Home Berita Mami Ruli, Waria Inspiratif yang Merdekakan Kaumnya

Mami Ruli, Waria Inspiratif yang Merdekakan Kaumnya

24 min read
0
0
779


IDAHOT17Mei2016-web

Setelah beranjak dewasa ia pun membuktikan dirinya dengan menjadi seorang waria yang memiliki pekerjaan layak seperti menjadi guru, anggota DPRD, serta direktur. 

Kenangannya kembali pada peristiwa tsunami yang membawa dia dan rekan-rekannya ke Aceh menyumbangkan kepedulian dan solidaritas kemanusiaannya dengan membantu membuat posko, dapur umum, dan menyediakan obat serta informasi pada korban.

(Mami Ruli)

 

Jalan Gowongan Lor Kota Yogyakarta pada Minggu sore (20/03) tidak begitu ramai. Suasana itu berbeda jauh dengan suasana di sebuah rumah bercat hijau di pinggiran jalan ini. Rumah itu terlihat ramai dan sedikit gaduh. Tampak banyak orang tengah berkumpul dan bercengkrama. Di depan pintu berdiri seseorang yang memakai kebaya putih dan jarit bermotif batik dengan rambut yang telah tersanggul rapi. Ia adalah Andi AM RR Gunady (55). Mami Ruli, begitu sapaannya, merupakan salah satu waria yang tergabung dalam Lembaga Swadaya Masyarakat Kebaya (LSM Kebaya). Dalam lembaga ini, Mami Ruli menjabat sebagai pengurus harian di divisi pengelolaan program Kebaya.

Lembaga ini merupakan sebuah ‘rumah’ bagi waria untuk berkumpul dan berbagi informasi. Bagi Mami Ruli, terbentuknya LSM Kebaya adalah sebuah momen bersatunya seluruh waria yang ada di Yogyakarta. Lembaga ini sebagai sebuah wadah bagi waria untuk belajar mengenai isu-isu HIV/AIDS serta kesehatan reproduksi, sesuai dengan tujuan didirikannya Kebaya. Di sini para waria dirangkul dan diajak untuk mengetahui, mencegah, dan mengobati HIV.

Di sebuah ruang kecil yang ditata layaknya ruang tamu itu Mami Ruli mencurahkan perjalanan hidupnya. Dengan tenang dan santai ia menceritakan kehidupannya sebagai seorang waria. Dilihat dari kehidupannya dalam keluarga, Mami Ruli bisa dikatakan beruntung dan berbeda dengan waria pada umumnya. Ia adalah seorang waria yang bisa diterima oleh keluarga, meskipun ayahnya adalah anggota TNI dan ibunya seorang guru. Tak hanya itu keputusan Mami Ruli untuk menjadi waria ini juga telah diterima oleh saudaranya yang juga banyak berkecimpung dalam dunia militer.

Penerimaan keluarga

Sambil memandang keluar rumah, Mami Ruli mengingat bagaimana dulu ketika duduk di bangku kanak-kanak. Ia menyadari bahwa dirinya berbeda. Sambil tersenyum ia mengatakan bahwa dulu banyak teman yang mengejeknya dengan mengatakan bahwa ia cantik layaknya seorang wanita. Hal itu juga didukung dengan rambutnya yang selalu dibiarkan panjang melebihi bahu. Ejekan tersebut tidak digubris, karena ia memang telah merasa bahwa ia berbeda dari anak laki-laki pada umumnya.

“Ibu saya pun menyuruh saya untuk tidak marah dan tidak minder walaupun banyak yang mengejek saya,” ungkapnya.

Meski demikian, orang tua Mami Ruli tidak hanya diam melihat perbedaan tersebut. Mereka sering mengajak Mami Ruli untuk melakukan konsultasi dan terapi ke salah satu psikiater di Surabaya. Sambil meringis ia mengatakan bahwa ketika di depan psikiater itu ia beberapa kali diberikan suntikan oleh dokter. Tetapi semua usaha itu tidak membuahkan hasil. Hal ini menyebabkan orangtuanya membebaskan Mami Ruli untuk memilih jalan hidupnya sendiri.

