Home Berita Indonesia menjadi pusat pengembangan genre jurnalisme agama

Indonesia menjadi pusat pengembangan genre jurnalisme agama

6 min read
0
0
596

Menteri Luar Negeri Retno L. Marsudi (tengah) bersama pimpinan International Association of Religion Journalists (IARJ), Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) dan Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dalam Konferensi Jurnalisme Agama bertema “Reporting Religion in Asia” di UMN (18/10/2017)

 

Siaran Pers

International Association of Religion Journalists (IARJ)

Jakarta, 20 Oktober 2017

  1. Pada tanggal 17-19 Oktober 2017 berlangsung konferensi mengenai jurnalisme agama dengan tema “Reporting Religion in Asia” dihadiri oleh 50 wartawan, termasuk 20 dari luar negeri, dan 20 pakar komunikasi/jurnalisme membahas bagaimana jurnalis seharusnya meliput agama dan kehidupan beragama dinegara/daerahnya masing masing. Kami menyadari sepenuhnya kalau jurnalis/media masih cenderung salah dalam meliput agama karena masalah yang kompleks, pelik dan sensitif.
  2. Ini adalah kolaborasi antara International Association of Religion Journalists (IARJ), Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) dan Universitas Multimedia Nusantara. Acara dibuka dengan keynote Menteri Luar Negeri Retno L. Marsudi dan Duta Besar Denmark Rasmus Kristensen. Ibu Menlu menceritakan panjang lebar mengenai sepak-terjang Indonesia membangun dialog antar-agama di tingkat internasional sehingga saat ini Indonesia sudah mengadakan 28 dialog dengan mitra luar negeri. Interfaith dialogue menjadi signature diplomacy Indonesia.
  3. Jurnalis dari luar negeri dan Indonesia berbagi cerita bagaimana mereka meliput masalah agama. Dari Asia ada Pakistan, India, Bangladesh, Srilanka, Nepal, Myanmar, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Korea Selatan. Juga ada peserta dari Australia, Amerika Serikat, Canada, Denmark dan Italia memberikan sumbangan dalam diskusi.
  4. Peserta mendengar dari sejumlah pimpinan redaksi mengenai kebijakan media meliput masalah agama. Sejumlah tokoh agama besar maupun kecil menyampaikan kekecewaan mereka atas minimnya peliputan mengenai agama kecuali kalau ada insiden, padahal masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang agamis.
  5. Konferensi menjadi ajang untuk menunjukkan kepada dunia luar kerukunan kehidupan beragama di Indonesia. Satu mata acara adalah kunjungan ke Pesantren Darunnajah di Ulujami, Jakarta Selatan, melihat sistem pendidikan pesantren modern dan perannya menanam nilai-nilai toleransi, cinta dan damai yang hidup di Indonesia.
  6. Seminar atau diskusi umum di hari terakhir mengenai “Islam dan Demokrasi di Indonesia” menampilkan Yenny Wahid dari Nahdlatul Ulama, Abdul Mu’ti dari Muhammadiyah dan Syafiq Hasyim dari Majelis Ulama Indonesia. Pembicara optimis demokrasi akan berlanjut (sementara di sejumlah negara lain mengalami kemunduran), dan Islam memainkan peran penting untuk kelanjutan demokrasi di Indonesia.
  7. Beberapa kesimpulan dari pertemuan ini: (a). Mengarusutamakan masalah agama dalam peliputan media sehari-hari, bukan hanya saat ada kejadian, agar media memberikan gambaran nilai-nilai dan ajaran agama yang hidup di negara atau daerah masing-masing dan membangun saling kenal dan saling pengertian antar komunitas yang berbeda agama. Kuncinya ada di tangan pengambil keputusan di redaksi. (b). Media mengalokasikan sumber daya, meningkatkan ketrampilan jurnalis meliput agama, mengadakan pelatihan atau pendidikan sehingga laporan mereka dapat membangun rasa kebersamaan antara umat beragama. Saat ini praktis program pelatihan meliput agama tidak ada, atau sangat terbatas. (c). Membantu tokoh agama atau lembaga agama berkomunikasi dengan media lebih baik agar pesan-pesan cinta dan perdamaian disampaikan kepada masyarakat luas. (d). Melibatkan kalangan akademis atau universitas, terutama pakar komunikasi/jurnalisme, merancang program pelatihan atau pendidikan di genre jurnalisme agama. Pakar komunikasi/jurnalisme dari UMN, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Padjadjaran menanggapi positif gagasan ini. (e). Menjadikan Indonesia pusat pengembangan jurnalisme agama.

Konferensi dengan tema ini adalah yang pertama kalinya di Asia, dan peserta dari Indonesia dan Asia sepakat Indonesia adalah tempat yang ideal mengembangkan genre ini, mengingat keragaman agama di Indonesia dan sejarah panjang pengalaman komunitas beragama hidup berdampingan dengan rukun dan damai.

 

IARJ adalah organisasi yang didirikan oleh 25 jurnalis internasional di Bellagio, Italia, tahun 2012. Oganisasi ini terdaftar di Connecticut, Amerika Serikat. Saat ini Direktur Eksekutif dijabat oleh Endy M. Bayuni dari Indonesia

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Endy M. Bayuni, Direktur Eksekutif, IARJ email: endybayuni@gmail.com

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Lewat Jurnalisme Pers Mahasiswa Menangkal Hoax

Suasana kegiatan “Hoax dan Jurnalisme Damai: Pelatihan Jurnalistik untuk Mahasiswa&#…