Home Berita Potret Perempuan Muslim Indonesia: Otonom dan Toleran

Potret Perempuan Muslim Indonesia: Otonom dan Toleran

3 min read
0
0
132

Foto: Fitra

Jakarta – Survey Wahid Foundation menyebutkan bahwa perempuan Indonesia sudah mandiri dalam menentukan pilihan politiknya.

Sebanyak 53% mayoritas perempuan muslim di Indonesia bersikap otonom dalam mengambil keputusan dalam hidup atas pertimbangan diri sendiri. Walaupun begitu, laki-laki jauh lebih otonom dibanding perempuan muslim (80.2 %). Rata-rata skor otonomi laki-laki 77.7% dan Perempuan 62.3%.

Hal tersebut disampaikan oleh Yenny Wahid, Direktur Wahid Foundation saat menyampaikan Laporan Survei Nasional Tren Toleransi Sosial-Keagamaan di Kalangan Perempuan Muslim Indonesia di Hotel JS. Luwansa, Jakarta. Survey yang dilakukan pada 6 – 27 Oktober 2017 di 34 provinsi di Indonesia. Dengan Jumlah responden survei nasional ini 1500 responden (50% perempuan, 50% laki-laki).

Adapaun indikator yang digunakan adalah dasar pilihan dalam soal jodoh/pasangan hidup (memilih suami atau istri), Bekerja atau tidak bekerja, Pihak yang paling mempengaruhi pandangan keagamaan, dan Menentukan pilihan politik pada setiap pemilihan umum. Otonomi perempuan merupakan tingkat kemampuan perempuan dalam mengambil keputusan tertentu dalam hidup secara mandiri.

Yenni memaparkan bahwa dirinya dibuat penasaran dengan kondisi perempuan sekarang. “Saya penasaran, seperti apa potret intoleransi dan radikalisme di kalangan perempuan? apakah benar perempuan yang dulunya dianggap sebagai objek, sekarang perempuan menjadi peran utama dan aktif menjadi subjek intoleransi?,” ungkap Yenni.

Hasil survei menunjukan, bahwa perempuan merupakan aktor strategis dalam upaya penguatan toleransi dan perdamaian. Mayoritas perempuan dan laki-laki setuju dengan pernyataan bahwa warga negara Indonesia bebas menjalankan agama apapun yang diyakini. Dibanding laki-laki, perempuan yang menyatakan setuju lebih banyak (perempuan 80.7 % ; laki-laki 77.4 %).

Ia menekankan bahwa, penguatan pengarusutamaan gender dan pemberdayaan perempuan sangat penting dan harus menjadi agenda strategis dalam upaya penguatan toleransi dan perdamaian di kalangan perempuan. Hasil survei menunjukan bahwa, 13.9% responden perempuan dan 19.6% responden laki-laki masih bias gender dalam memandang posisi perempuan.

Menurut Yenni, perempuan Indonesia layak untuk diberdayakan sebagai agen perdamaian. 8.6% perempuan Indonesia pro keadilan gender dan progresif. Jumlah tersebut berbeda tipis dengan responden laki-laki, yakni 7% yang pro keadilan gender. Meski demikian, mayoritas laki-laki dan perempuan bersikap moderat terhadap pernyataan bias gender anak laki-laki daripada anak perempuan (perempuan 77.5 % ; laki-laki 73.4 %).

 

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Tahun Politik Ancaman Serius Toleransi?

  Oleh: Fanny S Alam Belum hilang ingatan publik yang dikejutkan penyerangan terhadap…