“Mereka menerima saya, mereka juga mengatakan kalau mereka akan mendukung keputusan yang saya ambil,” tutur Mami Ruli.

Ketika telah menyadari bahwa dirinya berbeda, ia masih tetap beraktivitas sebagaimana orang-orang lainnya yang heteroseksual. Mami Ruli mampu menjalani tahapan formal dalam hidupnya seperti bersekolah, mendapat pekerjaan yang layak, dan dianugerahi beberapa kemampuan. Bahkan, ia pernah menjadi seorang atlet pencak silat. Sempat ketika Mami Ruli duduk di bangku kelas tiga SMP, ia dimandati untuk memainkan biola saat perpisahan. Ketika itu, orangtua Mami Ruli membebaskannya untuk tampil seperti apapun. Bahkan, Mami Ruli diperbolehkan untuk tampil dengan menggunakan pakaian perempuan.

“Akhirnya pada saat itu saya memilih untuk memakai Kebaya dan ibu saya membantu saya untuk mengepang rambut saya yang panjang,” ungkapnya.

Menjadi waria mapan

Setelah beranjak dewasa ia pun membuktikan dirinya dengan menjadi seorang waria yang memiliki pekerjaan layak seperti menjadi guru, anggota DPRD, serta direktur.

Mami Ruli dulunya merupakan seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di sebuah sekolah dasar di Sumbawa. Sambil memainkan kipas di tangannya ia mengenang bagaimana dulu ia pergi ke Sumbawa pada tahun 1978. Ia membayangkan kembali bagaimana ia memasuki pesawat dan membawa barang dengan berpenampilan layaknya seorang perempuan. Berkebaya, mengenakan jarit, memakai sanggul, dan dengan wajah yang diolesi make up yang masih sederhana. Tanpa rasa malu dan tidak  menutupi bahwa dirinya adalah seorang waria. Tidak hanya saat berangkat, ketika harus mengajarpun ia akan tampil seperti itu.

Ketika di Sumbawa Mami Ruli merupakan orang yang disegani. Ia mengatakan bahwa masyarakat di sana mampu menerima dirinya meskipun mereka tahu kalau ia adalah waria. Tidak hanya penerimaan di masyarakat, Mami Ruli juga sering mendapat undangan dari Bupati Sumbawa untuk menghadiri acara tertentu. “Saya selalu diundang dan saya pasti menggunakan kebaya dan jarit untuk menghadiri acara itu,” katanya.

Kenyamanan yang didapatnya di Sumbawa tidak membuat Mami Ruli menetap di sana. Setelah sembilan tahun mengajar, pada 1987 ia kembali ke kampung halamannya di Sulawesi Selatan. Di sana ia menjajaki dunia politik. Saat ditanya mengenai alasannya mesuk ke ranah politik, Mami Ruli mengatakan bahwa ia direkrut oleh Partai Demokrasi Indonesia. Dengan percaya diri ia mengatakan bahwa partai memilihnya karena memang dianggap memiliki kapasitas dan integritas yang tinggi. Mami Ruli pun menerima tawaran itu karena baginya keberadaannya di partai akan memberikan sebuah warna bagi partai.

Sembari memperbaiki sanggulnya Mami Ruli juga menceritakan tentang bagaimana dirinya setelah ada di partai. Keputusannya memilih bergabung bersama partai membuatnya harus rela melepas gelar PNS yang dimiliki. Namun, keputusan itu membuatnya memiliki kesempatan untuk dicalonkan menjadi anggota DPRD di Bone. Pencalonan itu diterima oleh Mami Ruli karena ia merasa siap untuk menjadi perwakilan rakyat. “Ada hal yang ingin saya lakukan untuk mewujudkan sebuah keadilan di masyarakat,” ungkapnya.

