Home Berita Jika Sinagog, Gereja dan Masjid Satu Atap

Jika Sinagog, Gereja dan Masjid Satu Atap

4 min read
0
0
255

 

INILAHCOM. Berlin — Jika tidak ada penentangan dari banyak pihak, seorang pendeta Protestan, rabi Yahudi dan ulama Islam, dapat mewujudkan impian bersama, yaitu membangun rumah ibadah bersama bagi tiga agama.

House of One, demikian nama rumah ibadah itu, diharapkan selesai dalam empat tahun. Seluruh biaya pembangunan berasal dari sumbangan tiga komunitas agama; Protestan, Judaisme, dan Islam, yang mendukung program ini.

Rumah dibangun di Berlin, dan jika terwujud akan menjadi ‘Keajaiban Berlin’ karena yang pertama di dunia. Rumah itu menyediakan tempat ibadah dan kontemplasi bagi tiga agama.

“Berlin adalah kota luka dan mukjizat,” ujar Rabi Tovia Ben-Chrin, salah satu dari tiga pemuka Judaisme yang mendukung proyek ini. “Ini adalah kota tempat pemusnahan orang Yahudi direncanakan. Kini, rumah pertama di dunia untuk tiga agama akan dibangun di sini.”

Penggalangan dana diluncurkan pekan ini, berbarengan dengan peletakan batu pertama. Salah seorang pendukung pembangunan mengatakan dibutuhkan dana 43,5 juta euros, atau Rp 703 miliar, untuk membangun rumah ini.

Arsitektur House of One tidak terlalu rumit. Berbentuk heksagonal, dan seluruh dinding dari bata. Panitia yakin bangunan ini akan menjadi daya tarik tersendiri, karena terletak di sebelah Museum Island, Berlin.

Siapa pun bisa memberikan sumbangan, dan panitia menerima berapa pun dan dari siapa saja. Nilai sumbangan terendah adalah seharga satu batu bata.

Multi-iman

Gagasan membangun House of One muncul tahun 2009, ketika arkeolog menggali tanah di bawah Museum Island. Arkeolog menemukan sisa-sisa gereja awal Berlin, yaitu Petrikirche, dan sekolah latih. Keduanya diperkirakan dibangun tahun 1350.

“Kami sepakat ada sesuatu yang visioner harus dibangun di situs pendiri Berlin,” ujar Gregor Hohberg, pendeta Protestan yang memulai proyek ini.

Hohberg yakin Berlin adalah kota yang tepat sebagai lokasi rumah ibadah bagi tiga agama. Berlin, katanya, adalah kota multi-kultur dan multi-iman.

Imam Kadir Sanci, pemimpin Muslim One, menginginkan proyek ini mendorong dialog tiga agama dengan budaya yang berbeda. Ia yakin lewat proyek ini prasangka buruk terhadap Muslim menguap.

“Kami ingin anak-anak kami memiliki masa depan cerah, saat keragaman adalah norma,” ujar Imam Kadir.

Tidak keliru jika House of One akan menjadi bangunan pertama untuk tiga agama. Namun, rencana rinci pembangunan memperlihatkan sinagog, gereja dan masjid terpisah, tapi tetap di bawah satu atap. Ada pula satu ruang besar untuk pemeluk tiga agama bertemu, dan saling berkontemplasi menurut kepercayaan masing-masing.

Tiga agama samawi bisa saja bersatu di bawah satu atap, tapi tidak di satu ruang — keterpisahan yang difirmankan Allah Swt dalam Surat Al Kafirun; Lakum Dinukum Waliyadin — bagimu agamamu, bagiku agamaku. [tst]

 

Sumber: http://web.inilah.com/read/detail/2107611/jika-sinagog-gereja-dan-masjid-satu-atap#.U5aHknKSyes

 

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Tahun Politik Ancaman Serius Toleransi?

  Oleh: Fanny S Alam Belum hilang ingatan publik yang dikejutkan penyerangan terhadap…