Home Berita Mengapa LGBTIQ Perlu Beraliansi?

Mengapa LGBTIQ Perlu Beraliansi?

7 min read
0
0
614


Amek Adlian (berdiri, kelima dari kiri) dalam kegiatan kunjungan media ke ruang redaksi IDN Times SUMUT, Senin (9/3) lalu.

Mengapa individu LGBTIQ penting untuk beraliansi, penting mencari teman atau kemudian berada di bawah naungan organisasi? Itu adalah salah satu pertanyaan yang diajukan kepada Ketua Cangkang Queer Amek Adlian dalam siaran langsung di instagram SEJUK, Sabtu (9/5) lalu.

Disampaikannya, bisa jadi ada LGBT yang berada di kota kecil, sulit mencari akses, itu perlu untuk mencari aliansi. “Hal ini dikarenakan penting juga untuk mencari perlindungan saat ada hal2 tdk diinginkan, atau setidaknya punya wadah bertemu LGBTIQ lain lalu berbagi cerita, tambahnya.”

Aliansi yang dimaksud Amek bukanlah langsung organisasi besar dengan banyak orang. Jumlah dua hingga tiga orang saja disebutnya sudah aliansi. Untuk yang susah mencari teman, sekarang lebih mudah karena bisa cari lewat sosial media atau internet. Bisa juga dengan mencari komunitas LGBT di kota yang lebih besar. Biasanya akan diarahkan ke komunitas LGBT di daerah yang dimaksud.

Menurut Amek, itulah yang dilakukan Amek dan teman-teman saat mendirikan Cangkang Queer pada 2012 lalu. Setelah sebelumnya sudah bertemu, berbagi cerita dan berdiskusi duluan di dalam organisasi yang berbeda. Lalu memutuskan untuk membuat wadah khusus bagi komunitas LGBT di Sumatera Utara (Sumut).

Awalnya Cangkang Queer ada untuk memberikan ruang agar teman-teman LGBT di Sumut punya wadah berbagi cerita dan berdiskusi. Juga edukasi tentang pendalaman isu LGBT dan SOGIE. Hingga kini kerja-kerja yang mereka lakukan sudah berkembang sesuai empat pilar yang menjadi misi yaitu pendidikan, penelitian dan pengembagan, advokasi dan kampanye.

“LGBT ini kan rentan diskriminasi, baik oleh individu, media atau kelompok. Kalau sendiri, pasti dia bingung gimana cara membela diri. Tapi kalau beraliansi, dia tahu apa-apa saja yang harus dilakukan. Komunitas pun bisa mengupayakannya secara lembaga,” papar Amek.

Ini juga yang dilakukan Cangkang Queer saat ada pemberitaan tidak benar dan menyudutkan di media di Sumut, sebisa mungkin mereka mengajukan hak jawab agar pemberitaan tidak semakin berkembang dan menyebabkan disinformasi di masyarakat.

Meskipun begitu, aliansi yang dimaksud Amek tidak hanya terbatas terhadap kelompok LGBT saja, tapi juga media, akademi dan pemuka agama. “Dulu, memang kami Cangkang Queer takut ya sama media karena pemberitaannya sering salah dan menyudutkan, tapi kini kami mulai membuka diri dan membangun jejaring.”

Amek (kaos hitam mengunakan topi) dalam kegiatan Womens March di Medan, Minggu (8/3) lalu.

Menurut Amek itu perlu karena akan membantu saat diperlukannya meluruskan disinformasi terkait LGBT atau memberitakan kegiatan2 yang dilakukan oleh komunitas LGBT. “Nggak semua kok ternyata wartawan yang menolak. Banyak juga yang terbuka sama LGBT.”

Bicara tentang media, Amek mengamini bahwa stigma dan disinformasi pada komunitas LGBT juga turut disebabkan oleh media massa. “Beritanya sering salah, tidak tepat, menyudutkan dan bias. Ini bisa jadi karena jurnalis dan media tidak paham SOGIESC, tidak punya perspektif HAM dan masih percaya bahwa dunia ini biner semua. Hitam dan putih,” papar Amek.

Hal inilah yang menjadikan membangun aliansi ke media massa juga perlu. Untuk membuka forum diskusi antara komunitas dan media, sehingga media memberikan ruang terhadap komunitas LGBT dalam pemberitaan. “Pelan-pelan, duduk bersama, diskusi. Kemarin ada sekitar dua hingga 3 media memberitakan acara donasi kami. Itu sudah kemajuan, membantu sekali,” ucapnya.

Amek juga bercerita, kejadian prank sampah oleh seorang youtuber kepada transparan di Bandung adalah dampak dari stigma dan disinformasi LGBT selama ini. “Orang itu merasa bahwa seksualitas itu biner, hanya ada dua, hitam dan putih. Jadi, transpuan menurutnya ya salah. Dia merasa punya kuasa dan transgender itu tidak lebih darinya. Itu jelas pemikiran yang jahat,” tambahnya.

Stigma pada LGBT juga berdampak pada kondisi kesehatan mental individu LGBT yang seringnya merasa tidak aman dan sering berpikir tidak memiliki ruang di masyarakat. Perlakuan-perlakuan diskriminatif terhadap kelompok LGBT sebagai buntut stigma dan disinformasi juga menjadikan LGBT tidak memiliki akses setara dalam mendapat pendidikan dan pekerjaan.

“Salah satunya sering diejek, itu sudah pasti. Ini bisa jadi menurunkan rasa percaya diri.”

Menyambut IDAHOBIT 2020, Amek percaya sudah saatnya kita bersama-sama memutus rantai fobia terhadap LGBTIQ. Yang selama ini diam saja, marilah kita sama-sama menyerukan isu-isu perjuangan kesetaraan hak-hak LGBT menjadi isu bersama dan semua orang. Dengan begini, semoga stigma dan disinformasi terkait LGBT tidak ada lagi.

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Unending Stigma against LGBTIQ during Covid-19 Period in Bandung

By Fanny Syariful Alam A local vlogger in Bandung, West Java, Indonesia, Ferdian Palekka i…