Home Berita Mahasiswa Lintas Iman Rasakan Toleransi di Kaki Gunung Ciremai

Mahasiswa Lintas Iman Rasakan Toleransi di Kaki Gunung Ciremai

7 min read
0
0
1,475

Peserta Jurnalisme Keberagaman Untuk Perdamaian: Pers Mahasiswa dan Pemuda Lintas Iman pada 14-16 Februari 2020 di Kuningan, Jawa Barat sedang berfoto bersama.

Anggota lembaga pers mahasiswa (LPM) yang ke depannya akan menjadi jurnalis profesional dan bekerja di media mainstream diharapkan memiliki bekal pemahaman dan pengetahuan terkait kelompok minoritas. Hal ini diperlukan agar saat dihadapkan dengan kasus terkait, jurnalis mengerti bagaimana cara mempublikasi pemberitaan dan memverifikasi. Hal ini disampaikan oleh Juru Bicara Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) Yendra Budiana dalam acara Jurnalisme Keberagaman Untuk Perdamaian: Pers Mahasiswa dan Pemuda Lintas Iman pada Jumat, 14/02/2020 yang diadakan di Desa Manislor, Kuningan, Jawa Barat.

Yendra menyampaikan bahwa saat ini fungsi media massa sangat diperlukan karena memengaruhi pandangan masyarakat terhadap isu terkait termasuk dengan banyaknya berita palsu dan berita tidak toleran yang kemudian menyebabkan kebencian.

“Bayangkan kalau teman-teman jurnalis tidak memiliki pemahaman tentang kelompok minoritas, dimana saat ini media khususnya online lebih mengutamakan kecepatan sehingga mereka sulit untuk cek fakta,” sambung Yendra.


Haris Prabowo, reporter Tirto.id mengisi pelatihan menulis berita feature dalam rangkaian acara Jurnalisme Keberagaman Untuk Perdamaian: Pers Mahasiswa dan Pemuda Lintas Iman pada 14-16 Februari 2020 di Kuningan, Jawa Barat.

Haris Prabowo, reporter Tirto.id, sepakat bahwa saat ini media mainstream masih kekurangan pengetahuan ketika meliput dan memberitakan kelompok agama minoritas dan kepercayaan di Indonesia sehingga cenderung mengikuti narasi ciptaan pemerintah dan pihak mayoritas. Selain itu media mainstream harusnya lebih hati-hati menggunakan pilihan kata-kata dalam pemberitaan.

“Media lebih sering melakukan viktimisasi ulang dengan diksi yang tidak tepat hingga hasilnya malah lebih membahayakan kelompok minoritas,” sambungnya.

Menurut Harris, anggota pers mahasiswa dan pemuda lintas iman harus memiliki perspektif melindungi korban dan kelompok minoritas yang utuh saat ingin menulis isu terkait. Terkhusus untuk pers mahasiswa yang di masa depan kemungkinan menjadi jurnalis profesional, memiliki perspektif korban harus sudah dimiliki sejak awal termasuk pengetahuan dan pemahaman terkait kelompok-kelompok minoritas. “Kita tidak bisa menurunkan wartawan ke lapangan dengan bebas nilai, harus dibekali dengan perspektif korban terlebih dahulu.”

Selain dihadiri oleh anggota pers mahasiswa, kegiatan ini juga dihadiri oleh pemuda lintas iman dari Sunda Wiwitan, Katolik, dan Kristen. Menurut Yendra, kemampuan menulis dengan perspektif keberagaman tidak hanya perlu dimiliki oleh jurnalis, tapi juga oleh anak muda dikarenakan tersedianya platform menulis yang lebih beragam serta dekat dengan kehidupan anak muda seperti blog dan media sosial.

“Anak muda sebagai aset Indonesia di masa depan diharapkan sudah memiliki perspektif keberagaman sejak dini agar menjadi modal kuat bagi bangsa ini untuk bersatu dalam kebhinekaan.”

Oki Satrio, penghayat Sunda Wiwitan sedang bercerita kepada peserta
Jurnalisme Keberagaman Untuk Perdamaian: Pers Mahasiswa dan Pemuda Lintas Iman pada 14-16 Februari 2020 di Kuningan, Jawa Barat.

Selain diisi oleh pelatihan mengenal jurnalisme keberagaman dan menulis feature dengan perspektif jurnalisme keberagaman oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) dan Tirto.id, peserta juga mengikuti kegiatan live in yang diharapkan dapat memberikan perspektif langsung untuk melihat kehidupan komunitas masyarakat JAI Manislor, Komunitas Sunda Wiwitan Cigugur, jemaat Gereja Kristen Pasundan, jemaat Gereja Bethel Indonesia Kuningan dan jemaat Gereja Katolik Kristus Raja Cigugur yang berada di kaki Gunung Ceramai.

Melihat dan mengalami langsung kehidupan kelompok yang sering termarginalkan akan membangun rasa persaudaraan sesama manusia dan rasa persaudaraan sebagai anak bangsa. “Bahwa kita sebagai manusia dapat hidup berdampingan meskipun ada yang berbeda. Berbeda itu hal yang biasa,” tambahnya.