Mami Ruli mengatakan selama masa kampanye ia tidak banyak berbuat dan berjanji kepada masyarakat. Sambil tersenyum tipis ia mengatakan bahwa dirinya tidak ingin mengumbar janji yang muluk-muluk dan mendongkrak popularitas melalui kampanye itu. Mami Ruli tidak ingin menjanjikan sesuatu, ia hanya ingin membuktikan apa yang bisa lakukan. “Saya biasa saja, kalau seandainya saya menang ya syukur, kalau tidak juga tidak kenapa-kenapa,” katanya.

Ketika kampanye berlangsung, Mami Ruli menyatakan bahwa ia memperoleh tanggapan yang baik dari masyarakat. Meskipun masyarakat mengetahui kondisinya yang berbeda, tapi mereka mau menerima karena telah mengenal Mami Ruli sejak kecil.

“Banyak masyarakat yang segan kepada saya, karena telah mengenal saya,” katanya.  Keseganan dan penghargaan masyarakat terhadap sosoknya dibuktikan dengan jumlah suara yang didapatkan ketika itu. Pada pemilihan tersebut, ia memperoleh suara yang banyak sehingga membuat partainya memperoleh dua kursi di anggota dewan.

Senyum merekah menghiasi wajah Mami Ruli ketika menceritakan kemenangannya. Kemenangan itu membuatnya mampu menduduki kursi Komisi E DPRD Bone periode 1987 s.d. 1992. Ketika itu jabatannya membuat Mami Ruli berfokus dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Selama menjadi anggota dewan pun Mami Ruli tidak pernah merasakan ketidaknyamanan dalam lembaga itu. “Saya sudah biasa menghadapi perbedaan, jadi setiap ada sidang saya merasa nyaman,” ungkapnya.

Meskipun merasa nyaman,  keanggotaannya di DPRD tidak mencapai lima tahun. Setelah dua tahun menjabat, yaitu pada 1989, Mami Ruli mengundurkan diri dari jabatannya. Tak ada penyesalan yang tergambar pada wajah Mami Ruli ketika menceritakan pengunduran dirinya ini. Baginya pengunduran diri yang ia lakukan bukanlah karena ia tidak kompeten di bidang itu. Tetapi, pengunduran diri ini dilatarbelakangi oleh paham yang ia anut tidak sejalan dengan paham partainya. Mami Ruli merasa dimanfaatkan karena pengalaman berpolitiknya belum begitu banyak. Sehingga, akhirnya ia meminta pergantian antar waktu sampai benar-benar meninggalkan jabatan itu.

Setelah selesai menjabat di anggota dewan, Mami Ruli akhirnya bertandang ke Jakarta. Lantas, ia berkesempatan untuk pergi ke Jepang selama satu tahun.

Setelah kembali lagi ke Indonesia, ia mendapat tawaran menjadi seorang direktur di sebuah training center di Bogor. Pekerjaan ini adalah pekerjaan terakhirnya sebelum akhirnya memilih untuk hidup dalam komunitas. Pekerjaan ini ditinggalkan karena ia sangat ingin bergabung di Kebaya. Namun banyak hal yang harus ia pertanggungjawabkan sebelum pergi dari tempat kerja itu.

Oleh karena itu, semenjak tahun 2003 hingga 2004 ia hanya berfokus pada perlindungan anak yang merupakan salah satu isu yang disoroti. Selama satu tahun itu Mami Ruli melakukan evaluasi terhadap program pemberian beasiswa yang ia berikan pada anak kurang mampu. Satu tahun itu pula ia habiskan untuk turun ke jalan dan tinggal bersama anak-anak penerima beasiswa serta melakukan evaluasi terhadap programnya.

Komunitas dan misi kemanusiaan

Seusainya melakukan evaluasi, pada tahun 2004, Mami Ruli akhirnya Ke Yogyakarta untuk bergabung dengan Mami Vin yang merupakan rekan warianya yang kemudian sama-sama merintis dan membangun Kebaya. Keputusan Mami Ruli untuk bergabung ke Kebaya bukanlah sebuah keputusan yang gegabah.

