya, Humanity First, membagikan masker, hand sanitizer serta alat pelindung diri (APD) lainnya dan tidak ketinggalan pula sembako yang didistribusikan kepada masyarakat luas di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia. Mereka juga menggalang siaga donor darah nasional dengan menyiapkan ribuan kantong dari jemaat Ahmadiyah.

Terhadap itu semua, Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) bekerja sama dengan Internews menggelar Webinar Workshop dan Story Grant untuk jurnalis yang akan digelar di empat wilayah sebagai upaya menguatkan prinsip-prinsip jurnalistik yang menghargai keberagaman agama atau keyakinan, keberagaman seksual dan etnis. Empat wilayah program ini meliputi: pertama, Jakarta, Jawa Barat dan Banten, kedua, Sumatera, ketiga, Kalimantan, dan keempat, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Maluku Utara dan Papua.

Nama Program

Webinar Workshop & Story Grant “Jurnalisme Keberagaman: Merawat Toleransi di Tengah Covid-19”

Tujuan

Mengembangkan dan menyebarluaskan pemahaman kebebasan beragama dan prinsip anti-diskriminasi melalui kerja-kerja jurnalistik

Yang Diharapkan

  1. Meningkat dan meluasnya kesadaran dan pemahaman di kalangan jurnalis tentang pentingnya penghargaan terhadap prinsip-prinsip kebebasan beragama atau berkeyakinan dan anti-diskriminasi terhadap orientasi seksual dan etnis;
  2. Menguatnya fungsi watchdog pers Indonesia dalam menuntut tanggung jawab negara melindungi segenap warga di tengah fakta keberagaman;
  3. Menguatnya fungsi edukasi pers Indonesia perihal penghargaan terhadap keberagaman berbasis agama atau keyakinan dan anti-diskriminasi terhadap orientasi seksual dan etnis yang berbeda;
  4. Tergeraknya media dan jurnalis mengembangkan jurnalisme keberagaman dalam pemberitaan-pemberitaan isu kebebasan beragama dan anti-diskriminasi terhadap orientasi seksual dan etnis yang berbeda melalui stimulus beasiswa terbatas program fellowship liputan;
  5. Terpublikasinya karya-karya jurnalistik yang ramah terhadap keberagaman;
  6. Terbangun jaringan jurnalis yang ramah dan menghormati kebinekaan dengan menghidupkan prinsip kebebasan beragama dan anti-diskriminasi terhadap orientasi seksual dan etnis yang berbeda.

Kegiatan

Program ini menggelar dua kegiatan, yakni webinar workshop jurnalisme keberagaman dan story grant. Dua kegiatan tersebut diperuntukkan bagi jurnalis media mainstream yang bekerja di empat wilayah: (1) Jakarta, Banten dan Jawa Barat, (2) Sumatera, (3) Kalimantan, dan (4) Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Maluku Utara dan Papua.

Kepesertaan

Peserta webinar workshop dan coaching story grant berjumlah 15 jurnalis media mainstream. Melalui coaching, akan dipilih masing-masing 10 jurnalis peraih story grant di setiap wilayah. Hasil liputan berupa features dari total 40 peserta diterbitkan di media tempatnya bekerja.

Besaran Story Grant

Total beasiswa terbatas program story grant adalah Rp. 280.000.000. Setiap jurnalis yang terpilih mendapat story grant masing-masing akan memperoleh Rp. 7.000.000;

Persyaratan

Ketentuan untuk terlibat dalam Webinar Workshop & Story Grant “Jurnalisme Keberagaman: Merawat Toleransi di Tengah Covid-19” sebagai berikut:

  1. Peserta workshop dan story grant adalah jurnalis media cetak, online, radio dan televisi di wilayah kerja (1) Jakarta, Banten dan Jawa Barat, (2) Sumatera, (3) Kalimantan, dan (4) Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Maluku Utara dan Papua;
  2. Pendaftaran meliputi biodata singkat dan proposal story grant bertema Kebebasan Beragama dan Berekspresi yang melingkupi isu agama atau kepercayaan, etnis, gender dan orientasi maupun ekspresi seksual yang berbeda;
  3. Menyertakan kartu pers dan surat keterangan dari medianya (editor atau produser) yang akan menerbitkan atau menayangkan karya story grant;
  4. Proposal story grant mencakup:
  • Judul
  • Angle
  • Latar masalah dan situasi beserta alasan (maksimal 120 kata)
  • Pesan penting apa dan ditujukan kepada siapa saja, misalnya komunitas atau kelompok warga, pemerintah, aparat, dll. (maksimal 60 kata)
  • Narasumber-narasumber kunci 

5. Proposal story grant dikirim ke https://bit.ly/sejukstorygrant paling lambat 19 Juni 2020.

Para peserta story grant terpilih diumumkan 26 Juni 2020 di Sejuk.org dan media sosial SEJUK.

Proses peliputan story grant sampai penerbitan atau penayangan karya dilakukan paling lama satu bulan sejak para peraih story grant diumumkan tiga hari setelah coaching;

Jadwal

Berikut jadwal webinar workshop dan coaching story grant berdasarkan wilayah:

6-9 Juli 2020:  Jakarta, Banten dan Jawa Barat

20-23 Juli 2020: Sumatera

3-6 Agustus 2020: Kalimantan

24-27 Agustus 2020: Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Maluku Utara dan Papua

Secara keseluruhan, batas akhir penerbitan story grants di media para peserta 28 September 2020. Seluruh karya atau bukti liputan story grant dikirim paling lambat 29 September 2020 ke email: kabarsejuk@gmail.com.

Penutup

Demikian Kerangka Acuan Webinar Workshop & Story Grant “Jurnalisme Keberagaman: Merawat Toleransi di Tengah Covid-19”ini kami buat. Semoga semangat merawat keberagaman dan membela yang terpinggirkan semakin hidup melawan virus intoleransi di tengah pandemi korona.

Jakarta, 25 Mei 2020

Ahmad Junaidi

Direktur SEJUK

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Agenda

Leave a Reply

Check Also

Unending Stigma against LGBTIQ during Covid-19 Period in Bandung

By Fanny Syariful Alam A local vlogger in Bandung, West Java, Indonesia, Ferdian Palekka i…