Kegiatan Jurnalisme Keberagaman Untuk Perdamaian: Pers Mahasiswa dan Pemuda Lintas Iman adalah hasil kolaborasi Badan Pelaksana Tafakur (BPT) JAI Bidang Publikasi dan Media, Komunitas Sunda Wiwitan Cigugur, Persatuan Gereja Indonesia Wilayah Jawa Barat (PGIW), SEJUK, Tirto.id, LPM Aspirasi UPN, LPM Didaktika UNJ serta LPM Gema Alpas Univ. Pancasila.

Acara ini diikuti 50 orang peserta yang terbagi dalam peserta LPM, Ahmadiyah Muslim Students Association (AMSA),  Ahmadiyah Muslim Students Association  Women (AMSAW) dan pemuda lintas iman yang berasal dari Kristen, Katolik dan Sunda Wiwitan di Kuningan, 14-16 Februari 2020.

Acara ini diikuti 50 orang peserta yang terbagi dalam peserta LPM, Ahmadiyah Muslim Students Association (AMSA),  Ahmadiyah Muslim Students Association  Women (AMSAW) dan pemuda lintas iman yang berasal dari Kristen, Katolik dan Sunda Wiwitan di Kuningan, 14-16 Februari 2020.

Penulis : Yuni Pulungan

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) adalah ruang bersama yang dibentuk kalangan jurnalis, aktivis dan penulis yang mendorong terciptanya masyarakat, dengan dukungan media massa, yang menghormati, melindungi dan mempertahankan keberagaman sebagai bagian dari pembelaan hak asasi manusia. Mei 2008 sekitar 30 jurnalis dari berbagai media dengan para aktivis HAM dan antar-iman, serta penulis isu kebebasan beragama, bertemu dan mendiskusikan tentang kekhawatiran meningkatnya konservatisme di kalangan jurnalis dan kecenderungan media massa yang menyudutkan kelompok minoritas bahkan korban diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Keyakinan pada peran strategis pers sebagai salah satu pilar demokrasi dan pengaruhnya yang luas terhadap publik meneguhkan kembali semangat kebersamaan di kalangan jurnalis dan masyarakat lainnya dalam pertemuan itu untuk mengkampanyekan pentingnya pemberitaan media dalam menghidupkan toleransi dan perdamaian, bukan sebaliknya. 1 Juni 2008, ketika massa yang terdiri dari FPI dan laskarnya menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang menggelar apel peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Monas, merupakan titik tolak bagi kalangan jurnalis mengembangkan jaringan kerja untuk kampanye jurnalisme keberagaman. Sebab, berbagai pemberitaan terkait “tragedi Monas” saat itu cenderung memojokkan AKKBB. Memberitakan dengan sentimen keyakinan jurnalis menjadi penyebab dasarnya, selain minimnya perspektif pluralisme dan HAM serta ketidaksetiaan jurnalis dan media pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Pembentukan SEJUK pun menjadi kebutuhan menghidupkan jurnalisme damai pada lingkup isu keberagaman (kebebasan beragama/berkeyakinan, etnis, keadilan gender dan orientasi seksual). Training jurnalis, in-house workshop, workshop untuk jurnalis kampus, media visit menghadirkan kelompok korban dan minoritas, diskusi media untuk memframing setiap isu keberagaman yang aktual atau mem-feeding-nya kepada jaringan jurnalis dan media, Diversity Award, Fellowship Liputan Keberagaman, monitoring media, dan penerbitan buku jurnalisme keberagaman merupakan kegiatan rutin SEJUK. Maraknya fake news dan fake information menjadi tantangan jurnalisme keberagaman untuk lebih menjangkau dan memanfaatkan media sosial agar menjadi ruang bersama yang mempromosikan dan menghargai kebinekaan. Strategic Planning SEJUK (Januari 2017) memfokuskan kerja-kerja jurnalisme keberagaman pada bagaimana media (mainstream dan media sosial) maupun korban atau penyintas dan kelompok minoritas secara efektif merespon hoax. Ini merupakan mandat forum diskusi terbatas bersama jaringan jurnalis senior dan beberapa pimpinan redaksi media nasional di Jakarta yang mengamanatkan SEJUK memanfaatkan media sosial. SEJUK kini mempunyai dua jaringan kerja yang aktif mempromosikan jurnalisme keberagaman di berbagai wilayah Indonesia. Pertama, jurnalis SEJUK yang menjangkau di banyak wilayah, salah satunya mendirikan SEJUK Kalbar. Kedua, pers mahasiswa yang di kampus menghadapi menguatnya gerakan radikalisme agama. Kedua jaringan kerja SEJUK bersama dengan kelompok korban, minoritas, akademisi, pejuang HAM kebebasan beragama dan berkeyakinan aktif memajukan jurnalisme yang menyuarakan hak-hak korban dan minoritas.

Load More Related Articles
Load More By Redaksi
Load More In Berita

Leave a Reply

Check Also

Unending Stigma against LGBTIQ during Covid-19 Period in Bandung

By Fanny Syariful Alam A local vlogger in Bandung, West Java, Indonesia, Ferdian Palekka i…