Sebab, sebelum benar-benar memutuskan untuk berkomunitas di Kebaya ia telah melakukan sebuah komunikasi yang intens dengan Mami Vin tentang waria. Selain itu, ada dorongan dari dokter untuk lebih berfokus pada kesehatan waria terutama HIV/AIDS. Namun, saat itu Mami Ruli dan Mami Vin tidak langsung membangun Kebaya. Mereka pada awalnya hanya membentuk sebuah kelompok dukungan sebaya yang juga difokuskan untuk waria yang mengidap HIV/AIDS. Seiring waktu berjalan, ada pendonor yang memberikan dana dan mengusulkan pembentukan sebuah lembaga, maka muncullah Kebaya pada 18 Desember 2006.

Semenjak berhenti dari pekerjaannya dan bergabung  dengan Kebaya, Mami Ruli bekerja sebagai seorang pengamen. Ia bersama teman-temannya sering mengamen di kereta tujuan Yogyakarta-Jakarta  dan sebaliknya dengan menggunakan musik instrumental. Setibanya di Yogyakarta mereka akan mendapat bayaran dari pihak kereta api yang mereka tumpangi itu.

Dulu kereta masih memperbolehkan pengamen, begitupun waria yang mengamen. Respon dari penumpang dan pihak pengelola kereta pun cukup baik terhadap waria. “Penumpang merasa nyaman dengan penampilan yang kita bawakan,” kenangnya.

Mami Ruli mengatakan bahwa pada saat itu ia dan rekannya tidak meminta uang pada penumpang. Tetapi, para penumpang yang merasa terhibur langsung memberikan uang kepada mereka.

Suatu ketika Mami Ruli sempat mengalami nasib buruk saat mengamen di kereta. Waktu itu ada orang yang mencuri uang hasil mengamennya. Hal itu dilihat oleh seorang petugas di kereta. Belajar dari kejadian itu, pihak kereta api langsung membuatkan sebuah tempat untuk menampung uang yang diberikan oleh penumpang. “Ketika sampai di tujuan, uang yang telah terkumpul itulah yang diberikan kepada kami,” tutur Mami Ruli.

Mami Ruli mengatakan bahwa kegiatan mengamen yang ia lakukan ini bukan hanya untuk mendapatkan uang. Lebih dari itu Mami Ruli ingin menstimulus rekan-rekannya agar bekerja lebih giat lagi. Sebab, mereka tidak memiliki kegiatan lain yang bisa mendatangkan penghasilan. Jadi, mereka hanya bisa menggantungkan nasib pada pekerjaan itu. Terlebih, tidak semua waria mau berusaha dengan giat menghasilkan uang melalui mengamen. Hal ini membuat Mami Ruli ingin lebih memotivasi mreka agar mau bekerja lebih rajin lagi.

Memutuskan untuk hidup di tengah komunitas waria membuat adanya perbedaan yang dirasakan oleh Mami Ruli. Ketika harus bergabung dengan Kebaya ia mesti melepaskan segala yang ia miliki dan merelakan segala yang ia punya.

Baginya, terjun ke komunitas waria menghadapi tantangan yang lebih berat. Ia pun ikut hidup di jalan, jauh dari keluarga, serta harus bersaing dengan waria lain untuk mendapat rejeki.

Perbedaannya dengan yang lainnya, ia menuntut dirinya berjuang dengan anggota Kebaya untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap waria. Baginya mengubah pandangan masyarakat terhadap waria adalah hal yang sulit.

Terlebih lagi kini isu LGBT tengah santer dibicarakan di media. Sebagaimana diakui Mami Ruli, situasi ini membuat semakin terpuruknya nasib orang-orang yang berorientasi seksual berbeda.

