Home Berita Ini Anak-anak Muda Perawat Keberagaman yang Lolos Fellowship Liputan SEJUK

Ini Anak-anak Muda Perawat Keberagaman yang Lolos Fellowship Liputan SEJUK

3 min read
0
0
505

Dok: SEJUK

“Masa depan perdamaian, toleransi dan keadilan bangsa ini ada di tangan generasi muda. Maka pendokumentasian laporan-laporan mendalam tentang keberagaman dari sekitar mereka merupakan bentuk kepeduliannya memberikan ruang bagi kelompok marginal untuk bersuara,” kata Direktur Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) Ahmad Junaidi.

Ungkapan yang penuh harapan pada dunia pers Indonesia itu ia sampaikan sebagai pesan atas terpilihnya 10 proposal program “Fellowship Liputan: Anak Muda dan Penyebaran Jurnalisme Keberagaman di Masa Pandemi Korona” yang digelar SEJUK bekerja sama dengan Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit (FNF) dan didukung Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Program beasiswa terbatas untuk anak muda kali ini, sambung editor The Jakarta Post yang akrab disapa Alex, bertujuan meningkatkan dan menyebarluaskan pemahaman serta praktik kebebasan beragama dan prinsip anti-diskriminasi melalui kerja-kerja jurnalistik. Selama Juni sampai Juli 2020 anak-anak muda di bawah 30 tahun yang lolos dan terlibat dalam program fellowship SEJUK ini akan meliput dinamika kebebasan beragama dan prinsip-prinsip non-diskriminasi.

“Karena pandemi Covid-19 di Indonesia angkanya terus bertambah, maka proses liputannya harus dilakukan dari rumah, tidak turun lapangan,” ujarnya.

Berikut adalah 10 proposal liputan terpilih:

  1. Widiya Hastuti (BOPM WACANA) – Umat Kristen di Aceh Singkil Pasca Pembakaran Gereja pada 2015
  2. Achmad Fawaidi (Alumni LPM AKADEMIKA) – Nasib ODHA Perempuan di Bali
  3. Aulia Insan (LPM OBSESI) – Buruh Perempuan dan Hak-hak yang Tak Kunjung Dipenuhi
  4. Tomy Ginting (LPM AKLAMASI) – Pasca-tragedi Penyegelan GPdI Efata di Indragiri Hilir, Riau
  5. Ramadhana Afida Rachman (SUARA MAHASISWA) – Pernikahan Anak dan Tren yang Terus Meningkat di 2020
  6. Susi Gustiana (Alumni GAUNG NTB) – Kasus Kekerasan Seksual dan Hilangnya Kepercayaan Antarumat Beragama di Kec. Lunyuk, Sumbawa
  7. M. Sidik Pramono (LPM JUSTISIA)- Menjaga Asa Pembangunan Gereja Tlogosari, Jawa Tengah
  8. Atanasius Rony Fernandez (Alumni UKPKM MEDIA UNRAM) – Patriarki dan Peran Ganda Perempuan Selama Pandemi
  9. Murni Oktaviani (LPM AKADEMIKA) – Toleransi dalam Kehidupan Masyarakat Desa Adat Melaya, Bali
  10. Akbar Trio Mashuri (LPM SOLIDARITAS) – Stigma Sesat dalam Tradisi Nyadran di Desa Tambak Cemandi, Jawa Timur

Jakarta, 14 Juni 2020

*Informasi terkait pelaksanaan coaching dan proses fellowship selanjutnya akan disampaikan kepada peserta langsung. Hubungi Lydia (08533149008) untuk informasi lebih lanjut.

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Unending Stigma against LGBTIQ during Covid-19 Period in Bandung

By Fanny Syariful Alam A local vlogger in Bandung, West Java, Indonesia, Ferdian Palekka i…