Bagi Mami Ruli, keadaan sekarang ini adalah iklim yang paling buruk bagi kehidupan bertoleransi yang ada di Indonesia. Mami Ruli mengatakan bahwa dulu memang banyak terjadi kasus-kasus berkaitan dengan waria. Tetapi, menurutnya hal itu tidak menyebabkan terjadinya penghinaan terhadap waria. Mami Ruli menambahkan, banyak orang yang beranggapan bahwa transgender itu adalah sebuah penyimpangan sosial, menular, dan juga pedofil. “Itu sangat tidak benar, saya bisa memberikan testimoni tentang itu,” ujarnya.

Meskipun mendapat pandangan yang buruk dari masyarakat, Mami Ruli tidak pernah menyerah untuk terus mengubah pandangan masyarakat terhadap waria. Salah satu hal yang ia lakukan adalah menjadi relawan di beberapa tempat yang terjadi bencana alam.

Kenangannya kembali pada peristiwa tsunami yang membawa dia dan dengan rekan-rekannya ke Aceh menyumbangkan kepedulian dan solidaritas kemanusiaannya dengan membantu membuat posko, dapur umum, dan menyediakan obat serta informasi pada korban. Ia mengisahkan bagaimana bencana tersebut memberikan dampak bagi semua orang di Aceh.

Mami Ruli masih ingat betul hal-hal apa saja yang Mami Ruli dan rekan-rekannya lakukan dalam penyelamatan terhadap korban. Namun, ia menggarisbawahi bahwa hal yang terpenting baginya saat menjadi relawan di sana adalah bagaimana agar korban tidak kelaparan. Sehingga ia lebih berfokus pada dapur umum agar para korban mendapatkan makanan yang cukup.

“Kami lebih fokus pada bantuan makanan, karena banyak dari mereka yang sakit karena kekurangan makan,” katanya.

Setelah mengenang tragedi di Aceh itu, kenangannya diputar ke beberapa tahun silam saat terjadi gempa di Bantul dan erupsi Merapi. Mami Ruli juga memberikan bantuan saat terjadi kedua bencana ini. Bantuan ini ia berikan bersama dengan rekan-rekannya di Kebaya. Berbeda dengan bentuk bantuan yang diberikan di Aceh, bantuan pada bencana erupsi ini diberikan dengan melakukan potong rambut gratis dan membagikan baju bekas yang masih layak pakai.

Selain membantu di daerah yang terkena bencana, cara lain yang mereka lakukan adalah dengan mengikuti kegiatan reguler yang dilakukan di masyarakat sekitar. Misalnya saja menghadiri kegiatan sosial di masyarakat, testimoni di radio ketika mendapatkan undangan, menghadiri HUT kemerdekaan, serta acara yang bersifat regional. Melalui kegiatan inilah Mami Ruli menyuarakan aspirasi mereka. Dengan terlibat dalam kegiatan-kegiatan tersebut, ia juga memperkenalkan sisi lain dari waria yang tidak diketahui masyarakat sekaligus untuk mendekatkan diri ke masyarakat.

Melihat apa yang terjadi di masyarakat dan media, Mami Ruli berharap ada sebuah keadilan di negara ini. Ia sangat berharap agar pemerintah memberikan waria sebuah dukungan moril dan payung hukum. Selain itu, Mami Ruli menyatakan bahwa apa yang digaungkan di media saat ini sangat jauh dari fakta kehidupan para waria.

“Kami tidak menuntut legalnya pernikahan sejenis. Kami hanya ingin sebuah keadilan meskipun kami berada di pondasi paling bawah sebuah bangunan yang besar,” pungkasnya.

Reporter: Ni Luh Putu Juli Wirawati, Redaktur Badan Penerbitan Pers Mahasiswa Balairung Universitas Gadjah Mada, adalah peserta Workshop Pers Kampus Meliput Isu Keragaman di Manado 20 – 22 Mei 2016

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Diversity Award & Fellowship Liputan Keberagaman 2018

Mejalani musim politik bernuansa SARA di era digital bukan perkara mudah bagi media. Tanta…